Prospek dan Peluang Pesawat N-219 (Opini Sebelum Tidur)

Pesawat N-219

Setelah ditunggu-tunggu hingga habis kesabaran warjager, akhirnya keluar juga dari cangkang telurnya, Pesawat kebanggaan RI yang 100% didesain dan dirakit oleh putra-putri bangsa, meskipun beberapa komponen avionik dan mesin masih didatangkan dari luar (hal yang wajar untuk industri penerbangan dunia).

Kondisi Pariwisata
Pada saat rencana desain dan studi kelayakan pesawat ini dibuat, evaluasi akan kondisi market saat itu (mungkin antara 2009-2011) sudah menampakkan tanda-tanda cerah bagi pesawat sekelas ini. Meskipun pasarnya sudah dipenuhi dengan banyak varian pesawat sejenis yang bertebaran sejak lama, namun ceruk pasar yang ada bukannya semakin jenuh, justru kini disadari perkembangannya jauh lebih pesat dari supply alat transportasi.

Ini terjadi karena beberapa kawasan di Asia Tenggara, Asia Selatan dan Amerika Latin, terjadi ledakan pertumbuhan masyarakat ekonomi menengah yang memiliki daya beli produk wisata. Sementara itu, pembangunan infrastruktur darat di beberapa kawasan itu tidak dapat mengejar kebutuhan transportasi pergerakan orang menuju dan dari tempat terdekat dengan tourism spot yang ada.

Tidak perlu jauh-jauh, perkembangan pariwisata di Indonesia sendiri selama kurun waktu terakhir dapat memperlihatkan kondisi itu seperti yang digambarkan pada grafik berikut:

credit to Faisal Basri Credit to Caretourism

Dari kedatangan 8 juta wisman di Indonesia pada 2013, tampak bahwa distribusinya sangat tidak merata. Selain Bali, Jakarta dan Batam, maka kedatangan di wilayah lain sangat tidak berarti. Padahal, tourism spot yang baru berkembang dan diakui justru berada diluar jangkauan turis-turis yang turun di Bali, Jakarta maupun Batam. Begitu pula agen-agen travel tanah air tidak bisa memanfaatkan koneksi antar tempat wisata dalam 1 paket, misalnya paket kunjungan Bali-Ijen-Bromo atau Paket Diving Komodo-Raja Ampat-Wanatobi karena tidak tersedianya jalur penerbangan yang ekonomis.

Strategi Menyebarkan Ekonomi Wisata
Dengan penerbangan singkat (0-1jam) dan load factor yang sangat kecil serta tidak merata jadwal peak seasonnya, maka penerbangan perintis dapat menjadi solusi bagi pelaku pariwisata untuk menyusun paket perjalanan ekonomis menghubungkan beberapa spot wisata sekaligus. Dan pesawat kapasitas 10-20 dengan kemampuan take off dan landing di landasan yang unconditioned adalah jawaban paling efisien.

Pemerintah sudah berhasil membuat program pembiayaan industri maritim untuk nelayan dan pelaku kelautan sehingga pelaku industri kelautan sekarang ini difasilitasi dengan proses kredit yang mudah dengan bunga yang murah. Kini sudah saatnya pariwisata juga dimajukan dengan konsep yang sama.

Penyediaan pesawat dan sarana lain seperti antar-jemput bandara-spot wisata misalnya, dapat disediakan oleh perbankan nasional dengan bunga bersaing dan diberikan insentif pajak yang menarik. Anggaran juga dapat disediakan bagi paguyuban atau koperasi yang menjadi pelaku ekonomi wisata untuk penyediaan penginapan dan transportasi serta industri pendukung untuk kelas backpacker tourist karena segmen inilah yang mengisi segmen pasar pariwisata ASEAN hingga saat ini.

Hal itu pasti akan menular dan diikuti oleh Negara-negara lain seperti Philippine, Myanmar, Kamboja, Vietnam, Bangladesh, India, Chile, Peru, Nicaragua, dan masih banyak lagi yang saat ini masih kedodoran infrastruktur daratnya, karena sektor pariwisata adalah pemacu pertumbuhan ekonomi yang paling cepat dirasakan oleh rakyat setempat dimana industri pariwisata itu tumbuh, dan juga paling merata distribusi keuntungannya, dibanding dengan sektor lain yang hanya menguntungkan investor dan pabrikan besar.

Dunia perbankan Indonesia juga akan semakin luas pilihan segmen kreditnya, tidak lagi berkutat pada otomotif dan perumahan yang sudah terbukti tidak secure dalam kondisi ekonomi yang terus merosot. Bahkan penerapannya pada kredit ekspor (untuk penjualan pesawat perintis keluar negeri) akan membantu memperluas cakupan bisnis perbankan tanpa harus membuka cabang di Negara lain.

N-219 di Tengah Persaingan
Dengan kondisi diatas, wajar jika penulis beranggapan bahwa apa yang terjadi saat ini dan beberapa tahun kedepan, semakin menegaskan studi kelayakan sewaktu N-219 direncanakan dulu. Selain menerbangi jalur perintis yang memang menjadi domain pemerintah, juga menjadi solusi murah, mudah dan cepat bagi pelaku pariwisata domestic (juga pariwisata di philipine, Myanmar, Kamboja, Vietnam, Bangladesh, Srilangka, Laos) yang kini sedang menggeliat industri pariwisatanya sementara pemanfaatan jalan darat masih tersendat.

Lalu kalau pasarnya sudah sangat menarik, bagaimana kans PTDI bisa mengisi ceruk yang ada tanpa harus mati sebelum berkembang dalam persaingan dengan pesawat lain di kelasnya? Komparasi berikut dapat menunjukkan dimana posisi N-219 nantinya. Yang dibandingkan disini adalah pesawat-pesawat sejenis yang belum terlalu lama umur desainnya, atau sudah dilakukan upgrade besar-besaran agar dapat memenuhi tuntutan industri aviasi modern.

Dalam hal performa, Harbin Y12F adalah pesawat sejenis yang paling besar daya angkutnya. Begitu pula power mesin yang lebih kuat dan kecepatan tertinggi, maka Y12F paling cocok menjadi kuda beban (militer, angkut barang dan lain-lain).

N-219 mempunyai keunggulan pada kemampuan take off/landing di landasan pendek bukan aspal, kabin yang paling lega di kelasnya (6.50 x 1.82 x 1.70m digemari calon penumpang), dengan konfigurasi tempat duduk 1-2.

N-219 juga mampu terbang pada kecepatan rendah, sangat cocok untuk manuver di daerah pegunungan/pedalaman (sayang belum ada data ketinggian maksimum, tapi pasti tidak jauh dari 7000 meter), memungkinkannya menjadi penerbangan perintis yang handal di pedalaman Jawa bagian selatan, Papua bagian utara, Pantai barat Sumatera, Pegunungan verbeek Sulawesi, Pedalaman Nepal yang ramai turis dan pedalaman lain tanpa harus menyediakan landasan dan bandara yang mahal.

Pemilihan mesin Pratt & Whitney PT6A-42 yang populasinya sangat banyak di dunia menunjukkan bahwa berat kosong pesawat mempunyai keunggulan terhadap pesaing (cukup dengan 903 eshp/850 shp dibanding competitor yang butuh power hingga > 1000 eshp).

Mesin tersebut juga terkenal irit dan bandel sehingga akan meringankan beban operasional dan biaya opex operator. Sementara populasinya yang banyak berarti adanya kemudahan dalam hal mencari sparepart, serta harga sparepart yang pasti lebih murah daripada mesin yang populasinya sedikit.

Sebagai pesawat komersil, N-219 juga mempunyai tampilan yang eye catching pada eksterior.

Dornier D228 Harbin Y12F Skytruck PZL M28 Y12F Dornier D228 N-219

Cockpit (credit to Airliners.net)

Untuk dunia pariwisata, pesaing utama N-219 sudah pasti Harbin Y12F dengan desain eksterior dan kokpit yang modern, sangat berkelas dan tidak terkesan kuda beban bagi penumpang, yang meskipun masuk jenis backpacker tourist, pasti tetap mengutamakan liburan yang menyenangkan dengan fasilitas yang nyaman pada harga yang akseptibel.

Untuk keperluan perintis dan militer/polisi, pesaing utama N-219 jelas Twin Otter dan Skytruck yang sudah terkenal handal dan mudah perawatannya.

Dengan pesawat yang lebih murah, irit, bandel dan dapat mendarat di landasan non-aspal, bayangkan saja perjalanan Bali-Lombok, Bali-Kawah Ijen atau Bali-Bromo, Yogya-Bromo, Yogya-Pangandaran, Jakarta-Pangandaran, Yogya-Karimunjawa, Jakarta-Anyer-Gigi Hiu Lampung, Medan-D.Toba, Medan-Takengon, Medan-Nias, Padang-Mentawai semua rute spot pariwisata menarik dengan tiket hanya 300-400 ribuan saja dan lama tempuh maksimum 1 jaman. Juga rute medium seperti Bali-Danau Kelimutu, Bali-Komodo, Makassar-Wanatobi, Manado-Wanatobi dengan hanya 450-600 ribuan saja. Cukup menyediakan bandara perintis, dengan fasilitas yang tidak membutuhkan investasi mahal. Kalo sudah begini, mungkin warga di tempat-tempat tersebut yang akan kewalahan menerima kunjungan turis.

Kepercayaan terhadap kualitas N-219 yang belum terbang, sudah ditunjukkan oleh ketertarikan 3 negara asing (Qatar bahkan ikut membiayai pendanaannya), juga ratusan pesanan yang akan diproses oleh 3-4 maskapai nasional.

Sekarang tinggal bagaimana Pemerintah RI mendorong pemasarannya dari sisi marketing/promosi, pembiayaan, lobby G2G, dan Policy untuk menciptakan pasar-pasar baru di tanah air agar si bandel ini dapat mengepakkan sayapnya yang masih baru. Jika dunia pariwisata di dalam negeri sudah terbantu dengan pemanfaatan pesawat ini, maka Negara berkembang lain di Asia dan Amerika Latin, pasti juga tertarik mengembangkan infrastruktur pariwisatanya dengan pesawat ini.

Oleh : MJ