Bisa Saja, Indonesia Juga Membawa China ke Pengadilan atas Kasus Laut China Selatan

Indonesia bisa membawa China ke pengadilan internasional jika klaim Beijing untuk sebagian besar Laut Cina Selatan dan bagian dari wilayah Indonesia tidak diselesaikan melalui dialog, ujar kepala keamanan di Indonesia, Rabu, 11/11/2015.

Hal ini terkait klaim Beijing untuk hampir seluruh Laut China Selatan yang ditampilkan pada peta Cina dengan garis sembilan terputus yang membentang jauh ke dalam jantung maritim Asia Tenggara, termasuk bagian yang dipegang Indonesia, kepulauan Natuna.

Vietnam, Filipina, Taiwan, Malaysia dan Brunei juga mengklaim bagian dari Selat Malaka. Filipina telah membawa China ke Pengadilan Tetap Arbitrase di Den Haag, Belanda, untuk kasus dimana Beijing menolak untuk mengakuinya.

Menko Polhukam, Luhut B Panjaitan

Indonesia percaya klaim China atas bagian kepulauan Natuna tidak memiliki dasar hukum.

“Kami bekerja sangat keras untk hal ini. Kami mencoba untuk mendekati China,” kata Luhut Panjaitan kepada wartawan. “Kami ingin melihat solusi pada kasus ini dalam waktu dekat melalui dialog, atau kita bisa membawanya ke Mahkamah Pidana Internasional.”

Hal ii bisa saja dibawa ke Mahkamah Pidana Internasional, yang berkaitan dengan “kejahatan paling serius yang menjadi perhatian masyarakat internasional” seperti kejahatan perang, namun bisa juga dalam bentuk pengadilan internasional, seperti Mahkamah Tetap Arbitrase (Permanent Court of Arbitration).

“Kami tidak ingin melihat proyeksi kekuatan di daerah ini. Kami ingin solusi damai dengan mempromosikan dialog. Garis sembilan terputus adalah masalah yang kita hadapi, tapi tidak hanya kita. Ini juga secara langsung (dampak) kepentingan Malaysia, Brunei, Vietnam dan Filipina. ”

Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan pada hari Rabu bahwa kasus pengadilan Internasional yang diajukan Filipina terhadap Cina telah membuat hubungan tegang dan tugas Filipina untuk menyembuhkan keretakan tersebut

REUTERS