Walau Ada Pemotongan, Anggaran Militer Malaysia Tetap I,5% PDB

Malaysia telah memotong anggaran pertahanan lebih dari 2% untuk tahun anggaran 2016, dibayangi keterbatasan anggaran yang dikhawatirkan dapat merusak rencana pengeluaran pertahanan negara, Hal ini terungkap dalam pidato tahunan Perdana Menteri Najib Razak yang disampaikan pada 23 Oktober lalu.

Para Pejabat pertahanan Malaysia telah berulang kali menyerukan penguatan kemampuan maritim dan udara untuk menghadapi meningkatnya ancaman mulai dari pembajakan, terorisme dan ketegasan Cina di Laut Cina Selatan.

Pada pidato anggaran tahunan yang disampaikan Najib pada hari Jumat, alokasi anggaran pertahanan hanya 17,3 miliar ringgit ($ 4 milyar), turun 2,25% dibandingkan dengan 17,7 milyar ringgit pada tahun 2015. Anggaran pertahanan 2015, sebaliknya merupakan peningkatan 10% dibandingkan tahun anggaran 2014.

Penurunan ini tidak mengejutkan. Pidato anggaran Najib datang di tengah kekhawatiran parah negara ekonomi terbesar ketiga di Asia Tenggara itu. Pertumbuhan ekonomi Malaysia yang lesu tahun ini karena penurunan harga komoditas, ringgit yang melemah, dan skandal dana investasi negara yang melibatkan Najib sendiri, diperkirakan akan melambat menjadi hanya 4% – 5% pada 2016.

Nasib politik Najib sendiri masih dipertanyakan, dengan mosi tidak percaya yang diajukan oleh oposisi di parlemen (meskipun tidak mungkin berhasil).

Walaupun ada pemotongan, anggaran belanja pertahanan Malaysia tetap 1,5% dari PDB. Selanjutnya, Najib menekankan dalam pidatonya bahwa pemerintah tetap pada rencana pengadaan alutsista, termasuk akuisisi enam kapal kapal perang pesisir dan sistem pertahanan udara yang tidak akan terpengaruh oleh pemotongan anggaran.

Namun masih muncul kekhawatiran akan kemampuan Malaysia dalam menghadapi berbagai ancaman keamanan negara, termasuk pembajakan, penyelundupan, penculikan, terorisme, illegal fishing, dan pelanggaran batas tetangganya seperti Indonesia dan Filipina.

TheDiplomat