Bisa Dibayangkan, Jika Para Genius ini Dikumpulkan di Indonesia

Gambar artistik X-47B di dek aircraft carrier (photo : Northrop Grumman)

California – Seperti yang kita ketahui latar belakang para Warjager di sini memang beragam, jadi wajarlah jika ada perbedaan pandang. Apa yang saya ceritakan di atas memang terjadi dan inilah salah satu (atau sebagian besar) yang ter-kooptasi dalam hal Litbang yang menjadi corak di negeri kita. Mudah mudahan kita dapat mengambil hikmah dari sisi positif dan belajar dari konundrum negatif.

Kalau saya boleh cerita -hanya di CONUS (Continental US) saja-, para pakar pabrikan dan industri pengembang senjata yang berasal dari Indonesia memang tidak banyak dibanding pakar yang berasal dari negara Asia lain seperti Jepang, India, Chinese (bukan Chung Kuo), Philippines, dan lain-lain. Mereka justru menduduki posisi kunci dan merupakan pakar utama.

Saya mengenal beberapa rekan dari Raytheon baik yang di Florida maupun di California, yang juga turut mengembangkan Patriot missile defense system. Banyak juga insinyur lulusan Indonesia yang bekerja di Boeing, baik civilian aircraft maupun Military Aircraft Industries serta Boeing Advanced Weapon Division. Maupun kawan kawan dari Northrop Grumman, yang ikut dalam membidani terobosan baru kerja bareng dengan Lockheed Martin dengan project Pegasus X47 UCAV untuk US Navy.

Jangan katakan mereka tidak nasionalis, MEREKA MASIH MEMPERTAHANKAN STATUS WARGA NEGARA INDONESIA, walaupun sudah ditawarkan untuk ditasbihkan menjadi US Citizen secara khusus. Mereka lebih memilih status LPR (Legal Permanent Resident) daripada menjadi US Citizen. Walau banyak di antara mereka yang sudah menetap di Amerika lebih dari 20 tahun.

Menjadi US Citizen, terutama bagi yang bekerja dalam hal hal yang bersifat MILITARY SENSITIVE memiliki banyak keuntungan, terutama Security Clearance Level untuk hal hal yang bersifat sangat rahasia. Bagi yang bukan citizen walaupun keahlian mereka dibutuhkan, selalu mendapat pengawasan melekat dan proses yang sangat ribet. Walau diperlakukan dengan amat hormat.

Para diaspora ini, masih menganggap dan berharap bahwa suatu hari nanti, temuannya dan ilmunya dapat dipakai bagi generasi penerus di tanah airnya.

Bisa dibayangkan, jika para genius ini DIKUMPULKAN di Indonesia, untuk merancang dan membuat pesawat tempur di Indonesia. Hasilnya akan membuktikan bahwa bangsa kita bukan bangsa tempe.

Masalahnya, kita (Indonesia) harus peka dan kritis terhadap perkembangan dan minat terhadap tehnologi terutama yang berhubungan dengan pertahanan. Jujur saja, kita terlalu dininabobokkan dan ter-kooptasi (terpenjara dengan pemahaman yang keliru secara sengaja dan diamini bersama sama) yang dibangun oleh orde pemerintahan sebelumnya. Entah sadar atau tidak, kita ini sudah terbiasa terbius untuk MEMBANDINGKAN dan MENGKONSUMSI secara INSTANT karena kebanyakan mengkonsumsi Proyek Mercusuar yang isinya tidak lebih dari pepesan kosong guna kepentingan suatu tatanan.

Rakyat dan pemerintah Republik Indonesia tidak dapat secara jeli dan jelas melihat kondisi secara telanjang, dan apa adanya dalam menilai carut marut birokrasi yang berhubungan dengan pengembangan tehnologi dan sistem pertahanan. Maunya serba cepat, hebat, keren, dahsyat, murah dan diberi contekan dalam membuat. !! Silogismenya sama dengan mau beli mobil hebat tetapi harus mati matian menggadai rumah bapaknya dulu. Tanpa mau bersusah payah untuk menabung yang membutuhkan disiplin dan gaya hidup yang sesuai.

Juga menggampangkan segala cara, dengan analogi analogi terhadap barang atau peristiwa masa lampau yang sekarang ini taraf relevansinya sudah tidak signifikan. Ayo bangun dari mimpi !

Ciptakan wadah, sarana dan prasarana jika Republik Indonesia menghendaki para pakar ini berkiprah untuk kemajuan Indonesia. Jangan cuma mampu menuding mereka dengan isu nasionalisme dengan bersembunyi memakai alasak klasik DUITE SOPO?

Let gone be by gone, today is the present and tomorrow is the future. Keep moving forward, with dignity and self-reliance. For every single drop of a hard working sweats, will be a building block for future generations to benefit mankind in the quest of time. Brotosemedi’s speech at Navy Air Weapon Station at China Lake, California saat uji perdana UCLASS.

Tabik, kepada para Warjager semua dan sesama tukang kenteng pesawat di manapun anda berada.

 

Brotosemedi

——

Redaksi : Diambil dari komentar Brotosemedi di artikel : Catatan Engineer Indonesia yang Bekerja di Luar Negeri