Melihat Pulau Buatan Cina di Laut Cina Selatan

Karang Subi pada 2015, dari atas tampak pembangunan yang dilakukan pemerintah Cina.

Tahun lalu, jurnalis BBC Rupert Wingfield-Hayes melintasi Laut Cina Selatan dengan kapal nelayan dan menjadi jurnalis pertama yang mengamati dari dekat bagaimana pemerintah Cina membangun pulau-pulau di atas batu karang. Beberapa hari lalu, ia kembali ke wilayah itu menggunakan pesawat kecil dan memancing reaksi keras dan ancaman dari Angkatan Laut Cina.

Pulau koral, karang, dan tumpukan pasir yang dikenal dengan nama Kepulauan Spratly itu adalah tempat yang sangat sulit didatangi. Sebagian dikuasai Vietnam, yang lain oleh Filipina, satu pulau oleh Taiwan, dan tentu saja ada sejumlah pulau yang dikuasai Cina.

Jangan harapkan undangan dari Beijing. Percayalah, saya sudah mencobanya. Hanya pemerintah Filipina yang akan mengizinkan Anda mengunjungi pulau kecil sepanjang 400 meter bernama Pagasa. Ukurannya cukup besar untuk pendaratan satu pesawat kecil.

Setelah perencanaan dan negosiasi yang memakan waktu berbulan-bulan, saya duduk di kamar hotel di Manila. Saya telah berkemas dan siap berangkat ketika telepon berdering. Itu dari kolega saya, Chika.

“Izin pendaratan kita di Pagasa telah dicabut!” katanya.

Saya khawatir. Apa yang terjadi? Apakah pemerintah Filipina diancam? Presiden Cina, Xi Jinping, rencananya akan berkunjung. Mungkinkah Manila tidak mau membuat perkara?

Ternyata kenyataannya lebih buruk. Entah bagaimana, Beijing tahu rencana kami.

Selanjutnya editor saya menelepon dari London.

“Kedutaan besar Cina baru saja menelepon. Mereka memperingati kalau bisa jadi masalah jika BBC berusaha mengunjungi apa yang mereka sebut wilayah ilegal yang diduduki Filipina di Laut Cina Selatan,” ujarnya.

Saya kesal pada diri sendiri. Bagaimana mereka tahu? Harusnya saya lebih hati-hati.

Maka selama seminggu, saya terpaksa duduk-duduk di kamar hotel dan menyaksikan Presiden Xi datang dan pergi. Lalu kami kembali bernegosiasi… sampai akhirnya pemerintah Filipina mengalah. Kami bisa pergi.

Pada 05.30 kami berlima berkumpul di landasan terbang Puerto Princesa, di Pulau Palawan, Filipina. Dua pilot, satu teknisi, Jiro si juru kamera , dan saya. Di hadapan kami, pesawat kecil bermesin tunggal Cessna 206.

Jiro dan saya saling bertatapan.

“Ya Tuhan,” saya pikir. “Apa kita akan terbang selama lebih dari tiga jam, melintasi samudera, dan mendarat di pulau kecil dengan benda itu?”

Bahkan para pilot tampak gugup, dengan alasan yang masuk akal – belum ada yang pernah mencoba apa yang akan kita lakukan.

Setelah mengangkut peralatan kamera ke pesawat dan mengisi bahan bakar, kami terbang. Beberapa menit kemudian kami melewati pegunungan Palawan yang hijau, dan di hadapan kami terbentang perairan biru Laut Cina Selatan.

Rencana kami sederhana, meski menakutkan.

Dari Palawan kami berencana terbang langsung ke Pagasa, mendarat dan mengisi bahan bakar. Lalu kami terbang ke arah barat daya dan mengitari pulau karang yang dikuasai Cina, bernama Palang Api, tempat Cina membangun markas besar angkatan udara dan laut.

Kami akan kembali ke Pagasa dan mengisi bahan bakar. Akhirnya kami akan terbang ke Palawan lewat Karang Jahat. Ini adalah pulau karang lainnya yang dikuasai Cina, sangat dekat dengan Filipina, tempat berlangsung reklamasi lahan besar-besaran pada tahun ini.

Tujuan kami ada dua: pergi sedekat mungkin ke pulau-pulau baru yang dikuasai Cina demi merekam pekerjaan konstruksi yang sedang berlangsung dan, tak kalah penting, melihat reaksi pemerintah Cina.

Cina terikat Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS), yang telah diratifikasi. Hukum itu menyatakan struktur di bawah laut, misalnya karang, tidak dapat diklaim sebagai garis pantai negara yang berdaulat, dan membangun struktur artifisial di atasnya tidak menjadikannya wilayah negara.

Negara yang memiliki pulau alami dapat mengklaim batas sejauh 22,2 km dari situ, baik di laut maupun udara. Namun kepada struktur buatan tidak dikenakan hak semacam itu. Dengan kata lain, kami bisa menerbangkan pesawat tepat di atas pulau-pulau buatan Cina tanpa melanggar hukum internasional, dan pemerintah Cina tidak berhak menghalangi penerbangan kami.

Ketika pesawat kami terbang dari landasan terbang berkerikil di Pagasa, hati saya berdebar kencang, semangat sekaligus gugup.

Setengah jam penerbangan kemudian, di bagian selatan pulau, saya melihat sepetak pulau berwarna kuning dari jendela. Di atasnya terdapat benteng pertahanan besar berwarna putih. Saya langsung mengenalinya dari gambar satelit.

“Itu Karang Gaven!” saya berteriak ke Jiro di tengah-tengah keriuhan bunyi mesin. “Ingat, kita berlayar melaluinya tahun lalu. Mereka baru mulai konstruksi pada waktu itu.”

Pulau Pagasa, Filipina.

Ketika kami mendekat sampai 20 mil laut (37,04km) radio kembali berbunyi.

“Pesawat militer asing di barat laut Pulau Yongshu, ini angkatan laut Cina, Anda mengancam keamanan pos kami!”

Kali ini pilot merespons dengan segera, membelok tajam ke utara, menjauhi karang.

“Kita harus mendekat!” Saya memohon kepada kapten. “Kita harus kembali, kita tak bisa mengambil film dari sejauh ini!”

Tak ada gunanya.

“Maafkan saya,” ia bilang. “Kami harus menuruti perintah.”

Peringatan sebelumnya telah membuat pilot sangat tertekan. Saya kecewa. “Kami tak akan mendapatkan apa-apa,” saya pikir.

Di Pagasa, sambil mengisi bahan bakar, saya membujuk pilot.

“Bagini,” saya bilang. “Kita tidak melanggar hukum apapun, angkatan laut Cina tidak akan menembak kita. Anda harus mempertahankan jalur penerbangan Anda, dan Anda harus merespons mereka dan mengatakan kalau kita adalah pesawat sipil yang terbang di wilayah udara internasional.”

“Anda harus mengerti, kami ini pilot dari warga sipil, bukan militer,” mereka membalas. “Kami tidak tahu apa yang akan mereka lakukan kepada kami, kami harus utamakan keselamatan.”

Akhirnya, setelah berjam-jam negosiasi, mereka setuju untuk mencobanya.

Kami terbang untuk ketiga kalinya, kini kembali menuju Filipina. Ketegangan saya tak tertahankan. Apakah para pilot akan bertahan?

Tak lama kemudian, dari jauh, bulan sabit berwarna kuning muncul di bawah kami, bentuk yang tak salah lagi pasti Karang Jahat (Meiji dalam bahasa Mandarin). Pilot menurunkan pesawat sampai 1,5km. Pada jarak 12 mil laut (22,2 km) kami kembali mendapat peringatan.

“Pesawat militer asing di barat daya Karang Meiji, ini angkatan laut Cina, Anda mengancam keamanan pos kami!”

Dengan tenang, kapten merespon, “Angkatan laut Cina, ini pesawat sipil Filipina sedang menuju Palawan, membawa penumpang warga sipil. Kami bukan pesawat militer.”

Percuma saja.

“Pesawat militer asing di barat daya Karang Meiji, ini angkatan laut Cina!”

Peringatan terus berlanjut.

Tapi kali ini pilot kami tetap tenang. Pada jarak 12 mil kami mengitari bagian utara pulau buatan yang besar itu.

Di bawah kami dapat melihat laguna yang dipenuhi kapal, kecil maupun besar. Di daratan yang baru dibuat, tampak pabrik semen dan fondasi bangunan

Lalu, setelah kami berputar-putar, untuk pertama kalinya kami melihat penampakan jelas landasan terbang Cina yang dibangun di sini, hanya 140 mil laut (259,28 km) dari pesisir Filipina. Saya berhitung-cepat. Jet tempur Cina dari sini akan sampai ke pesisir Filipina dalam waktu delapan atau sembilan menit.

Ketika kami kembali ke Filipina, kami semua merasa lega. Kita berhasil! Saya bercanda dengan kapten kalau kita sebaiknya kembali dan terbang rendah.

Lalu dari radio muncul suara yang sangat berbeda, dengan logat berbeda.

“Angkatan Laut Cina, Angkatan Laut Cina,” kata suara itu. “Kami pesawat Australia yang menjalankan hak kebebasan navigasi internasional, di wilayah udara internasional menurut konvensi internasional penerbangan sipil, dan UNCLOS – ganti”

Amerika serikat telah melakukan penerbangan dan pelayaran berdasarkan hak kebebasan navigasi dalam beberapa bulan belakangan ini, termasuk satu penerbangan dengan pesawat pengebom B-52. Namun Australia belum pernah mengumumkan bahwa mereka melakukan hal yang sama – jadi ini terasa seperti berita eksklusif kecil-kecilan.

Kami mendengar pesan dari Australia diulang beberapa kali, namun tidak mendengar respon dari pihak Cina.

Tujuan penerbangan seperti itu ialah menunjukkan kepada Cina bahwa negara seperti Australia dan AS tidak mengakui pulau buatannya.

Tapi pulau-pulau itu tetap ada dan Cina telah memberlakukan dengan ketat zona eksklusif 12 mil laut di sekitarnya, atau berusaha melakukannya. Di Palang Api peringatan itu mulai diberikan pada 20 mil.

Cina telah sukses menciptakan “fakta baru di lapangan”. Mereka membangun landasan terbang, stasiun radar, dan fasilitas pelabuhan dalam air. Di Manila pada bulan lalu, Presiden AS Barack Obama mengatakan bahwa Cina harus “menghentikan pembangunan” dan “tidak memilitarisasikan” wilayah ini.

Berdasarkan apa yang saya lihat dan dengar, itu jelas sudah terlambat.

BBC Indonesia