Menjadi Guru Juga Wujud Bela Negara

Lunturnya wawasan kebangsaan yang ada ditengah-tengah masyarakat Indonesia menjadi alasan Kementerian Pertahanan Ryamizard Ryacudu untuk membentuk 100 juta kader Pembina Bela Negara diseluruh Indonesia. Harapannya 100 juta kader yang tersebar diseluruh Indonesia tersebut sewaktu-waktu dapat bertugas untuk melakukan pertahanan negara dikala negara sedang mendapat ancaman baik nyata maupun belum nyata.

Alasan lainnya juga dilontarkan oleh anggota Komisi Pertahanan DPR Mayjen TNI (Purn) Supiadin Aries Saputra. Menurutnya bela negara ini bersifat positif, tujuannya adalah agar tercipta sebuah masyarakat yang memiliki rasa patriotisme, cinta Tanah Air, dan latihan baris berbaris.

Jika menyimak sekilas konsep bela negara yang dipaparkan diatas, ada kesan bahwa program ini tidak jauh dari hal-hal yang bersifat militer. Meskipun ada sebagian orang yang berpendapat bahwa konsep bela negara berbeda dengan program wajib militer yang telah dilakukan oleh beberapa negara seperti Korut, Korsel, Prancis, Malaysia (PLKN), Singapura dan lain sebagainya.

Kalau memang yang di maksud bela negara adalah mengacu pada kekhawatiran akan lunturnya wawasan kebangsaan yang dikatakan oleh Kemenhan di atas, saya rasa profesi seorang guru juga merupakan salah satu wujud partisipasi masyarakat yang telah ikut andil dalam bela negara. Karena jika diperhatikan, seorang guru tidak hanya mengajarkan mata pelajaran secara formal, namun ia juga mengajarkan cara pandang yang dilandasi akan kesadaran diri sebagai warga dari suatu negara dan lingkungannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selain itu untuk menumbuhkan rasa patriotisme dan cinta tanah air, di setiap sekolah yang ada diseluruh penjuru Indonesia juga melakukan upacara bendera tiap hari Senin disertai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hal ini berarti, ada atau tidak adanya program bela negara pada dasarnya seorang guru sudah melakukan usaha bela negara kepada generasi muda agar menjadi seorang generasi yang peduli terhadap tanah air dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai pancasila yang sarat akan wawasan kebangsaan.

Oleh sebab itu, daripada menghabiskan biaya untuk melakukan pelatihan bela negara ala militer, bukankah sebaiknya pemerintah memberikan gaji yang memadai kepada para guru terutama guru honorer yang sampai saat ini hanya mendapatkan penghasilan sebesar Rp. 200 ribu hingga Rp. 300 ribu per bulan. Karena atas kerja keras mereka (red: guru), para generasi Indonesia menjadi mengerti tentang makna cinta tanah air, nusantara, kebhinekaan, dan akhirnya para generasi kita masih tetap berseru Hiduplah Indonesia Raya!!

Oleh :
Imron Mahrus (Pemerhati Sosial)
Alamat: Kp. Kebon Kelapa, Kabupaten Tangerang