Militer China Kepung Teroris

Foto: Ilustrasi

Pasukan militer khusus China menggunakan senjata pelontar api untuk mendesak lebih dari sepuluh teroris yang tengah bersembunyi di dalam gua di barat Xinjiang, China.

Awalnya pasukan khusus tersebut memancing para teroris itu keluar dengan melempar granat dan menembakan gas air mata. Namun, kedua serangan tersebut tak kunjung menuai hasil.

Tak ada jalan lain, militer China pun menyemburkan senjata pelontar apinya ke dalam gua tambang batu bara di Aksu, di mana kelompok militan itu bersembunyi sejak September.

Para teroris kepanasan lalu keluar sambil menggenggam pisau dan menyerusuk ke arah petugas. Akan tetapi, langkah mereka terhenti dengan sekali tembak.

Pemerintah China ikut gencar perangi ISIS setelah menemukan warganya dibunuh oleh kelompok ekstremis tersebut. Dilaporkan pertama kali oleh Radio Free Asia, pasukan khusus China telah berhasil menumpas 28 orang yang diduga teroris dalam 56 hari operasinya.

Namun, penggerebekan terhadap 10 teroris di gua tersebut dinilai kelompok kanan sebagai alasan pemerintah China untuk mendominasi budaya dan agama yang berkembang di Uighur. Di mana mayoritas penduduknya beragama Islam.

Menurut para pengkritik itu, Pemerintah China juga telah dengan sengaja menjadikan teror Paris alasan untuk membenarkan pembantaian yang dilakukan terhadap warganya sendiri, yang disebut sebagai kelompok ekstremis yang dipimpin asing.

“Serangan di Paris memberikan China alasan politik untuk berani menggunakan senjata pelontar api untuk menekan penduduk Uighur yang tak bersenjata, yang bahkan tidak memiliki perlindungan hukum yang adil dan yang hanya berusaha untuk menghindari penangkapan,” tukas Dilxat Raxit, juru bicara kelompok pengasingan Kongres Uighur Dunia.

Sementara para pejabat senior China menggambarkan tantangan keamanan di Xinjiang sebagai garda utama dalam perang global melawan terorisme.

Negara-negara Barat, bagaimana pun, telah enggan untuk bekerja sama dalam kampanye anti-terorisme di China sana karena takut terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia (HAM).