Kelompok Santoso Masih Berkeliaran, Operasi Camar Maleo akan Berakhir

Ribuan aparat gabungan TNI-Polri yang dikerahkan untuk mengejar Santoso dan para anggotanya, yang diduga bergerilya di hutan belantara Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), sampai kini belum berhasil menangkap para terduga pelaku terorisme paling ganas di Poso tersebut.

Sedikitnya 1.100 personel gabungan TNI-Polri dikerahkan untuk mengejar dan menangkap Santoso dan kelompoknya di Poso, melalui operasi penangkapan dengan sandi operasi “Camar Maleo IV”. Operasi ini direncanakan berakhir Januari 2016.

Mantan Deklarator Malino II untuk Perdamaian Poso, Pdt Renaldy Damanik, menyatakan keheranannya karena sampai saat ini Santoso tak kunjung bisa ditangkap, padahal ribuan aparat sudah dikerahkan selama bertahun-tahun di Poso.

Wilayah hutan Poso Pesisir, yang diduga menjadi tempat persembunyian Santoso dan anggota-anggotanya, menurut Damanik, sebenarnya tidak sulit untuk ditaklukan aparat, jika memang benar-benar ada keseriusan ke arah itu.

“Tapi, semakin banyak pasukan, justru Santoso tak kunjung bisa ditangkap. Malah dalam video-video tentang Santoso antara tahun 2011-2012, justru memperlihatkan tubuh Santoso yang kekar bugar, walaupun tinggal dalam hutan yang terisolasi,” ujar Damanik kepada SP, Sabtu.

Dengan tubuh yang kekar bugar itu, lanjut Damanik, menunjukan suplai makanan dan akomodasi lainnya untuk Santoso tentu sangat cukup. Kelompok itu tidak berkekurangan makanan meski tinggal dalam hutan belantara.

“Saya kira kalau hubunga Santoso dengan dunia luar diblokir secara total, tak ada akomodiasi makanan dan lain-lain, maka ia pasti menyerah,” ujar Damanik, yang mengaku sekitar tahun 2000, pernah bertemu langsung dengan Santoso di Poso, ketika itu Santoso belum masuk dalam jaringan terduga terorisme.

Damanik yang juga mantan Sekretaris Crisis Center Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) saat terjadi konflik horisontal di Poso, antara tahun 2000-2006, mengatakan, secara faktual keberadaan jaringan Santoso saat ini jauh lebih kuat dari keberadaan TNI – Polri di sana.

Damanik menyarankan untuk menangkap Santoso, sebaiknya dilakukan negosiasi dan mediasi, karena strategi ini kelihatannya lebih ampuh dan efektif.

“Kecuali kalau masalah keamanan Poso mau dijadikan proyek oleh oleh para penguasa, maka kami tidak tahu lagi dengan hal itu,” ujarnya.

Sementara Kapolda Sulteng Brigjen Pol Idham Aziz menyebutkan, sekitar 50 orang pendukung dan simpatisan yang diduga terlibat dalam jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso, sudah ditangkap di Poso dalam kurun setahun terakhir.

“Di antaranya ada yang meninggal dunia dan masih hidup,” kata Idham Azis.

Menurut Kapolda, ada tiga kesulitan atau kendala sehingga Santoso belum berhasil ditangkap.

Pertama, Santoso dan jaringannya mengetahui kondisi di medan di Poso. Kedua, hampir sebagian besar masyarakat Poso Pesisir Utara adalam simpatisan kelompok Santoso untuk memberikan suplai logistik.

Ketiga, masalah ideologi yang mereka bahwa perjuangan yang ingin dicapai adalah menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.

Data yang dimiliki SP, korban tewas terakhir yang diduga ditembak kelompok Santoso adalah Serka Zaimuddin, anggota Yonif Raider 712 Manado, Sulawesi Utara. Dia ditembak mati tanggal 29 November 2015.

Kemudian, sebelumnya pada 6 November 2015, pasukan Brimob berhasil menembak mati Hasan, asal Bima, NTT, diduga anggota kelompok Santoso. Hasan ditembak di Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong.

Sebelumnya bulan Agustus 2015, seorang anggota Brimob dari tim gegana Poso, Iptu Brian Teofani, ditembak mati di pegunungan Poso Pesisir, saat sedang mengevakuasi mayat terduga terorisme yang diidentifikasi bernama Urwah alias Bado.Urwah berhasil dilumpuhkan aparat sehari sebelumnya, dengan barang bukti berupa bom dan satu pucuk senjata api jenis M/60.