Legenda Tank T-34 (1)

Untuk generasi saat ini, T-34 menjadi simbol kemenangan Soviet dalam Perang Dunia II. Sejak dioperasikan langsung dari Lapangan Merah untuk menghentikan gerakan Nazi di luar Moskow pada 1941, mesin tempur legendaris ini hampir tak pernah beristirahat.
Ketika T-34 Soviet memasuki Berlin pada 1945, hari-hari pertempuran tank sepertinya hampir berakhir. Namun ‘sang kacang’, sebutan tank ini oleh para kru karena bentuk pucuknya yang segi enam, hanya awal dari pengembaraan tank ini di konflik-konflik dunia. Lebih dari lima dekade, mesin tempur ini berdesing melintasi pasir Mesir, hutan Kuba, savana Angola, dan banyak lagi. Saat ini, T-34 masih dapat ditemukan di gudang senjata Bosnia dan Herzegovina, Vietnam, Guinea, Guinea-Bissau, Yaman, Korea Utara, Republik Kongo, Kuba, Laos, Mali, dan Namibia.

T-34 pernah bertempur melawan Amerika Serikat dan sekutunya di Korea dan Kuba. Sementara, tank Amerika yang menginspirasi pembuatan T-34 ternyata tak seterkenal ‘keturunannya’.

Tank Amerika Christie pertama kali dibawa ke Uni Soviet sebagai contoh tank yang tak memiliki turret (pucuk). Tank tersebut dirancang dari “traktror sawah”. Christie dan tank sejenis dari Spanyol menjadi inspirasi perancang Soviet Mikhail Koshkin. Kendaraan lapis baja Soviet berevolusi menjadi tank berkecepatan tinggi (Bystrokhodny Tank/BT) kelas ringan buatan 1930-an, yang dikembangkan dari tank Amerika M1931 Christie.

Di tahun-tahun sebelum Perang Dunia II, Koshkin bekerja secara intensif untuk menciptakan T-34, mengombinasikan baja kuat dan senjata berat, sambil mencari cara untuk mewujudkan kinerja gerak tank serta mengupayakan perawatan dan produksi yang mudah.

Produksi tank pertama ditinjau oleh Joseph Stalin di Moskow pada 17 Maret 1940, setelah berjalan sejauh 1.250 kilometer hingga mencapai ibukota. Itu merupakan keputusan yang penuh risiko yang diambil oleh Koshkin, untuk mengendarai tank melalui jalanan umum, karena polisi rahasia NKVD bisa saja menganggap hal tersebut sebagai pembongkaran rahasia negara. Namun, tank tiba tepat waktu tanpa insiden berarti, berjalan melalui rute rahasia melintasi hutan penuh salju, ladang, dan medan kasar.

Terkesan dengan apa yang ia lihat, Stalin memberi julukan sayang “burung wallet mungil” untuk tank tersebut, dan kelanjutan tank ini tentu sudah dapat dipastikan. Namun, kesuksesan tersebut tercoreng dengan kematian Koshkin yang berusia 42 tahun, yang terkena serangan pneumonia selama perjalanan sulit menuju Moskow dan ia tak berhasil disembuhkan. (bersambung)