Tahu Berformalin Membuat Otak Generasi Bangsa Koplak

Produsen Tahu Berformalin: Hampir 90 Persen Pakai Formalin

Pemilik pabrik tahu berformalin, MS (30) di Mapolda Metro Jaya.

Jakarta – Nada suara SM (30), pemilik pabrik tahu berformalin yang digerebek polisi 2 Desember 2015 terdengar meninggi ketika mengungkapkan alasannya menggunakan formalin dalam memproduksi tahu. Menurut SM, sulit memperoleh pengawet yang tahan lama untuk tahu. Ia mengaku terpaksa menggunakan formalin semata-mata untuk memperoleh keuntungan.

“Anda tidak tahu kondisi di pasar seperti apa Bu. Sehari produksi, baru nanti malam dikirim, di pasar itu jualnya baru besok pagi, sementara tukang sayur baru keesokan harinya lagi,” kata SM di Mapolda Metro Jaya, Jumat (4/12/2015).

Sementara itu, lanjut SM, pedagang tahu di pasar cenderung tidak mengerti kendala para produsen tahu.

“Kalau tahunya enggak layak jual, mereka enggak dapet untung, yang dimarahin siapa? Saya,” ujar SM.

Ia pun mengaku khawatir akan kehilangan pelanggan jika tidak memenuhi keinginan para pedagang tahu di pasar. “Bukan cari pembenaran. Hampir 90% (produsen tahu) pakai,” sambung SM.

Sementara itu, Kasubdit Indag Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Agung Marlianto mengatakan produsen harus memperhatikan keamanan dan keselamatan konsumen selain kepentingan ekonomi.

“Jadi tidak bisa kita utamakan kepentingan hanya untuk kelompok tertentu secara ekonomi kemudian kita mencelakakan orang lain,” ujar AKBP Agung.

Tahu berformalin dari Pabrik NJM di Bekasi, Jawa Barat.

Sebelumnya, Subdit Indag Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Rabu (2/12/2015), menggerebek pabrik tahu berformalin di Jatimurni, Pondok Melati, Bekasi.

Pabrik tahu milik SM (30) ini diketahui beroperasi sejak 2011. “Jadi, kami bergerak dari laporan warga sekitar pabrik yang merasakan bau menyengat,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Mujiyono di Jakarta, Jumat (4/12/2015).

Polisi kemudian mendatangi pabrik tersebut bersama dengan Balai Besar POM DKI Jakarta. Setelah melalui pengetesan di lapangan, tahu hasil produksi pabrik tersebut positif mengandung formalin.

Sementara itu, SM tidak berkutik saat industri tahu berformalinnya terbongkar. Ia mengakui bahwa pabrik yang dikelolanya selama empat tahun itu memakai formalin dalam pembuatan tahu. Untuk memproduksi tahu, SM mempekerjakan 30 karyawan.

SM kemudian menjadi tersangka dengan pelanggaran terhadap Pasal 136 huruf b juncto Pasal 75 ayat 1 huruf b Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dengan ancaman hukuman paling lama lima tahun penjara atau denda maksimal Rp 10 miliar.

Kompas.com