Hadapi Perang Hibrid, Rusia Bersiap Diri (2)

Perang hibrida digunakan untuk menyebut serangkaian serangan infromasi yang mungkin berlangsung selama lima sampai sepuluh tahun. Pada tahap ini, kekuatan oposisi dibentuk di negara yang diserang dengan memanfaatkan kalangan anak muda yang mendukung nilai-nilai Barat. Kemudian, tekanan eksternal diberikan melalui instrumen ekonomi. Itulah cara mempersiapkan “revolusi warna” dan pergantian rezim. Penggunaan metode militer diminimalisir dan dilakukan dalam bentuk serangan jarak jauh tanpa melibatkan pasukan darat.

Perang yang Sempurna

Pengembangan strategi perang baru ini merupakan pencapaian dalam sejarah umat manusia, karena kini strategi perang disusun oleh politisi dan ekonom, bukan oleh kalangan militer. Negara yang memanfaatkan strategi perang hibrida memiliki risiko kekalahan yang kecil, bahkan tak akan menghadapi kerugian finansial, karena hal tersebut ditanggung oleh negara yang diserang. Mereka perlu menjaga kehadiran para tentara untuk menghindari protes sosial, seperti yang terjadi pada Perang Vietnam.

https://youtu.be/TnZMy1WWjZs

VIDEO: Pesawat NATO Mengempung Pesawat Pegebom Rusia

“Jika kita mempertimbangkan tiga aspek yang berperan dalam perang hibrida: ekonomi, informasi, dan militer—Rusia telah siap menghadapi dua di antaranya,” kata pakar militer independen, kolonel purnawirawan Mikhail Timoshenko.

“Sulit untuk menekan kita secara ekonomi karena kita sudah pernah bertahan pada periode Soviet, ketika blokade dilakukan jauh lebih kuat dari saat ini. Secara militer, Rusia juga telah mengadaptasi situasi modern dan mampu menghadapi tantangan di wilayah sekitar perbatasan. Senjata nuklir dan sistem persenjataan modern masih efektif untuk digunakan. Titik kelemahan kita dalam perang hibrida terletak pada segi informasi. Kita tertinggal dari segi informasi sejak masa Uni Soviet. Selain itu, kesulitan bahasa juga menjadi tantangan tersendiri. Seluruh dunia berbicara dalam bahasa Inggris, dan kini semakin sedikit negara yang masih mempertahankan bahasa Rusia. Barat yang direpresentasikan oleh NATO jelas mendapat keuntungan dari hal ini. Tapi, bidang informasi biasanya bergantung pada ekonomi, sehingga keamanan situasi di Rusia akan bergantung pada kesuksesan pembangunan ekonomi.”

Salah satu kunci Rusia menghadapi perang hibrida adalah kehadiran lembaga Pusat Manajemen Pertahanan Nasional (National Defense Management Center) yang didirikan pada 2014. Lembaga tersebut merupakan alat baru yang digunakan untuk memantau, menganalisis, serta merespon semua ancaman keamanan nasional secara efisien. Untuk ancaman militer, pemimpin negara dan semua cabang pemerintah dapat saling berkoordinasi dengan militer dan lembaga keamanan lain melalui wadah Pusat Manajemen Pertahanan Nasional. (habis)