Tentukan Pilihan, Montenegro Didesak Gelar Referendum

Unjuk Rasa Anti-Nato
Rusia menyerukan Montenegro untuk menggelar referendum guna menentukan bergabung atau tidaknya dengan NATO. Menurut Rusia, langkah itu perlu dilakukan mengingat sikap masyarakat Montenegro yang terpecah menyikapi hal ini.

“Situasi di Montenegro sangat sulit. Kita berbicara tentang sebuah krisis politik internal yang disertai dengan protes. Jadi, perpecahan akan bertahan dalam masyarakat Montenegro, terutama pada masalah keanggotaan NATO,” tutur Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Maria Zakharova dikutip dari laman TASS, Rabu (16/12/2015).

“Kami berpikir bahwa masyarakat Montenegro harus mengatakan pendapatnya dalam referendum untuk menyikapi hal ini. Ini akan menjadi apa yang kita sebut sebagai manifestasi demokrasi,” tambahnya.

Diketahui, Menteri Luar Negeri NATO sebelumnya secara resmi telah mengundang Montenegro untuk memulai perundingan guna bergabung degan NATO pada pertemuan puncak di Brussels pada awal Desember lalu. Pembicaraan mengenai hal ini diyakini akan berlangsung mulai dari 18 bulan sampai dua tahun.

Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg ingin secepatnya integrasi Montenegro ke dalam NATO terwujud. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa integrasi Montenegro dengan NATO tidak diarahkan untuk menentang Moskow dan tidak ada hubungannya dengan hal itu. Pasalnya, para pejabat Moskow sudah berulang kali menentang ekspansi NATO di Balkan.

Keputusan NATO mengundang negara Adriatik berpenduduk 650.000 jiwa itu, seakan mengirimkan pesan kepada Rusia bahwa Moskow tidak memiliki hak tolak terhadap perluasan NATO ke timur, meskipun tawaran keanggotaan Georgia diperumit perang dengan Rusia pada 2008.

Setelah Albania dan Kroasia bergabung dengan NATO Pada 2009, hanya Serbia, sekutu terdekat Rusia di kawasan Balkan, yang tidak aktif mengajukan permintaan keanggotaan dengan blok itu.