Legenda Senapan Mosin Rusia (2)

Rusia segera membeli sejumlah sampel, mengambil fitur-fitur yang paling unggul, dan melakukan beberapa perbaikan yang signifikan. Dibuat di pabrik senjata Izhevsk, laras senapan baru Rusia ini lebih unggul dalam hal kekuatan daripada pendahulunya dari Prancis. Senapan ini memiliki kaliber three line yang lebih kecil, masing-masing memiliki lebar 0,254 cm, sama dengan kaliber 7,62 mm yang akan mendominasi produksi senapan selama beberapa dekade setelahnya. Hal ini memungkinkan prajurit untuk membawa amunisi dalam jumlah besar dibandingkan dengan mereka yang dipersenjatai dengan senjata model asing yang berkaliber lebih besar.

Pada 1890, ahli kimia Dmitri Mendeleev menciptakan mesiu tanpa asap versi Rusia. Temuan tersebut menciptakan waktu yang tepat untuk meluncurkan sebuah senapan Rusia generasi baru yang unggul. Akan tetapi, meski perlombaan senjata berlangsung semakin ketat, peluncuran senjata tersebut ditunda. Tentara Rusia membutuhkan sistem senjata yang sesuai dengan persenjataannya saat itu dan cocok untuk diproduksi massal dengan menggunakan kapasitas industri yang ada.

Kemudian, pada 1891, dua desain bersaing ketat dalam kompetisi yang diadakan oleh Kementerian Perang: senapan Kapten Sergei Mosin dan senapan insinyur Belgia Leon Nagant. Keduanya sangat berbeda, senapan Rusia lebih kasar dalam konstruksi dan ditujukan lebih sebagai prototipe desain akhir. Sementara itu, senapan Nagant telah diberi semua sentuhan akhir dan siap sebagai senjata umum (general issue).

Kecanggihan model Belgia itu pada akhirnya malah merugikan karena tidak cocok untuk prajurit rekrutan baru yang rata-rata tidak memiliki keterampilan menembak. Belum lagi biaya produksinya yang tinggi. Sementara meski senapan three line itu tampak polos, ia segera menunjukan ketahanan, kemudahan perakitan dan pembongkaran, serta keandalan dalam kondisi buruk.

Desain Mosin mengalahkan saingan asingnya dan pertama kali digunakan pada 1893 dalam pertempuran antara pasukan Rusia dengan tentara suku Afghanistan. Tiga juta senapan digunakan saat Perang Rusia-Jepang pecah pada 1904 dan membuktikan kehebatan tempur mereka di medan berat dan kondisi iklim yang keras, meski kekurangan suku cadang dan buruknya dukungan logistik.

Dalam Perang Dunia I, senapan Mosin milik pasukan Rusia segera menunjukkan keunggulan atas model Inggris dan Prancis yang lebih rumit, yang sebelumnya telah dibeli dan diuji oleh pemerintah Tsar.

Namun kurangnya fasilitas produksi memaksa Rusia untuk mengalihkan beberapa produksi secara subkontrak ke pabrik-pabrik di Amerika dan sekarang Mosin buatan AS adalah barang bernilai tinggi di kalangan kolektor senjata api. Senapan three line ini diperbaiki lebih lanjut di antara perang. Pada awal Perang Dunia II, Tentara Merah hendak beralih ke senapan otomatis Tokarev yang lebih canggih, namun kesederhanaan dan kemudahan pembuatan Mosin terus mempertahankan posisinya sebagai senjata utama prajurit infanteri.

Setelah modifikasi terakhir pada 1944, produksi senjata ini dihentikan setelah perang. Namun, jutaan unit senapan ini tetap digunakan di seluruh dunia dan beberapa di antaranya masih dengan bangga dipanggul sebagai senjata resmi dan seremonial. (habis)