Perbandingan Pesawat Angkut Pendukung TNI AU dengan RAAF Australia

Pasukan Australia bersiap melakukan terjun payung dengan C-17 Globemaster (by 36 Squadron, RAAF BASE AMBERLEY)

Perang bukan bicara soal pesawat tempur saja yang sekali tembak, beres urusan, tapi juga perlu pendukung udara baik untuk tranport, isi ulang bahan bakar (refueling), AWACS (pengintaian dini), ECM (eletronick warfare) dan patroli.

Sebagai perbandingan AU Australia (RAAF) bisa menuju class dunia, karena memiliki alutsita pendukung :

1). 8 Globemaster C17 merupakan angkut menengah yang sering dipakai oleh USAF AS dalam mendukung operasi militer, selain Super Hercules dan C5 Galaxi.
2). 8 Poisedon untuk mengantikan pc3 Orion sangat canggih untuk patroli maritim
3). Airbus sudah diakusisi 5 dengan tambahan 2 order, jadi total ada 7 pesawat
4). C27 Spartan dengan jumlah 10 unit(mungkin ini setara dengan C295)
5). Hercules C130j sudah lama diakusisi oleh RAAF Australia
6). E7 Wedgetail berjumlah 6 pesawat(AWACS)

Dibanding dengan TNI AU:

1). Dari 24 Hercules tipe lama dan hibah Hercules tipe H dari Australia, yang aktif, kurang lebih tidak sampai 1 skadron angkut.
2). Dari 2 Hercules tipe refuiling bahan bakar, cuma tinggal 1 (1 terbakar di Medan)
3). 16 Unit CN235
4). Dengan diakusisinya 8 pesawat CN295 dengan berapa tipe (angkut, patrol maritim, awacs), khusus angkut menengah Indonesia sangat kekurangan untuk pesawat transport dan lain lain.

(itu ada berapa pesawat tranport tidak disebutkan dari kedua pihak AU)

Dengan perbandingan itu sudah bisa dilihat sangat jomplang pendukung pesawat-pesawat TNI AU untuk mendukung operasi dalam jangka menengah dan panjang. Sistem pendukung ini sangat menolong jika bicara masalah perang atau operasi pesawat tempur.

Dari situ kelihatan kekuatan TN AU kita untuk mendukung operasi maritim dan udara, jauh dari memadai. Kekuatan air power TNI AU sangat tidak memadai untuk negara kepulauan seperti Indonesia. Mungkin karena setiap hendak membeli pesawat apapun jenisnya, ada kendala dana, porsi ToT atau apalah. Yang jelas, kita masih kekurangan sejumlah pesawat, untuk membangun kekuatan udara selain pesawat tempur TNI AU.

Sumber (Hi Janes, Wikipidia, Comando,RAAF)

Belum terlambat untuk membenahi alussita pendukung ini, Si Vis Pacem Para Bellum (Kalau mau damai harus siap perang)

Maaf kalo ada kata-kata salah

Salam damai selalu dari Bukeksiansu :D