Langkah Jitu Sang Jenderal di Bumi Pattimura

Mayjen TNI Doni Monardo, Pangdam XVI/Pattimura

Sejak menjabat Agustus 2015, Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo langsung mengeluarkan ide-ide brilian untuk membangun wilayah yang menjadi dirinya bertugas. Langkah strategis Pagdam ini tidak lain dengan dua program andalannya, program emas biru dan program emas hijau.

Kedua program itu, lanjut Pangdam, untuk membantu mensejahterakan masyarakat di daerah Maluku yang banyak memiliki potensi kekayaan alam di bidang kehutanan, kelautan, dan perikanan.

“Adapun dasar yang dijadikan sebagai referensi adalah program pemerintahan Presiden Jokowi yang disebut dengan nawacita dan salah satu butirnya adalah membangun Indonesia dari pinggiran dimana Kepulauan Maluku yang bagian selatan itu berada pada daerah terluar wilayah nasional,” ungkap Pangdam.

Lebih lanjut, Pangdam menegaskan bahwa ketersediaan pangan sangat penting bagi penduduk dan konsumsi pangan serta gizi yang cukup sehingga menjadi basis pembentukan sumberdaya manusia yang berkualitas.

“Kenapa TNI bisa terjun dalam masalah ini, bagi kami tentu tidak bisa terlalu jauh masuk di dalam substansi bisnis ekonomi karena sesuai UU nomor 34 tahun 2004 yang menegaskan TNI adalah prajurit profesional yang dilatih dan dididik secara khusus, dibiayai negara dan tidak boleh berbisnis,” tegas mantan Danjen Kopasus ini.

Sementara itu, luas daratan Maluku kurang dari delapan persen dengan tingkat kemiskinan cukup tinggi sebenarnya dapat diatasi dengan program emas biru dan emas hijau dengan potensi kekayaan alam melimpah.

Teluk Jakarta Jakarta yang relatif mulai tercemar terdapat ribuan keramba, jaring apung, dan ribuan bagan yang bisa menghidupi puluhan ribu masyarakat di pusat ibu kota negara itu, sementara di Teluk Ambon yang jernih dan bersih tetapi tidak ada kegiatan usaha di kawasan itu.

Ketika berkunjung ke sejumlah daerah di Indonesia, hampir semua waduk dipenuhi dengan keramba ikan dan jaring apung, terasuk danau-danau air tawar dan air asin seperti dana toba dan Takengon-Aceh. Sama halnya di Sulawesi Tenggara, Bali, dan Jawa Timur juga ada budi daya ikan kerapu.

“Saya mendapat ilham dari seorang PNS Kodam Pattimura, Jefri yang sejak tahun 2009 mengumpulkan sampah plastik dan botol bekas di laut. Ia sampai sempat dicemooh jadi pemulung tetapi dia tidak surut mentalnya sehingga saat ini sudah memiliki rumah sendiri, punya tempat kos 12 kamar dan anaknya sekolah di kedokteran Unpatti,” ujar Pangdam.

Sama halnya dengan potensi kekayaan alam laut yang dikelola secara baik akan mendatangkan keuntungan bagi masyarakat karena membuka kesempatan kerja sehingga dikatakan sebagai program emas biru.

Kemudian untuk program emas hijau, tambah Pangdam, bisa dikembangkan program penanaman pohon endemik bernilai ekonomis pada lahan-lahan kosong sehingga delapan tahun kedepan sudah bisa dipanen dan meningkatkan ekonomi warga.

“Negara-negara Skandinavia bisa memiliki devisa besar dari hasil hutan, padahal lahannya tidak seluas di Maluku,” pungkas Pangdam.

Kodam Pattimura telah bekerja sama dengan DPRD untuk bisa memberikan kesempatan melatih mahasiwa, pelajar, dan masyarakat yang berminat untuk meningkatkan kemampuan mereka di bidang usaha khususnya dalam rangka mendapatkan sebuah keuntungan luar biasa dari hasil kehutanan dan budidaya perikanan.