Mau Negeri ini Maju ? Bikin Harga Makanan Murah

Anak Sekolah Makan (Antara)

Dari mana memulai agar pertumbuhan ekonomi negeri ini kembali tinggi, ke kisaran 6 hingga 7 persen, yang kala itu Indonesia disebut “the new emerging force” di bidang ekonomi. Atau dengan kata lain, tidak terperosok atau jalan di tempat, ditinggalkan negara-negara lain di ASEAN.

Pertama pemerintah harus membuat harga makanan menjadi murah, sehingga para pekerja tidak menuntut kenaikan upah akibat tekanan hidup.

Buatlah harga makanan menjadi murah, misalnya seperti di Vietnam dan Thailand yang ekonomi kedua negeri tersebut sedang berkibar.

Bagaimana cara membuat harga makanan menjadi murah ?. Berangus para Mafia Makanan. Produk makanan, baik tepung, beras, daging, gula, garam, minyak dan sebagainya, tidak boleh dipegang segelintir orang, yang dengan leluasa memainkan harga.

Tidak boleh ada jatah-jatahan kuota impor, seperti kasus jatah kuota impor pada waktu lalu. Bila ada patgulipat antara importir dan pemerintah, maka di sinilah awal yang membuat harga makanan menjadi mahal.

Sekolah Murah
Bangun sebanyak mungkin sekolah, sehingga skill ( keahlian penduduk Indonesia meningkat). Dengan skill penduduk yang meningkat, maka sektor manufaktur bisa didorong lebih kencang. Dengan Skill yang meningkat, tingkat produktivitas, akan semakin besar.  (Catatan JKGR).

Ekonom Bank Dunia Ndiame Diop

RI Pernah Jadi Pabrik Manufaktur Terbesar

Metrotvnews.com, Jakarta: Ekonom Bank Dunia Ndiame Diop mendukung langkah Pemerintah Jokowi-JK yang ingin melakukan perbaikan dalam arah ekspor Indonesia ke depan dengan mengembangkan sektor manufaktur.

Pasalnya, selama ini Indonesia selalu tergantung dengan ekspor hasil sumber daya alam yakni komoditas di mana kini disebut-sebut era komoditas telah berakhir.

Menurut Ndiame, memang penting bagi Indonesia untuk memfokuskan pengembangan industri manufaktur agar menjadi pendorong perekonomian nasional. Dirinya pun tak ragu Indonesia bisa membangkitkan lagi gairah manufaktur seperti dahulu.

“Indonesia pernah menjadi pabrik manufaktur terbesar pada 1970-an,” katanya, di Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2015.

Oleh karena itu, lanjut dia, diperlukan kebijakan-kebijakan yang bisa menjadi stimulus bagi sektor manufaktur untuk bangkit. Pemerintah harus memberikan insentif bagi siapa saja yang berupaya untuk mendorong pertumbuhan sektor manufaktur.

“Kita dukung investasi di sektor ini,” pungkasnya.

 

ilustrasi tol di atas laut Jakarta- Surabaya

Indonesia: Infrastruktur dan Pembangunan

Salah satu faktor yang membuat perjalanan ekonomi Indonesia tertatih-tatih dan kerap mengalami kemerosotan adalah ketersediaan infrastruktur. Menurut kajian McKinsey, nilai stok infrastruktur yang memadai rata-rata sekitar 70 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Jika mengacu pada kajian itu, ketersediaan infrastruktur di Indonesia jauh dari memadai, yaitu hanya 30 persen.

 

Keterbatasan infrastruktur menimbulkan konsekuensi yang serius. Pertama, pola pertumbuhan tidak mengikuti pola normal. Sektor penghasil barang (pertanian, pertambangan, dan industri manufaktur) tidak bisa berkembang secara optimal karena lebih sensitif terhadap ketersediaan infrastruktur ketimbang sektor jasa. Padahal, sebagian besar penduduk di negara berkembang bertumpu pada sektor penghasil barang (tradables).

Lebih khusus lagi, perkembangan industri manufaktur bakal tersendat. Peranannya terhadap PDB turun sebelum mencapai titik optimal, sebelum tuntas di tahapan industrialized. Dengan kata lain, terjadi gejala deindustrialisasi.

Daya saing perekonomian tidak kunjung membaik karena pengusaha yang hendak membangun pabrik harus menanggung ongkos tetap (fixed cost) yang lebih tinggi. Mereka harus membangun pembangkit listrik sendiri (captive power) karena listrik belum menjangkau lokas pabrik. Industri terkonsentrasi di Jawa atau lebih khusus lagi Jabodtabek yang listriknya berkecukupan. Kalaupun harus memiliki pembangkit sendiri, tujuannya untuk cadangan karena masalah keandalan. Juga harus membangun pelabuhan dan jalan sendiri.  Padahal infrastruktur dasar itu sepatutnya disediakan oleh negara.  Faisalbasri01.wordpress.com

 

Catatan JKGR:
Bagaiama mungkin negeri ini telah merdeka selama 70 tahun, belum juga punya highway yang menghubungkan Jakarta – Surabaya. Bagaimana mungkin, negeri ini yang sudah mereka selama 70 tahun, tidak memiliki highway yang menghubungkan Aceh ke Lampung,  Begitu pula pulau-pulau lain.