Satgas Pamtas RI-PNG Sita Senjata Api (Puspen TNI)

TNI Perbatasan Sita Senjata Api dan Amunisi 1

Satuan tugas pengamanan perbatasan (Satgas Pamtas) RI-PNG Yonif 406 Candrakusuma (406/CK) menyita satu pucuk senjata rakitan laras panjang serta 33 butir amunisi 5,56 mm.

Senapan tersebut ditemukan dari mobil yang melintasi jalan di antara Desa Bompay dan Desa Senggi, Keerom, Papua. Satgas pamtas yang dipimpin Komandan Pos, Lettu Inf Karno, mencurigai mobil berisi tiga orang penumpang saat menggelar sweeping.

Temuan itu menunjukkan banyaknya senjata rakitan beredar di daerah perbatasan, baik milik pribadi atau hasil rampasan. Oleh sebab itu akan terus dilaksanakan sweeping maupun patroli di jalan penghubung Desa Bompay dengan Desa Senggi.

“Kegiatan sweeping akan terus dilaksanakan dengan waktu yang tidak ditentukan, serta kami juga akan melaksanakan kegiatan teritorial di wilayah penugasan kami sehingga masyarakat akan lebih menyatu dengan TNI dan tercipta TNI Manunggal Rakyat,” ujar Danyonif 406/CK Letkol Inf Aswin Kartawijaya.

Sementara, Dankolakops Rem 172/PWY Kolonel Inf Sugiyono mengaku bangga atas keberhasilan anak buahnya mengungkap peredaran senjata di areal perbatasan.

“Saya sangat bangga dengan kalian yang mampu menjabarkan perintah dengan baik, terbukti dengan hasil yang dicapai, sekali lagi saya bangga dan sangat mengapresiasi keberhasilan kalian, lanjutkan kegiatan sweeping untuk menciptakan kenyamanan bagi seluruh masyarakat.” pungkas Sugiyono.

Pengelolaan batas wilayah Negara serta wilayah perbatasan diperlukan untuk memberi kepastian hukum mengenai ruang lingkup wilayah negara serta kewenangan pengelolaan wilayah negara dan hak berdaulat. Pelibatan TNI dalam penegakan hukum di wilayah perbatasan tidak lepas dari tugas yang diamanatkan dalam UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI.

Penegakan hukum di wilayah perbatasan Indonesia saat ini masih tergolong sebagai “hard-border security regime” atau pengaturan keamanan perbatasan secara keras . Dalam pengaturan jenis ini perbatasan dijaga ketat oleh pasukan bersenjata. Oleh karenannya, terlihat di pintu-pintu keluar masuk perbatasan ditempatkan pos TNI (Satgas Pamtas) dan Pos Polri.

Selain menjaga kedaulatan negara, hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kegiatan ilegal misalnya pembalakan liar, perdagangan manusia, penyelundupan bahan peledak, infiltrasi, sabotase serta kegiatn intelijen asing.

Leave a Reply