Upaya Tanpa Henti AS Singkirkan Assad

69
kerry bibi
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat melakukan kunjungan ke Timur Tengah untuk mengejar beberapa tujuan. Tahap pertama lawatan ini adalah mengunjungi Abu Dhabi untuk bertemu dengan mitra-mitranya dari Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

John Kerry kemudian melanjutkan lawatannya ke Palestina pendudukan dan berdialog dengan Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri rezim Zionis Israel. Keduanya membicarakan transformasi terbaru di Palestina pendudukan menyusul meletusnya Intifada al-Quds pada awal Oktober 2015.

Dalam kunjungannya ke Abu Dhabi, Kerry bertemu dengan Adel al-Jubeir dan Abdullah bin Zayed Al Nahyan, masing-masing Menlu Arab Saudi dan UEA, untuk membicarakan krisis Suriah. Ketiganya bertukar pandangan mengenai persoalan regional dan isu-isu keamanan bilateral termasuk perang di Suriah dan kelanjutan upaya untuk memerangi ISIS.

Tiga Menlu tersebut menekankan urgensi kerja sama ketiga negara dalam mewujudkan transisi politik Suriah bedasarkan deklarasi Jenewa. Mereka mengklaim bahwa tujuan bersama mereka adalah untuk mewujudkan sebuah negara bersatu, stabil dan majemuk.

Kerry, al-Jubeir dan Al Nahyan yang negara-negara mereka berada di front oposisi Presiden Suriah Bashar al-Assad, juga sepakat melanjutkan dukungan kepada kelompok yang mereka sebut sebagai oposisi moderat Suriah. Dukungan tersebut akan dilakukan bersamaan dengan sokongan politik di arena internasional.

AS, Arab Sudi, Qatar dan Turki ditambah UEA memiliki kerjasama terkait krisis Suriah. Selama lima tahun terakhir, Washington sebagai yang terdepan dalam front oposisi Suriah, berusaha keras untuk menghapus nama Assad dari poros Muqawama. Upaya ini dilakukan dengan menerapkan berbagai trik dan cara ilegal.

Di bawah kepemimpinan Assad, Suriah menjadi sebuah benteng kuat dalam melawan keserakahan AS di kawasan Timur Tengah. Gedung Putih untuk menyenangkan sekutunya, rezim Zionis, menggunakan berbagai cara untuk menggulingkan pemerintahan Assad di Suriah dan mengejar sistem pengaturan politik regional.

AS tidak pernah mengabaikan upaya apapun untuk mencapai ambisi-ambisnya itu. Gedung Putih juga tak pernah berhenti untuk memberikan dukungan finansial dan senjata kepada para teroris di medan tempur Suriah dan mengirim teroris asing ke negara ini. Namun hingga sekarang, upaya ini belum membuahkan hasil terutama untuk menggulingkan pemerintahan Assad. Oleh karena itu, Washington mencoba untuk mengkompensasi kegagalannya di medan perang melalui jalur diplomasi.

Pernyataan Kerry tentang transisi politik di Suriah di hadapan mitra-mitranya di Abu Dhabi merupakan upaya politik untuk meruntuhkan benteng kuat Assad. Selama ini, AS berusaha mencapai tujuan-tujuannya di Suriah melalui perang proxy, yaitu dengan menggunakan kelompok-kelompok teroris untuk menumbangkan pemerintahan Assad. Namun upaya ini gagal. Akhirnya Negeri Paman Sam ini berusaha mencapai tujuan-tujuannya itu melalui meja perundingan.

Peran konstruktif Republik Islam Iran dalam krisis Suriah dan kehadiran tepat waktu Rusia di medan-medan tempur untuk melawan para teroris, telah memaksa AS mengubah sikapnya dan mendukung penyelesaikan politik atas krisis Suriah. Namun sayangnya, AS kembali mencari celah untuk menghapus Assad dari arena politik di Suriah. Gedung Putih mengangkat isu-isu seperti transisi politik di Suriah tanpa memperhatikan peran langsung rakyat negara ini.

Iran dan Rusia berulang kali menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang berhak mengambil keputusan tentang Suriah kecuali rakyat negara ini. Setiap bentuk perubahan politik di Suriah bergantung pada peran rakyat dalam proses demokratisasi secara independen di negara ini.

Krisis Suriah telah mengungkapkan kontradiksi antara kebijakan yang diumumkan AS dan tindakannya. Sebab, dukungan kepada pemberontak moderat Suriah dan dukungan kepada solusi politik tidak mungkin disatukan. Pendekatan seperti itu tidak memiliki tujuan lain kecuali untuk menghapus Assad dari kancah politik. AS melihat pemerintahan Assad sebagai sebuah benteng kuat yang menghalanginya untuk mendominasi Asia Barat. Oleh sebab itu, Washington akan terus berusaha untuk menerapkan berbagai cara guna menghapus Assad dari arena politik Suriah.

11 KOMENTAR

  1. Indonesia harus berhati2 dengan gaya ASU.

    Berhati hati dalam memilih pemimpin jangan pilIh yg pro ASU.

    Jangan Pilih Panglima yg pro ASU.

    Jangan pilih anggota DPR yang pro ASU.

    Jangan pilih Politisi yang pro ASU.

    Jangan pilih Warjager yg pro ASU.

    Mereka semua sudah di cuci OTAK nya sama ASU.

  2. meme rika koplak, sadam husen di gulingkan perang saudara di irak gk berkesudahan,kadafi digulingkan perang saudara jg…..

    nih ada satu negara yg dua kali pemimpinnya digulingkan tp tetep bisa jaga persatuan dan kesatuan, yaitu negara Indonesia. soekarno dan suharto, soekarno digulingkan krn kapitalis ingin menguasai SDA tp dipersulit bung karno, Suharto digulingkan krn mencoba menjalin asmara kembali ke rusia. untungnya kedua pemimpin kita legowo dan tidak arogan mempertahankan kepemimpinannya.

    irak suriah dlm keadaan tidak stabil tp produksi minyaknya jalan terus, ini lah jawaban terbesarnya cuma karena “minyak”. lalu apakah Indonesia yg kaya akan logam mulia ini bisa dibuat seperti irak dan suriah. mungkin bisa saja jika makin alot masalah freeport. sekarang kebali kekita apakah kita melunak atau siap menerima segala kosekuensi porxywar,ingat negara ini majemuk lbh gampang membuat api kecil menjadi besar….jd waspadalah dan jangan terprovokasi. tetaplah teguh pada Pancasila dan bhineka tunggal ika.