Ini Alasan Paman Kim Jong Un Cari Suaka

Pemimpin Korut, Kim Jong Un

Ri Gang, paman pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, pertama kali mengungkapkan alasan terkait pelariannya ke Amerika Serikat. Dia dan istrinya memutuskan mencari suaka ke Amerika Serikat dari Swiss pada tahun 1998, karena mereka merasa ketakutan atas efek dari konflik kekuasaan pasca wafatnya mantan pemimpin Kim Jong-il dan kekuasaan tanpa kenal ampun atau tanpa belas kasihan. Istri Ri, Ko Yong-suk adalah adik perempuan dari ibu pemimpin Kim Jung-un, Ko Yong-hee. Ibu Kim, Ko Yong-hee dilaporkan sudah meninggal akibat kanker.

Pemimpin Kim Jong-un sudah menjadi penguasa selama 4 tahun, tepatnya pada tgl. 17 Desember mendatang. Sejauh ini pemimpin Kim memperkuat kekuasaannya dengan “menghilangkan” lawan politiknya. Dalam proses itu, beberapa pejabat tinggi dalam rezimnya satu persatu telah dieksekusi mati atau digulinggkan, termasuk Ri Yong-ho, Jang Song-thaek, Hyun Yong-cheol dan Choi Ryong-hae.

Setelah pemimpin tertinggi Kim Jong-il meninggal, panglima militer Ri Yong-ho dicopot dari jabatannya pada bulan Juli tahun 2012, karena Ri dilaporkan merasa pesimis dengan proses pengendalian militer oleh pemimpin Kim Jong-un.

Pada bulan Desember tahun 2013, Kim Jong-un melakukan eksekusi mati terhadap Jang Song-thaek, orang nomor 2 rezim Korea Utara dan juga pamannya. Pada bulan April, menteri pertahanan Hyun Yong-cheol juga ditembak mati secara terbuka tanpa proses pengadilan, maka kekejaman rezim Kim Jong-un berulang lagi disoroti oleh dunia internasional. Pada awal bulan lalu, sekretaris Partai pekerja, Choi Ryong-hae dikirim ke suatu daerah di Korea Utara untuk mendapat pendidikan ideologi.

Lembaga strategis keamanan nasional di bawah badan intelijen Korea Selatan memastikan jumlah pejabat tinggi Korea Utara yang telah dieksekusi dalam 4 tahun terakhir mencapai hampir 100 orang.

Para pengamat memandang Kim Jong-un berhasil memperkuat landasan kekuasaannya selama 4 tahun ini, melalui serangkaian eksekusi dan pencopotan jabatan lawan politiknya. Namun, para pengamat juga mengatakan kelangsungan kekuasaan seperti itu dapat menjadi pedang bermata dua. Dalam jangka pendek, politik takut itu dapat berkontribusi pada stabilitas rezim, tapi dalam jangka panjang, loyalitas elit Korea Utara terhadap kelompok kekuasaan akan melemah, dan akan memicu ketidakpastian rezim.