Lawan Rusia, ISIS Ajak Al Qaida Bersekutu

Islamic State ajak Al Qaida di Suriah lancarkan serangan bersama terhadap Rusia yang makin intensifkan gempuran udaranya. Saat ini Suriah didukung Iran dan Hisbullah dari Libanon siap lancarkan gempuran ke Aleppo. Dua kelompok teroris bersekutu melawan Rusia.

Islamic State (ISIS) yang kini merasa terancam akibat serangan udara intensif Rusia ke posisinya, mengajak Front al Nusra, sebuah cabang Al Qaida di Suriah yang selama ini jadi musuhnya, untuk bersama “berjihad” lawan Rusia. Disebut-sebut serangan roket ke kedutaan Rusia di Damaskus adalah permulaan perang melawan Rusia. Moskow mengkonfirmasi bahwa kedutaannya di Damaskus diserang roket, tapi menegaskan tidak ada korban jiwa.

ilustrasi serangan udara

Senada dengan ancaman ISIS, afiliasi Al Qaida di Suriah, Front al Nusra juga mengancam Moskow dan mengatakan siap laan Rusia terkait serangan udara yang mereka lancarkan terutama menarget kelompok pemberontak anti Al Assad di utara Suriah. Baik ISIS maupun Al Qaida punya target sama menumbangkan rezim Bashar al Assad, tapi juga terlibat persaingan maut memperebutkan dominasi sebagai “jihadis” sebutan mereka sendiri bagi kelompok ekstrimis di Suriah, di kawasan konflik.

Rusia melaporkan rangkaian serangan udaranya ke tposisi ekstrimis di Suriah dalam 24 jam terakhir berhasil menghancurkan 86 target milik teroris termasuk gudang senjata ISIS. Rusia terutama menggempur kawasan sekitar Hama, Latakia dan Idlib yang jadi kubu pemberontak anti Assad yang sebagian didukung aliansi barat. Juga dilaporkan pasukan darat Suriah didukung milisi Syiah Hisbullah dari Libanon mengkonsentrasikan kekuatan di posisi strategis Sahl al Ghab di persilangan tiga provinsi itu.

Amerika Serikat dan aliansinya mengritik gencarnya serangan udara Rusia ke posisi pemberontak anti Assad yang domotori al Qaida. Washington berkilah mereke adalah “ekstrimis moderat”. Menepis hal itu, presiden Rusia Vladimir Putin kembali mengingatkan motto perang melawan terror yang dilansir mantan presiden George W.Bush setelah serangan 11 September 2001, bahwa di dunia ini tidak ada “teroris baik atau teroris jahat”.