Kegagalan Tejas Dan Ngerinya Menerbangkan MiG-21 India

Laporan Comptroller Auditor General ( CAG) atau dewan audit dan pengawas angkatan udara india menyatakan akibat keterlambatan program pesawat tempur Tejas Light Combat Aircraft (LCA), India harus meng-upgrade armada MiG dan merevisi jadwal untuk penon aktifan jet tempur tua MiG-21 FL.

Program LCA bisa dinyatakan gagal mengatasi masalah melemahnya kekuatan Angkatan Udara India (IAF).
Pemerintah India pertama kali membeli MiG-21 buatan Rusia pada tahun 1961. Setelah itu India memiliki total 872 MiG 21, membentuknya sebagai tulang punggung armada IAF.

Banyak melakukan pertempuran udara pada tahun 1965, 1971 dan 1999, skuadron tempur ini akhirnya semakin menua dan sudah tidak layak operasional.

Namun,karena keterlambatan program LCA dan kegagalan mengakuisisi Rafale dalam jumlah yang cukup akhirnya memaksa IAF untuk kembali mengoperasikan armada MiG-21.

MiG-21, yang terakhir di upgrade ke strandar “Bison” adalah upaya terakhir untuk membuat MiG-21 tetap mampu terbang di udara. Ini merupakan upaya terakhir MiG-21 bertugas di IAF. Ibarat berada di “satu kaki terakhir ” kata Kepala Staff Angkatan Udara India Arup Raha pada tahun 2014, menanggapi masih harus terbangnya si Mig-21.

Dengan semua perangkat terbang lawasnya, sebenarnya MiG-21 sudah sangat sulit untuk bermanuver, Mig-21 juga mempunyai kelemahan pendaratan yang terlalu keras, dan desain jendela kanopi yang sempit membuat pilot tidak bisa melihat landasan pacu dengan jelas.

Masalah ini juga diperparah karena MiG-21 bukanlah pesawat yang ramah, menurut data dari Badan Sertifikasi Kelaikan Udara dari Aviation Agency Federal AS, tingkat kematian para pilot MiG-21 IAF adalah sekitar 45-49 persen. Yang berarti bahwa seorang pilot MiG-21 India memiliki peluang hidup 50-50 untuk bertahan dari kecelakaan.

Pada tahun 2012, Menteri Pertahanan India, AK Antony, dalam jawaban tertulis kepada Rajya Sabha menegaskan bahwa lebih dari setengah dari 872 pesawat Mig-21 yang dibeli oleh IAF telah hilang dalam kecelakaan, membunuh 171 pilot, 39 warga sipil, dan delapan orang kru darat lainnya.

Selanjutnya, menurut laporan 2002 dari Komite Akuntan Publik antara tahun tahun 1997 dan 2000 – 55 pesawat tempur MiG-21 jatuh dan menewaskan 21 pilotnya.

Akibat statistik kecelakaan yang mengerikan ini, MiG-21 India mendapat julukan “Peti Mati Terbang ” dan “Si Pembuat Janda”.

Karena begitu mengerikannya menerbangkan Mig-21, pada tahun 2013 Sanjeet Singh Kaila, seorang perwira yang bertugas di Angkatan Udara India, mengajukan permohonan di pengadilan yang menyatakan bahwa menerbangkan MiG-21 adalah sebuah “pelanggaran hak dasar untuk hidup, terutama hak untuk bekerja di lingkungan yang aman ” Pasal 21 Konstitusi India.