LAPAN Mampu Buat Satelit Pertahanan? (4)

Mari kita menengok ke belakang ke tahun 1970-an. Indonesia mengoperasikan satelit pertama kalinya, yaitu pada tahun 1976. Saat itu satelit yang dinamakan Satelit Palapa, berfungsi sebagai satelit komunikasi.  Menjadikan suatu obyek vital bagi sistem komunikasi Indonesia yang wilayah terpisah-pisah oleh lautan. Sampai saat ini, sudah sebanyak 14 satelit Palapa yang diluncurkan. Yang terakhir adalah Palapa D yang diluncurkan tahun 2009 lalu untuk menggantikan Palapa C2.  Satelit Palapa dikendalikan oleh stasiun bumi di Jatiluhur, Jawa Barat. Satelit Palapa dioperasikan oleh PT. Indosat Tbk. Selain satelit Palapa, terdapat satelit Telkom yang salah satu transpondernya disewa TNI, dioperasikan PT Telkom.

Satelit Indonesia lainnya yaitu Lapan-TUBSat, satelit mikro yang dibuat berdasarkan kerja sama antara Lapan (Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional) dan TU (Technische Universität) Berlin. Satelit ini diluncurkan pada tahun 2007.  Fungsi satelit adalah sebagai alat pemantauan dengan bawaan (payload) 2 buah kamera. Memang kamera yang dibawa belum beresolusi tinggi, tapi sudah cukup baik untuk pemantauan permukaan bumi. Satelit buatan Indonesia berikutnya adalah Lapan A-2. Satelit ini dikembangkan dari pengalaman yang Lapan dapatkan ketika membuat satelit Lapan-TUBSat bersama TU Berlin. Satelit ini murni dibuat di Indonesia, meskipun banyak komponen-komponen didalamnya masih impor.  Satelit ini memiliki muatan kamera yang kemampuannya setingkat lebih maju dibandingkan kamera yang ada dalam satelit Lapan-TUBSat, sehingga diharapkan hasil pemantauan permukaan bumi yang didapat lebih baik dibandingkan pendahulunya. Muatan lainnya yaitu AIS (Automatic Identification System), perangkat ini adalah alat pendeteksi kapal di lautan.

Ilustrasi
LAPAN Mampu Buat Satelit Pertahanan? (4) 1

Alat ini akan terhubung dengan pemancarnya yang ada di kapal-kapal besar (yang memiliki bobot lebih dari 300 ton dan merupakan keharusan internasional). AIS dapat mendeteksi hingga 2000 kapal dalam wilayah yang memiliki radius 100km. AIS bukanlah radar, ia tidak bisa mendeteksi kapal jika kapal tersebut tidak memiliki atau tidak mengaktifkan pemancarnya. Satelit-satelit yang dibuat Lapan masih berukuran Mikro yang memiliki bobot kurang dari 100kg, masih jauh dibandingkan satelit Palapa yang memiliki bobot diatas 3000Kg. Lagi-lagi sayangnya, ini masih jauh dari kebutuhan satelit pertahanan.

Selain oleh Lapan, pengembangan satelit secara mandiri di Indonesia juga dilakukan oleh gabungan beberapa Universitas di Indonesia yang tergabung dalam proyek bernama IiNUSAT (Indonesian Inter-University Satellite).  Universitas yang terlibat yaitu UGM Yogyakarta,UI, ITS Surabaya, ITB Bandung, IT Telkom Bandung, dan PENS Surabaya. Selain Universitas yang sudah disebutkan, Lapan juga ikut terlibat dalam pengembangan proyek ini. Proyek ini dibiayai oleh DIKTI, Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan (Kemendikbud). Langkah awal dari program ini adalah membuat sebuah Nano-Satellite dengan berat 15 Kg.

Ilustrasi
LAPAN Mampu Buat Satelit Pertahanan? (4) 2

Misi dari Nano-Satellite adalah sebagai alat komunikasi darurat ketika terjadi bencana. Pengerjaannya sendiri dibagi-bagi tiap universitas, ada yang mengerjakan muatannya (Payload), komunikasinya, sistem kontrol nya, dan lain-lainya. Diharapkan Nano-Satellite ini dapat diluncurkan sekitar tahun 2013-2014 dengan menggunakan roket PSLV milik India. Kemudian langkah selanjutnya adalah diharapkan setiap universitas dapat meluncurkan satelit-satelitnya sendiri, yang mana nantinya akan membentuk sebuah konstelasi satelit universitas-universitas Indonesia. (habis)

Leave a Comment