Deportasi Besar-besaran Pengungsi, Jerman Tidak Peduli

Pada 24 Oktober nanti merupakan suatu kesepakatan mengenai Paket Hak Suaka oleh pemerintah Jerman. Berarti pengungsi yang permohonan suakanya mengalami penolakan segera dideportasi secepatnya keluar Jerman. Kemudian, pemerintah akan mempercepat proses permohonan suaka. Dalam prosesnya Berlin akan menggunakan penggunaan pesawat militer Transall guna mengembalikan para pengugnsi ke negara asalnya, begitulah laporan media-media Jerman.

“Kami menghendaki pemohon suaka yang ditolak, dan tidak memiliki lagi klaim untuk berada di Jerman, dideportasi dengan lebih cepat dan lebih baik lagi, tahun ini juga“, tegas Peter Altmeier, Koordinator Nasional Masalah Pengungsi. Media melaporkan Jerman sedang dalam situasi darurat terpaksa untuk membaut aturan yang lebih tegas.

Deportasi besar-besaran rencana akan dilakukan pada pekan depan. Namun tindakan deportasi tidak mungkin diumumkan secara terbuka, karena nantinya sama saja memberi kesempatan kepada pengungsi untuk bersembunyi. Kebanyakan pengungsi yang diusir dimasukan kategori “pengungsi ekonomi“ yang datang dari kawasan bekas Yugoslavia.

Sementara itu, aksi kekerasan terhadap para pengungsi dan pemohon suaka di Jerman dilaporkan juga terus meningkat. Hingga bulan September silam tercatat lebih 500 serangan kekerasan bermotif rasisme, yang berarti kasusnya naik sekitar 50 persen dibanding tahun silam.

Disamping itu banyaknya pengungsi berdatangan ke Jerman memunculkan sentimen rasis. Terbukti adanya razia terhadap kelompok ekstrem kanan di kota Bamberg Kamis, 22 Oktober 2015, polisi berhasil menemukan beberapa bahan peledak. Polisi menduga kelompok neonazi itu akan melancarkan asksi pembakaran terhadap tempat penampungan pengungsi.

Kebijakan “Refugees Welcome” dari kanselir Angela Merkel justur menuai banyak krtikan dari masyarakat luas. Semakin berkembangnya rakyat awam mendukung gerakan kelompok radikal kanan yakni anti-warga asing dan anti-Islam seperti Pegida. Aksi demo Pegida di kota Dresden didukung lebih 20.000 warga. Padahal sebelumnya pamor gerakan ini mulai pudar, dan hanya ratusan orang yang mendukung aksi demo. (668)