Ingin Menyalip di Tikungan : India Menawarkan Tejas Ke Srilanka

LCA Tejas2

India akan menawarkan pesawat tempur ringan LCA Tejas ke Srilanka dan akan bersaing dengan JF-17 Thunder atau FC-1 Xiaolong, pesawat tempur yang dikembangkan bersama oleh China dan Pakistan, ungkap pejabat senior dari Colombo, kepada Sunday Observer pada 25 Oktober.

Marsekal Gagan Bulathsinghala, komandan Angkatan Udara Srilanka, akan mengunjungi Pakistan bulan depan untuk mempelajari lebih lanjut tentang Thunder. Srilanka ingin membeli jet tempur supersonik baru untuk memperkuat pertahanan udaranya. Namun, para pejabat angkatan udara mengatakan kunjungan Bulathsinghala ke Pakistan hanya kunjungan resmi rutin. Srilanka sampai saat ini belum membuat keputusan akhir tentang pembelian pesawat tempur dari Pakistan.

Pakistan dan Myanmar adalah dua pengguna dari JF-17, yang dikembangkan bersama oleh Pakistan Aeronautical Complex dan China’s Chengdu Aircraft Industry Group. Sejak China tidak menginginkan JF-17 mengisi kekuatan Angkatan Udara PLA, Pakistan yang bertanggung jawab untuk membuka pasar ekspor untuk pesawat tempur ini.

Srilanka tidak menghadapi ancaman udara langsung dari salah satu tetangganya, menyebabkan opini publik di negara itu untuk mempertanyakan apakah pembelian pesawat tempur diperlukan.
Namun, para pejabat dari Angkatan Udara Sri Lanka menekankan kebutuhan jet tempur canggih untuk menangani berbagai ancaman yang mungkin akan dihadapi.

Sementara Pakistan berusaha untuk mempromosikan penjualan Thunder ke Sri Lanka, India menawarkan pesawat tempur ringan yang dikenal sebagai Tejas, yang dikembangkan oleh Hindustan Aeronautics.

Thunder saat ini sudah memasuki layanan Angkatan Udara Pakistan, sedangkan Tejas masih menjalani uji coba di India. Perdana Menteri Narendra Modi telah menekankan Tejas harus menjadi pesawat tempur yang dikembangkan dan diproduksi secara lokal, meskipun masih menggunakan mesin buatan Inggris,

Sunday Observer mencatat, Tejas suatu saat akan menjadi saingan bagi Thunder dalam kemampuan tempur.

Wantchinatimes