Operasi Militer TNI Dari Masa ke Masa (2)

5. Operasi Mapenduma (1996)
Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma adalah operasi militer untuk membebaskan peneliti dari Ekspedisi Lorentz 95 yang disandera Organisasi Papua Merdeka. Operasi ini sebagian besar anggotanya berasal dari Kopassus. Operasi dimulai tanggal 8 Januari 1996 sejak dilaporkannya peristiwa penyanderaan tersebut, dipimpin oleh Komandan Kopassus Prabowo Subianto. Operasi berakhir tanggal 9 Mei 1996 setelah penyerbuan Kopassus ke markas OPM di Desa Geselama, Mimika. Dalam penyerbuan ini, 2 dari 11 sandera ditemukan tewas, Matheis Yosias Lasembu, seorang peneliti ornitologi dan Navy W. Th. Panekenan, seorang peneliti biologi. sementara 8 anggota OPM tewas dalam baku tembak jarak dekat.
Operasi Militer Ini Di Sebut Sebagai “MISSION IMPOSSIBLE” oleh Media Internasional. Biasanya Peta yg di gunakan untuk Perang atau Operasi Militer adalah 1:25.000 atau 1:50.000. tapi ketika itu Kopasus hanya memiliki Peta 1:1000.000. Bahkan Pasukan Militer inggris SAS(Special Air Service) yang Jg Pasukan Elite Terbaik Dunia mengatakan Operasi Mapenduma tidak akan mungkin berhasil hanya James Bond yang bisa Melakukan nya.
6. Operasi Terpadu (2003-2004)
Patroli kaki TNI di Samalanga, Aceh, Mei 2003. Selama hari-hari awal kampanye militer, prajurit TNI diminta untuk mengenakan syal bendera Indonesia. Ini untuk membedakan mereka dengan lawan mereka yang mengenakan kamuflase BDU DPM inggris sama seperti TNI.

Operasi militer Indonesia di Aceh (disebut juga Operasi Terpadu oleh pemerintah Indonesia) adalah operasi yang dilancarkan Indonesia melawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dimulai pada 19 Mei 2003 dan berlangsung kira-kira satu tahun. Operasi ini dilakukan setelah GAM menolak ultimatum dua minggu untuk menerima otonomi khusus untuk Aceh di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Operasi ini merupakan operasi militer terbesar yang dilakukan Indonesia sejak Operasi Seroja (1975), dan Pemerintah mengumumkan terjadinya kemajuan yang berarti, dengan ribuan anggota GAM terbunuh, tertangkap, atau menyerahkan diri. Operasi ini berakibat lumpuhnya sebagian besar militer GAM, dan Bersama dengan gempa bumi dan tsunami pada tahun 2004 menyebabkan berakhirnya konflik 30 tahun di Aceh.

7. Operasi Pembebasan Sandera Kapal Sinar Kudus (Somalia)
Bisa di katakan ini Operasi Senyap, . karena berstatus sangat rahasia sekali. Saat itu Presiden SBY tidak mau membeberkan rencana operasi tersebut. “Orang pada ribut, kita dianggap diam saja, mereka bilang mana harga diri kita. ini ini, mana itu. Padahal tidak mungkin saya mengatakan sudah berangkat seminggu yang lalu. kekuatan segini sekarang posisisnya disini, ” ujar SBY dengan nada tinggi. “Kita dikejar pers, pengamat, politisi saya bilang jangan dibocorkan. Tidak mungkin operasi militer itu diberitahukan kapan waktu-nya, tempatnya itu, lautnya begini, kekuatan begini sama saja setor nyawa,” kata SBY menegaskan .
Pasukan terdiri dari Kopaska, Denjaka Korps Marinir, Sandi Yudha Kopasus, Kostrad dengan Alutistas dua KRI, satu helikopter BO-105 dan empat sea raider. Kemudian awak TNI AU dengan kru 16 personei dibawah pimpinan Kapten pilot Letkol Penerbangan Renard Siregar sebagai angkutan penerbangan Satgas Merah Putih. Ketiga angkatan personel pasukan penguatan Satgas Merah Putih dibawah Mayjen Alfan Baharudin yang berjumlah 488 personel yang terdiri dari ABK dan Kopaska dengan alutista KRI Banjarmasin, satu helikopter, tujuh Sea Raider, dan beberapa alat tempur lain. Kemudian terakhir Satgas Intel gabungan sebanyak 15 orang.
Seandainya Operasi Militer itu tidak di lakukan, TNI akan Menduduki Kampung Bajak Laut lepas Pantai Ceel Dhahanaan (El Dhanan). Guna mendukung rencana menduduki pantai Somalia itulah, dua kapal fregat yang diberangkatkan ke perairan Somalia juga membawa serta lima buah tank BNP3F milik Korps Marinir TNI AL. Selain tank, Satgas pembebasan sandera juga membawa sejumlah artileri lain. Di pantai itu, bermukim ribuan perompak dan keluarganya. Kabarnya, opsi khusus ini juga disetujui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan, Panglima Tertinggi TNI itu juga memerintahkan TNI “menguasai” pantai yang hanya berjarak 500-600 meter dari kampung para perompak itu. “Pantai itu diduduki untuk mencegah bantuan dari darat pada saat operasi pembebasan Sinar Kudus dilakukan,” kata Komandan Korps Marinir TNI AL, Mayor Jenderal (Mar) Alfan Baharudin.
Perintah Presiden itu diberikan saat membahas rencana operasi pembebasan sandera di Istana Cipanas, 16 April 2011. Alfan, yang juga ditunjuk sebagai Komandan Satgas “Merah Putih” ini beralasan, El Dhanan memiliki posisi yang strategis untuk mencegah perompak mengerahkan bala bantuan saat kapal Sinar Kudus disergap pasukan TNI. Sebab, jarak kapal Sinar Kudus ketika lego jangkar hanya sekitar 3,5 Nautical Mile saja dari bibir pantai El Dhanan. “Ini sangat dekat untuk mengerahkan bantuan,” ujar Alfan. Rencana menduduki kampung perompak di daratan ini sudah mendapat restu dari Presiden SBY dan Pemerintah Somalia. (habis)