Lima Legenda Dunia Intelijen Indonesia (3)

Salah satu tokoh penting dalam intelijen indonesia.

3. Jend (purn) Yoga Sugama

Jenderal TNI Purnawirawan Yoga Sugama, dilahirkan di Blitar 12 Mei 1925 78, selama ini dikenal aktif di dunia militer dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Badan Koordinasi Inteljen Nasional selama 2 periode yaitu tahun 1968 hingga 1969 dan 1974 hingga 1978. Tokoh penting dalam intelijen indonesia.

Sewaktu masih di bangku kelas III AMS (setara SMU) ia mendapat kesempatan untuk bersekolah di akademi militer Jepang (Rikugun Shikan Gakko), Tokyo, tahun 1942. Ia masih menjadi siswa di sana saat Sekutu membom Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945. Saat keadaan serba sulit di Jepang, di sana ia diterima bekerja di markas Sekutu sebagai penerjemah. Secara tak langsung di markas itulah ia mulai mengenal dunia intelijen.

Pada penghujung 1956 sejumlah daerah bergolak. Pemberontakan PRRI-Permesta kemudian meletus. Untuk memadamkan pemberontakan PRRI/Permesta Divisi Diponegoro mengirim dua Resimen Tim Pertempuran (RTP) ke Sumatera Barat. Yoga Sugomo yang sebelumnya selalu di jurusan intelijen meminta agar dirinya diikutkan di satuan tempur.

Tapi mendadak sebuah sabatose membuat karirnya di jalur resmi intelijen terputus. Dalam perjalan dinas ke Jerman koper stafnya, Sekretaris G-1, hilang di pesawat saat mereka berdua stop-over di Singapura. Koper itu berisi dokumen penting. Akibatnya fatal. Yoga dihukum. Ia menjadi wakil Kepala Perwakilan RI di PBB, New York.
Usai menjabat kedudukan itu, Yoga kembali ditarik pulang dan dipercaya lagi memegang sebagai Kabakin. Empat tahun kemudian, posisi Kabakin dirangkap lelaki itu dengan jabatan Kas Kopkamtib. Posisi strategis dalam intelijen indonesia.

Mengomentari kedudukannya yang luar biasa itu Yoga pernah mengatakan bahwa di negara mana pun belum pernah ada yang berposisi seperti itu, kecuali Himler. Himler adalah direktur SS (Reichsfuhrer), polisi rahasia Nazi. Bedanya, menurut Yoga, Himler bisa berbuat apa saja dan hanya bertanggung jawab kepada Hitler, sedangkan dirinya bertanggungjawab kepada parlemen dan pemerintah (Richard Tanter, Intelligence Agencies and Third World Militerization: A Case Study of Indonesia, 1966-1989—thesis Ph.D di Monash University, 1991).

Kunci kekuatan posisi Yoga Sugomo adalah kedekatan hubungan pribadinya dengan Soeharto. Kedekatan keduanya sudah sejak lama, yaitu ketika mereka masih sama-sama di Teritorium IV-Diponegoro. Hal ini diceritakan dalam kitab Memori Jenderal Yoga (B. Wihoho dan Banjar Chaeruddin—1990).

(bersambung)