Korea Selatan Pilih Lockheed Martin Upgrade F-16 dengan Radar AN/APG-83

Pemerintah Korea Selatan memilih perusahaan pertahanan raksasa AS, Lockheed Martin, sebagai kontraktor baru untuk proyek merenovasi sistem elektronik penerbangan jet tempur KF-16 yang sempat terbengkalai selama beberapa bulan karena tuntutan kenaikan biaya dengan mitra sebelumnya.

Di bawah program 1,84 trilun WON ($ 1.58 juta), perusahaan yang berbasis di Maryland itu akan mengganti dan meng-upgrade radar, persenjataan dan sistem elektronik terintegrasi lainnya dari 134 unit jet tempur KF-16 yang saat ini dioperasikan oleh Angkatan Udara Korea Selatan.

Selama pertemuan dari Badan akuisisi pertahanan Korea Selatan yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Han Min-koo, Seoul akan mengganti radar lama dengan radar AESA AN/APG-83 dari Northrop Grumman. Kontrak sebelumnya dilakukan dimenangkan oleh BAE Systems yang menunjuk Raytheon (AS) untuk mengganti radar AN/APG-68 dari jet tempur KF-16 Koreea Selatan.

“Lockheed Martin membuat platform F-16 dan dengan demikian memiliki banyak pengetahuan dan kompetensi tentang cara untuk mewujudkan kemampuan pesawat,” kata juru bicara Program Akuisisi Pertahanan, Kim Si-cheol pada konferensi pers.

“Setelah upgrade, jet tempur KF-16 akan mampu melaksanakan sistem peperangan terintegrasi (network-centric warfare) dan dan mengoperasi senjata termutakhir sebagai jet tempur utama Angkatan Udara Korea Selatan.”

Pada bulan Juli 2012, lembaga pengadaan senjata milik negara yang memilih perusahaan Inggris BAE Systems, dan rekannya Raytheon AS, sebagai perpanjangan tangan, untuk program upgrade dengan dana 1,75 triliun WON. Tapi sejak musim panas lalu telah terhenti, karena pemerintah AS dan perusahaan tersebut meminta kenaikan harga 800 miliar WON untuk biaya manajemen risiko.

Karena kekhawatiran harga yang melambung dan keterlambatan yang bisa membuat vakum kekuatan udara Korea Selatan, Majelis Nasional secara resmi menuntut audit oleh Dewan Audit dan Inspeksi pada 30 November 2015.

Dengan dua pesawat telah dipindahkan ke pangkalan udara AS, DAPA mengharapkan mulai menerima pesawat yang diperbaharui (refurbished) pada tahun 2018, satu tahun lebih awal dari jadwal semula.

“Kami akan menghadapi beberapa kesulitan untuk menghadapi audit yang akan datang dan harus bergerak maju dengan proyek yang ada pada saat yang sama, tetapi akan melakukan upaya maksimal untuk membersihkan setiap kecurigaan yang muncul,” kata Kim.

“Sejak Lockheed Marthin melakukan proyek upgrade secara terpisah untuk Taiwan dan Singapura, dapat memberi pengalaman dari sana untuk program kami dalam cara yang lebih menghemat biaya dan efektif.”

Oleh Shin Hyon-hee (heeshin@heraldcorp.com)