A-10 Warthog, Si Pelumat Tank Yang Tak Tergantikan

A-10 Thunderbolt II (foto : internet)

Pesawat tempur A-10 Thunderbolt II yang beroperasi dari pangkalan udara Incirlik di Turki disiapkan untuk memberikan dukungan udara untuk gerilyawan Arab-Suriah yang didukung AS untuk merebut sebuah kota di barat laut Suriah dari Islamic State, ungkap juru bicara militer AS pada Rabu kemarin.

A-10 bergabung dengan AC-130 Spectre untuk membersihkan jalan bagi kelompok dukungan AS yang dikenal sebagai Syrian Arab Coalition untuk mengambil kota al-Hawl dan 250 kilometer persegi daerah sekitarnya.

Walau berkecepatan lambat, A-10 dilengkapi gutling gun tujuh laras 30 mm GAU-8 / A dan mampu mengangkut beragam persenjataan hingga seberat 7 ton lebih yang diletakkan pada delapan hardpoint di bawah sayap dan tiga di bawah pesawat, termasuk bom Mk-84, bom cluster pembakar, AGM-65 Maverick dan rudal udara ke udara AIM-9 Sidewinder.

Thunderbolt II dilengkapi Night Vision Imaging Systems atau NVIS, dan kanopi gelembung besar yang menyediakan pandangan luas bagi pilot.

Kokpit pilot dilindungi oleh lapisan besi titanium yang juga melindungi sistem kontrol penerbangan. A-10 juga kebal dari tembakan amunisi armor piercing dan proyektil peledak tinggi hingga kaliber 23 mm. Lapisan bahan bakar dilindungi oleh busa internal dan eksternal (yang mampu menutup kebocoran bahan bakar secara otomatis). Sistem cadangan penerbangan manual dan kontrol hidrolik cadangan yang memungkinkan pilot untuk terbang dan mendaratkan pesawat walau kehilangan tenaga hidrolik.

A-10 mulai terbang pada tahun 1976 dengan total 713 pesawat yang sudah diproduksi. Produksi A-10 sudah berakhir pada tahun 1984. Walau sudah tua tetapi Warthog masih dianggap oleh banyak pihak sebagai pesawat penyerang dukungan udara jarak dekat yang terbaik.

Selama bertahun-tahun, Amerika telah mencoba untuk mempensiunkan A-10 tapi Kongres terus mencegah dan membatalkannya melalui Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional tahun ini.