Radar AESA, Penentu Kemenangan Pertempuran Udara Modern

Setelah bertahun-tahun menolak pesawat tempur ringan (LCA) Tejas, Angkatan Udara India (IAF) akhirnya mau menerimanya untuk dijadikan pesawat tempur ringan modern kelas dunia.

Spesifikasi dari pesawat tempur Tejas terbaru – disebut Standard of Preparation-2018 (SoP-18) akhirnya disepakati di New Delhi pada 23 September, antara pihak Angkatan Udara India, desainer dan produsen Tejas.

Inti kekuatan utama dari Tejas SoP-18 adalah Radar Active Electronically Scanned Array (AESA) yang akan dikembangkan bersama antara Israel dan India.

Hal inilah yang membuat IAF akhirnya setuju untuk membeli 100 pesawat tempur Tejas SoP-18 dari Hindustan Aeronautics Ltd (HAL), selain 20 pesawat Tejas Mark I yang sudah lama mereka pesan.

HAL juga akan melengkapi Tejas SoP-18 dengan probe pengisian bahan bakar udara, sebuah ” self-protection jammer” (SPJ) yang ditempatkan di bawah sayap pesawat.

Namun, radar AESA lah yang akhirnya meyakinkan perhatian IAF. Belum ada pesawat tempur India yang memiliki kemampuan radar AESA ini, termasuk juga pesawat tempur milik Pakistan dan Cina.

Radar AESA memiliki kelebihan penting dibandingkan radar konvensional dengan putaran manual. Antena radar “manually steered” berputar secara manual untuk membiaskan sinar radar memindai langit untuk melacak pergerakan pesawat musuh.

Sementara pada radar AESA, tabung radar berputar secara elektronik, beralih pada beberapa sasaran begitu cepat sehingga sangat efektif memindai target berbeda secara bersamaan, bahkan ketika target berada berjauhan, di udara, di laut, dan darat.

Dengan beralihnya tabung radar dengan sangat cepat, “multi-tasking” radar AESA secara bersamaan dapat melacak pesawat musuh dan memandu rudal ke targetnya, dan men-jammer sistem komunikasi dan sistem radar musuh.

Dalam pertempuran udara modern, radar AESA akan menjadi perbedaan utama antara kekalahan dan kemenangan.