Kanada Tarik Pesawat Tempur dari Suriah dan Irak

Operasi militer melawan ISIS di Irak dan Suriah diikuti sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.

Perdana Menteri Kanada yang baru terpilih, Justin Trudeau, memastikan bahwa dia akan menarik mundur armada pesawat tempur dari operasi militer melawan kelompok milisi ISIS di Irak dan Suriah.

Keputusan Trudeau itu disampaikan kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama beberapa jam setelah memimpin Partai Liberal memenangi pemilihan umum.

“Saya berkomitmen untuk terus terlibat dalam cara yang bertanggung jawab dalam memahami betapa penting peran Kanada pada peperangan melawan ISIS. Namun, dia (Barack Obama) memahami komitmen yang saya buat terkait mengakhiri misi,” kata Trudeau kepada wartawan di Ottawa, (20/10/2015) waktu setempat.

Meski menarik armada jet tempur, Trudeau mengatakan akan mempertahankan keberadaan sejumlah pelatih militer Kanada di bagian utara Irak, seperti dilaporkan kantor berita AFP.

Trudeau juga berikrar untuk menampung 25.000 pengungsi asal Suriah pada akhir tahun. Langkah tersebut sebelumnya ditolak perdana menteri sebelumnya, Stephen Harper.

Justin Trudeau

Sebagai bagian dari janji kampanye pemilu, Trudeau berjanji untuk memulangkan pesawat-pesawat tempur F-18 yang ditempatkan di Timur Tengah. Semula, armada pesawat itu disediakan untuk operasi militer melawan ISIS sampai Maret 2016.

Operasi itu dipimpin Amerika Serikat dan diikuti Inggris, Australia, Uni Emirat Arab, Kanada, dan Prancis.

Partai Liberal pimpinan Trudeau memenangi pemilu Kanada, pada Senin (19/10) lalu, sekaligus mengakhiri kekuasaan Partai Konservatif di bawah Stephen Harper.

Trudeau ialah mantan guru sekolah menengah atas dan anak sulung mendiang Perdana Menteri Kanada Pierre Trudeau.

bbc.com/indonesia