Perayaan Sumpah Pemuda

Bulan Oktober merupakan bulan penuh bersejarah bagi Indonesia dimana kita akan memperingati tiga peristiwa penting dalam sejarah bangsa. Pertama, Pancasila, sebagai pedoman negara sudah bertahan lama sejak berdirinya negara ini, menegaskan kembali akan “kesaktiannya” pada tanggal 1 Oktober 1965. Sementara itu berkaitan dengan sejarah berdirinya Tentara Nasional Indonesia atau dulu dikenal sebagai ABRI, setiap tahunnya memperingati tanggal 5 Oktober.

Terakhir peristiwa sangat penting dalam kepemudaan Indonesia, khususnya bagi pergerakan, ialah Sumpah Pemuda, jatuh pada tanggal 28 Oktober. Terkadang kita tidak hanya mengartikan Sumpah Pemuda sebagai peringatan atau hari jadi untuk mengenang perjuangan Indonesia terhadap bangsa penjajah pada 1928. Melainkan terdapat makna penting yang jarang sekali diperhatikan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Kongres pemuda dilaksanakan pada 28 Oktober 1928, kaum pemuda sebagai represenetasi bangsa Indoensia mendeklarasikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Masyarakat Indonesia kurang lebih terdiri 546 bahasa daerah ditambah dengan berbagai budaya dan suku bangsa. Akan tetapi realitas yang ada generasi muda saat ini melupakan nilai penting kebudayaan Indonesia. Bahkan sebagian besar mulai melupakan bahasa daerah sebagai jati diri bangsanya. Padahal, peringatan Hari Sumpah Pemuda sering kali diartikan sebagai momen integrasi nasional karena bahasa Indonesia sebagai “bahasa pemersatu bangsa”.

Mengingat Sumpah Pemuda sebagai alat pemersatu yang menjaga keberagaman sejak kemerdekaan negara ini tidak ada salahnya jika para pemuda Indonesia mengingat kembali arti penting Sumpah Pemuda sebagai momen pemersatu Tanah Air, bangsa, dan melalui bahasa Indonesia.

Dalam tingkatan pemerintah untuk merayakan hari bersejarah ini, Kemenpora, Imam Nahrawi memimpin upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-87 di halaman Gedung Daerah Tanjungpinang Kepulauan Riau, pada Rabu 28 Oktober 2015. Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-87 ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga Mengangkat Tema “Revolusi Mental Untuk Kebangkitan Pemuda menuju Aksi Satu Bumi”. Imam Nahrawi menekankan revolusi mental dikontekskan peduli terhadap alam, khusunya menghadapi bencana asap yang sampai hari ini masih berlangsung.

Tema ini dipilih karena adanya keprihatian mendalam terhadap permasalahan Indonesia. Pertama fenomena baru tentang berubahnya pola relasi kemasyarakatan kita akibat arus modernisasi dan kemajuan teknologi informasi. Kedua, berkaitan dengan fenomena pemanfaatan Sumber Daya Alam tidak sesuai dengan konsep pembangunan berkelanjutan. (668)