Saatnya Pulang dan Membangun Jet Tempur Indonesia

Waktu kecil, saya diberi oleh ayah dua stiker dari PT.DI (dulu IPTN). Satu stiker CN235 berbentuk persegi panjang dan satu stiker NB0-105 berbentuk bulat. Senang sekali rasanya memiliki stiker itu. Saya pun merasa kagum, Indonesia telah bisa membuat pesawat dan helikopter sendiri.

Dari situlah saya mulai cari tahu tentang IPTN. Saya pun berkesimpulan, IPTN tidak bisa lepas dari sosok BJ Habibie yang mau meninggalkan pekerjaannya di Jerman dan mengabdikan ilmunya di IPTN, kembali ke tanah air.

Pikiran itu muncul kembali setelah hari ini saya membaca komentar mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo, yang kini menjabat Utusan Khusus Indonesia untuk Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Kepada Kompas.com Indroyono Soesilo mengatakan “kaderisasi dan transfer ilmu harus terus berjalan di PT DI”.

“Harus diturunkan ke yang muda. Kalau tidak, kemampuan Indonesia bikin pesawat terbang akan habis,” ucapnya. “Kalau tidak diturunkan, kemampuan rancang bangun bangsa kita akan hilang,” tegasnya.

“N219 sekaligus menjadi sumbangsih terakhir engineer dirgantara Indonesia di era awal, dari 1970an dan 1980an,” kata Indroyono, saat berbincang dengan Kompas.com, Rabu (10/12/2015).

Jika kita ingat kisah CN-235, maka pernyataan Indroyono Soesilo, nyambung dengan kisah tersebut. CN-235 terbentuk karena BJ Habibie dan sejumlah rekan menurunkan ilmu yang mereka dapat ke IPTN. Dan upaya itu sangat didukung oleh Presiden Soeharto kala itu.

Saya jadi teringat dengan kisah Pakistan yang hendak membuat senjata Nuklir. Senjata Nuklir Pakistan berhasil dibangun, karena ilmunya diturunkan bapak nuklir Pakistan yang kala itu bekerja di Lembaga Nuklir NATO di Belanda. Dia pun memilih pulang ke tanah air untuk menurunkan ilmunya dan disokong pemerintah Pakistan.

Sebenarnya saya agak bersedih. Tahun 1980-an, kita sudah bisa membuat pesawat CN235 (2 engine, 35 penumpang, Casa- Spanyol, Nurtanio -Indonesia). Kini di tahun 2015 kita meluncurkan N-219 (Nurtanio/Nasional, 2 Engine dan 19 Penumpang). Padahal kala itu, setelah meluncurkan CN-235, Indonesia berencana membangun pesawat yang lebih besar N-250 dan N-2130. Tapi tak apa. Kehidupan memang pasang surut, tinggal bagaimana kita menyikapinya secara positif.

Sekarang momen kebangkitan itu telah tiba. Indonesia melalui PTDI telah menandatangani kerjasama pembuatan jet tempur KFX/IFX dengan KAI Korea Selatan. Sebagian dana telah dikucurkan. Hanggar perakitan prototype KFX/IFX sedang dibangun di IPTN Bandung.

Saya tahu tidak semuanya antusias menyambut proyek KFX/IFX ini. Syukurlah Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, bersemangat mendorong proyek jet tempur Indonesia ini. Ada juga yang berpikiran, saat KFX/IFX jadi tahun 2020+, akan telah ketinggalan jaman dan susah dipasarkan/ diproduksi masal.

Bagi saya, pembangunan jet tempur KFX/IFX tidak semata urusan harus laku dijual pada tahun 2020+ dan bisa bersaing dengan jet tempur lain. Banyak hal lain yang diperoleh Indonesia jika bisa mewujudkan jet tempur Indonesia.

Kini pemerintah telah menandatangani, mengucurkan dana dan membuatkan hanggarnya. Jika mengacu pada kisah di atas, ada satu lagi yang harus dilakukan bangsa Indonesia. Memanggil atau secara sukarela, mengajak para ahli penerbagan Indonesia yang kini bekerja di luar negeri, untuk kembali ke ibu pertiwi, membangun jet tempur untuk negerinya. Kita akan melihat seberapa besar cinta penduduk Indonesia terhadap negerinya, atau negeri ini akan terpuruk, begini begini saja. Hidup berjalan normal, tidak ada lompatan-lompatan. (JKGR).