TNI AD dan AL Patroli Rutin di Laut China Selatan

Surabaya – Ketegangan semakin meningkat di Laut China Selatan, seiring menguatnya penetrasi Cina di kawasan tersebut. Pada saat yang bersamaan, Tentara Nasional Indonesia (TNI), melalui matra Angkatan Laut dan Angkatan Udara, melakukan operasi pengamanan rutin di sekitar wilayah tersebut.

Meski begitu, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyampaikan, apa yang dilakukan TNI tidak lebih dari patroli rutin, bukan patroli siaga.

“Semua (wilayah terluar) harus kita pantau,” ujar Panglima TNI seusai memberikan kuliah umum di kampus Universitas Airlangga Surabaya, Rabu (11/11).

Gatot membenarkan, saat ini TNI sedang mengembangkan pangkalan militer di Kepulauan Natuna, daerah terluar Indonesia di dekat Laut China Selatan. Namun demikian, Gatot lagi-lagi tidak ingin meyebutnya sebagai program khusus menghadapi ancaman konflik Laut China Selatan.

“Pangkalan militer mamang program TNI di tempat-tempat terdepan, bukan hanya di sana (Natuna),” kata Gatot.

Tekait konflik di Laut China Selatan, Gatot menyampaikan, Indonesia sekuat tenaga mengupayakan perdamaian dan stabilitas di sana. Ia mengimbau, jangan ada kekuatan manapun yang melakukan kegaitan yang dapat meningkatkan tensi di wilayah tersebut.

Saling klaim wilayah di Laut China Selatan telah berlangsung sejak lama, melibatkan sejumlah negara, yakni China, Taiwan, Vietnam, Filipina, Malaysia dan Brunei. Belakangan, ketegangan di kawasan tersebut menguat setelah China secara sepihak mereklamasi Kepulauan Spratly.

Prajurit TNI AD Dilatih Antisipasi Konflik Laut China Selatan

Pekanbaru – Komando Resor Militer (Korem) 031 Wirabima Riau bersiap menghadapi segala kemungkinan buruk konflik Laut China Selatan. Ribuan pasukan pemukul reaksi cepat (PPRC) sudah disiapkan dan dilatih kemampuan tempurnya.

“Sudah ada dibentuk PPRC. Pasukan ini masih berlatih hingga sekarang, semuanya siap untuk diterjunkan untuk menghadapi segala kemungkinan buruk,” kata Komandan Korem 031 Wirabima Brigjen TNI Nurendi, Selasa (10/11/2015).

Menurut Nurendi, TNI di Riau siap ambil bagian jika sewaktu-waktu konflik Laut China Selatan yang tengah memanas berujung pada kontak fisik atau perang antarnegara di wilayah tersebut.

Ambil bagian di sini, tegas Nurendi, bukan berarti Indonesia terlibat atau memihak salah satu blok antara Amerika Serikat ataupun China.

“Kita ambil ambil bagian dalam artian siap mempertahan NKRI. Ada matra pasukan yang siap terjun dari Riau jika sewaktu-waktu terjadi perang,” kata dia.

Sebelumnya, Komandan Lapangan Udara Roesmin Nurjadin Marsma Henri Alfiandi juga sudah menyiagakan pesawat tempur di Pekanbaru. Di samping itu, juga dilakukan patroli perbatasan yang diberi nama dengan Baruna Nusantara.

Menurutnya, Indonesia perlu hadir dalam konflik Laut China Selatan dalam artian mempertahankan Kepulauan Natuna yang merupakan pulau terluar Indonesia.

“Hadir di sini dalam rangka mempertahankan NKRI dari segala ancaman teritorial,” tukas Henri, Senin 9 November lalu. (Liputan6.com).