Cerita Lucu Di Pertempuran Surabaya

ANCAMAN dan ultimatum pihak Sekutu yang disampaikan Komandan Tentara Sekutu, Jenderal EC Mansergh hari Jumat, 9 November 1945, benar-benar dilaksanakan, Sabtu pagi, 10 November 1945. Seluruh kekuatan angkatan perangnya, baik darat, laut dan udara dikerahkan menggempur pertahanan Arek Suroboyo di Kota Surabaya.

Walaupun terjadi pertempuran yang tidak berimbang, perlawanan dari pejuang Indonesia tidak pernah surut. Berbagai kesatuan pejuang dan laskar yang sudah membuat  “Sumpah Kebulatan Tekad” tanggal 9 November 1945, malamnya, pada pagi hari 10 November itu sudah siaga di segala lini pertahanan.

PEJUANG dalam pertempuran Surabaya pada November 1945 menggunakan senjata dari hasil melucuti tentara Jepang. Peresenjataan itu terdiri dari 19.000 senapan, 846 pistol otomatis, 700 senapan mesin ringan, 504 senapan mesin sedang, 148 pelempar granat, 17 meriam infanteri, 63 mortir, 400 mortir baru, 15 meriam antitank, 16 tank, 62 panser, dan hampir 2.000 kendaraan bermotor.

Ruslan Abdulgani (1914-2005) yang berada di Surabaya ketika pertempuran berlangsung, menyebutkan jenis senjata tersebut, yaitu karaben Arisaka, senapan standar tentara Jepang. Senapan yang pendek berkaliber 6,5 dan 7,7 serta senapan mesin ringan jenis Keiki Kanju kaliber 6,5.

Dari gudang-gudang senjata Jepang terdapat senjata berasal dari Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL), Inggris dan Australia, seperti karaben jenis Steyer, Exthone, Lee & Field, dan Johnson. “Semua jatuh ke tangan pejuang yang sebenarnya sama sekali belum menguasai peralatan itu,” kata Ruslan dalam Kebangkitan Jiwa Keprajuritan Nasional.

Ruslan masih ingat kejadian lucu, ketika sebuah tank merangsek ke kantor Kempeitai (polisi rahasia Jepang) di Jalan Gunung Sahari Surabaya, sementara dari luar orang berteriak “maju…tembak…”.

“Tetapi, tidak ada yang menembak, bahkan tank itu akhirnya mundur lagi. Alasannya, peluru yang dibawa keliru,” kata Ruslan.