Gempur ISIS, Rusia Minta Kerjasama Inggris

Jet Inggris RAF
Serangan terhadap Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) terus dilancarkan sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat pasca teror paris Jumat pekan lalu.

Untuk menggempur pertahanan ISIS di Suriah, Rusia meminta Inggris untuk bekerjasama
Hal tersebut disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova.

“Tidak diragukan lagi, itu (serangan Inggris) harus dikoordinasikan, sehingga langkah-langkah yang mereka lakukan tidak ditujukan untuk menghancurkan pemerintahan Suriah,” ucap Zhakarova, seperti dilansir Reuters.

Pernyataan Zakharova itu muncul di tengah rencana Inggris untuk memperluas serangan mereka di Suriah. Inggris sendiri merupakan salah satu negara yang tergabung dengan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) untuk melawan ISIS baik di Suriah ataupun Irak.

Perdana Menteri Inggris, David Cameron dikabarkan akan segera menyerahkan proposal mengenai upaya perluasan serangan di Suriah kepada Parlemen inggris. Ini adalah proposal kedua yang diajukan Camero.

Pada kesempatan pertama, Parlemen Inggris dikabarkan menolak proposal tersebut. Namun, dengan adanya teror Paris, beberapa pihak menduga Parlemen akan menyetujui proposal tersebut, dengan alasan serangan ke Suriah adalah tindakan pencegahan adanya teror di dalam negeri Inggris.
Jet Tempur Rusia
Jika proposal itu disetujui, Inggris nampaknya akan bekerja sama denga Rusia.
Seperti diketahui, Rusia telah melakukan operasi udara di Suriah sejak akhir September lalu. Operasi udara dilakukan setelah Presiden Suriah, Bashar al-Assad meminta bantuan Rusia untuk memerangi kelompok teroris di negaranya.

Serangan Rusia terhadap ISIS semakin gencar dilakukan pasca teror di paris.
Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigo mengatakan, pihaknya telah meluncurkan ratusan rudal dan menjatuhkan ribuan jenis bom saat menggempur sejumlah wilayah yang dikuasai oleh ISIS.

“Dalam empat hari terakhir, kami telah melakukan penerbangan strategis dan taktis sebanyak 522 sorties. Total 101 rudal jelajah telah diluncurkan dari udara dan laut, dan sekitar 1.400 ton bom dari berbagai jenis telah dijatuhkan di sejumlah sasaran milik teroris,” tuturnya dalam sebuah laporan kepada Presiden Vladimir Putin seperti dikutip dari laman Sputniknews.

Menurut Shoigu, akibat serangan tersebut, ISIS mengalami kerugian sebesar USD1,5 juta per hari karena mereka tidak bisa menjual 60.000 ton minyak ilegal ke pasar gelap.

Pasalnya, 525 truk tangki dan 15 tempat penyimpanan dan fasilitas kilang minyak baru milik ISIS telah hancur. Selain itu, serangan itu juga menewaskan 600 anggota ISIS di Provinsi Deir ez-Zor, Suriah.

“Dua puluh tiga basis pelatihan teroris, 19 pabrik memproduksi senjata dan bahan peledak, 47 depot dengan amunisi dan dana, serta benda-benda lainnya hancur. Ini membantu pasukan pemerintah Suriah untuk melanjutkan tindakan sukses di propinsi Aleppo, Idlib, Latakia pegunungan dan Palmyra,” pungkasnya.