Indonesia Butuh Satelit Pertahanan (3)

Jika dilihat dari kebutuhan pertahanan nasional, satelit yang dibutuhkan tidaklah harus memiliki transponder sebanyak satelit komersial. TNI membutuhkan hanya sekitar 10 transponder, sedangkan Palapa D memiliki 40 Transponder.

Sedangkan untuk orbitnya, terdapat beberapa pilihan:

  1. LEO (Low Earth Orbit) yang memiliki ketinggian sekitar 600Km
  2. MEO (Middle Earth Orbit) yang memiliki ketinggian sekitar 5000Km
  3. Geo (Geostasioner) yang memiliki ketinggian sekitar 36000Km

Dari ketiga nya, orbit GEO lah yang paling menguntungkan, apalagi posisi Indonesia yang berada tepat di khatulistiwa mendukung untuk itu. Dengan menggunakan orbit GEO, maka satelit akan berputar sama dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan rotasi bumi, dengan begitu dapat dikatakan posisinya tetap. Dengan begitu perangkat-perangkat yang ada di darat akan terkoneksi 24 jam sehari, tanpa terkendala tidak adanya satelit yang berada diatas Indonesia. Beda dengan orbit lain yang kecepatannya lebih cepat dari kecepatan rotasi bumi.  Sehingga perlu beberapa satelit agar setidaknya ada satelit yang berada di atas Indonesia.

Kekurangan dari satelit dengan orbit GEO adalah orbitnya yang padat, sehingga menjadi rebutan sejumlah negara dan biaya yang cukup mahal, satelit Palapa D milik Indosat misalnya, menghabiskan biaya 200 juta dolar. Itu baru biaya untuk satelit dan peluncurannnya saja, belum termasuk stasiun bumi, instalasi perangkat di Alutsista TNI, dan lainnya  yang harus dihitung ketika kita mengoperasikan sendiri satelit militer.  Sedangkan jika kita menggunakan orbit LEO dan MEO, memang biaya nya akan lebih murah, untuk orbit LEO misalnya, dibutuhkan kira-kira 20 Milyar Rupiah untuk satelit dan peluncurannya, namun paling tidak dibutuhkan 20 satelit yang membentuk suatu konstelasi, hal ini karena kecepatan satelit dalam mengelilingi bumi lebih cepat dari kecepatan rotasi bumi, sehingga dibutuhkan banyak satelit agar setidaknya ada 1-2 satelit yang standby beroperasi di atas Indonesia. Dengan begitu maka koneksi ke darat tidak terputus.

Kelemahan lain dari satelit yang beroperasi di orbit LEO dan MEO adalah umurnya yang tidak sepanjang satelit di orbit GEO. Karena satelit yang berada di orbit LEO dan MEO umumnya lebih kecil dibandingkan dengan satelit yang berada di orbit GEO, maka kapasitas baterai/bahan bakar pun lebih kecil, yang berimbas pada umurnya yang lebih pendek.  Jika satelit orbit GEO seperti satelit Palapa D dirancang dapat beroperasi 15 tahun, maka satelit-satelit yang memiliki orbit LEO dan MEO umumnya dirancang hanya memiliki umur 2-4 tahun. Dengan begitu, maka perlu penggantian satelit tiap periode tertentu yang lebih cepat dibandingkan periode penggantian satelit di orbit GEO.

Kemudian dari aspek lainnya, satelit yang nantinya dimiliki TNI harus bisa menjembatani segala macam bentuk device/perangkat yang ada. Dari mulai Markas Besar hingga pasukan di lapangan. Jika perangkat yang ada di Markas Besar maupun di Alutsista seperti KRI maupun Pesawat Tempur umumnya berbentuk besar dan kompleks, lain halnya pasukan yang berada dilapangan/darat. Mereka umumnya menggunakan peralatan komunikasi yang ringkas dan mobile. Padahal satelit di orbit GEO umumnya harus memiliki terminal yang berukuran besar.

Oleh sebab itu, satelit pertahanan yang dimiliki TNI hendaknya memiliki kemampuan untuk berhubungan dengan perangkat yang kompleks yang terdapat di KRI/Markas/Pesawat maupun perangkat komunikasi mobile yang dibawa pasukan di lapangan.  Teknologi semacam ini sebelumnya bukanlah teknologi baru, ada beberapa satelit yang memiliki kemampuan ini, seperti satelit AceS atau yang memiliki nama lain satelit Garuda-1. Satelit ini memiliki kemampuan dapat berhubungan dengan terminal berbentuk Handphone.  Namun satelit dengan teknologi ini juga memiliki kelemahan, yaitu karena memiliki antena yang besar, maka amat riskan terhadap gangguan/kerusakan yang terjadi ketika sudah berada di orbit. Namun jangan sampai teknologi satelit militer kita ketinggalan zaman. (bersambung)