Rusia Juga Berhak Melakukan Serangan untuk Membela Diri

gambar diambil dari; google

Roma, Selasa – Presiden Rusia Vladimir Putin, Selasa (4/11), di Roma, mengeluarkan peringatan bahwa Rusia juga sepenuhnya mempunyai hak untuk menggunakan serangan militer pre-emptive untuk membela kepentingan nasional. Penegasan itu disampaikan karena Amerika Serikat telah melaksanakan kebijakan tersebut antara lain di Irak, juga dengan dalih melindungi kepentingan nasional AS.

“Jika prinsip penggunaan kekuatan bersenjata dalam tindakan pre-emptive ini, praktiknya terus berkembang secara internasional, Rusia pun mempunyai hak untuk melakukan tindakan serupa dalam rangka melindungi kepentingan nasional kami,” tegas Presiden Vladimir Putin di Roma, Selasa kemarin.

Ungkapan Putin yang cukup keras itu dikeluarkan untuk melindungi program nuklir Rusia. Bulan Oktober lalu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Ivanov mengatakan, Rusia akan mengevaluasi kembali posisinya dalam hal nuklir jika Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tetap pada keputusan bersekutu militer dengan negara yang menganut doktrin “ofensif”.

“Semua negara yang memiliki kekuatan nuklir tetap mengembangkan potensi nuklir mereka. Karena itu, Rusia juga akan melakukan hal yang sama,” kata Putin dalam wawancara dengan wartawan Italia di sela-sela kunjungannya di Roma, seperti dikutip kantor berita Rusia Interfax.

Vladimir Putin menegaskan, program nuklir Rusia sama sekali tidak ditujukan untuk menyerang siapa pun, termasuk negara lain. “Kebijakan nuklir kami, seperti yang banyak ditentang itu, katakanlah di era Uni Soviet, sama sekali tidak ditujukan untuk menyerang siapa pun. Satu-satunya tujuan kami adalah untuk memperkuat sistem keamanan sendiri,” tegas Putin.

Akhir Oktober lalu, Putin mengatakan, Rusia masih akan menggantungkan kebutuhan pertahanan pada kekuatan nuklir selama beberapa dekade ke depan.

Kalimat itu seolah mengabaikan beberapa perjanjian perlucutan senjata Rusia yang ditandatangani bersama AS, tahun lalu.

Putin menegaskan, Rusia memiliki rudal balistik SS-19 Intercontinental yang belum pernah digunakan. Seluruh rudal balistik itu, lanjut Putin, tidak termasuk dalam daftar perjanjian perlucutan senjata nuklir dengan AS, karena itu masih bisa digunakan jika ada keperluan darurat atau mendesak.

Jaminan masa depan

Dikatakan, seluruh senjata itu merupakan kategori senjata yang sangat ampuh untuk menghancurkan potensi pertahanan rudal yang didukung sepenuhnya oleh AS. Ketika mengatakan kalimat itu, Putin dengan tegas menyebut pertahanan rudal yang didukung kuat oleh Presiden AS George Walker Bush.

“Roket-roket ini bisa dengan mudah menembus pertahanan rudal apa pun selama beberapa dekade ke depan,” tegas Putin.

Dikatakan, rudal balistik SS-19 itu bisa digunakan untuk masa 25 tahun ke depan. Seiring dengan itu, secara bertahap, SS-19 akan menggantikan berbagai rudal yang sudah dinonaktifkan.

“Untuk saat ini, kami akan mulai memproduksi senjata strategi senjata baru yang dijamin bisa digunakan sebagai sistem penggetar dalam strategi senjata nuklir,” kata Putin. Selasa kemarin, Putin bertolak ke Italia, menghadiri Pertemuan Puncak Rusia-Uni Eropa (UE).

Ungkapan keras itu disampaikan Putin sehari setelah menerima kunjungan PM Israel Ariel Sharon. Senin, Sharon secara khusus bertemu Putin, dalam kunjungan selama tiga hari di Moskwa. Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin sepakat mempererat kerja sama dalam masalah nuklir Iran.

Dalam kunjungannya ke Israel tahun 2002, Putin meyakinkan, Moskwa akan mengupayakan segala cara untuk mencegah ekspor teknologi ke Iran. Namun, di tahun 2003 ini, Rusia membantu Iran membangun reaktor nuklir di Busher. Pembangunan itu sepenuhnya menggunakan teknologi Rusia.

Keputusan Rusia itu memicu kritikan keras dari AS. Dalam setiap kesempatan, Presiden AS George Walker Bush menegaskan, Rusia perlu membujuk Iran untuk menghentikan program nuklir.

AS tidak hanya menekan Iran, melainkan juga Korut dan bahkan kini menjajah Irak. Korut membalas tekanan AS dengan menarik diri dari Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT). Adapun Iran bertahan untuk mengembangkan nuklir. Walau begitu, Iran melunak dengan menandatangani Protokol tambahan NPT yang mengizinkan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) memeriksa seluruh situs nuklir Iran.

Namun, sebaliknya, AS melindungi sepenuhnya Israel yang juga jelas-jelas menyimpan dan mengembangkan teknologi nuklir. Perlakuan tidak seimbang AS itu bisa jadi menjadi pemicu ungkapan keras Putin dalam hal nuklir. (AFP/AP/REUTERS/RIE)

Sumber url: http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=3135&coid=1&caid=53&gid=3