Argentina Akhirnya Deal Membeli 14 Jet Tempur Kfir Israel

Pesawat tempur multirole Kfir C10

Setelah hampir dua tahun negosiasi dan spekulasi hampir tak berakhir seputar jet tempur yang akan dibeli Argentina, akhirnya keputusan telah dibuat untuk membeli jet tempur Kfir buatan Israel untuk menggantikan 14 jet tempur Mirage 3.

Menurut laporan Interdefensa Militar Argentina, saat ini hanya tinggal menunggu persetujuan akhir dari Kabinet Argentina.

Israel Aircraft Industries Kfir (Ibrani: Lion Cub) adalah pesawat tempur serbaguna segala cuaca, dirancang berdasarkan modifikasi Mirage 5 Perancis, namun menggunakan avionik Israel dan mesin turbojet General Electric J79 buatan Israel.

Aksi tempur pertama Kfir terjadi pada tanggal 9 November 1977, selama serangan udara di sebuah kamp pelatihan di Tel Azia, di Lebanon. Satu-satunya kemenangan udara diklaim oleh Kfir berlangsung pada 27 Juni 1979, ketika sebuah Kfir C.2 menembak jatuh sebuah MiG-21 Suriah.

Pada tahun 2013, Angkatan Udara Argentina memulai negosiasi dengan Israel untuk pembelian 18 jet tempur Kfir Blok 60 sebagai alternatif untuk kesepakatan pembelian 16 jet tempur F1 Mirage Spanyol.

Sumber industri pertahanan mengklaim IAI akan “segera” menerima pesanan dari Argentina untuk pembelian Kfir Blok 60 setelah kegagalan pembelian Mirage F1 dari Spanyol.

Meskipun kontrak akhir belum disahkan, diperkirakan Kfir akan segera dikirimkan ke Argentina selama 18-20 bulan ke depan, dengan pesawat pertama akan diberikan 8 bulan setelah penandatanganan perjanjian. Kontrak juga akan mencakup kontrak pemeliharaan Kfir selama 10 tahun.

Pesawat tempur ini akan diupgrade dengan radar modern EL / M-2052 dari ELTA Systems, dan sistem EW (Electronic Warfare) dari Elisra.

Sangat mungkin pesawat akan dilengkapi dengan rudal Python dan Derby, Lightning pod, dan helm pilot dari Elbit Systems.

Kontrak baru antara Israel dan Argentina merupakan kabar baik bagi industri pesawat Lahav dari Israel.

Argentina beberapa waktu yang lalu dikabarkan juga ingin membeli jet tempur JF-17 dari Cina, namun akhirnya membatalkannya karena Cina enggan memberikan rudal anti kapal (mungkin karena tekanan dari Inggris).

Jewishpress