Indonesia Memperkuat Militer di Kepulauan Natuna

Indonesia berencana memperkuat kemampuan untuk mempertahankan daratan dan perairan di Laut Cina Selatan, yaitu Kabupaten Natuna dan sekitarnya yang telah dideklarasikan oleh Indonesia sebagai zona ekonomi eksklusif, namun tumpang tindih dengan “garis sembilan-dash” klaim maritim China, ujar menteri pertahanan.

“Kepulauan Natuna adalah wilayah terluar pulau kami. Adalah sangat alami dan logis bagi negara untuk mengamankan pulau-pulau terluar, “kata Ryamizard Ryacudu dalam sebuah wawancara, berbicara kepada Kyodo News menjelang “two-plus-two” security talks di Tokyo, Kamis, 17/12/2015 yang melibatkan menteri luar negeri dan menteri pertahanan Indonesia dan Jepang.

“Kita harus memperkuat kemampuan militer kita untuk mengantisipasi setiap ancaman seperti illegal fishing atau sesuatu seperti intrusi ilegal dan berbagai jenis ancaman non-tradisional yang masuk ke wilayah kami,” tambahnya.

Menurut Ryamizard, Indonesia berencana untuk menempatkan armada jet tempur dan tiga korvet ke pulau Natuna, mengubah pangkalan angkatan laut dan angkatan udara dan mengerahkan pasukan yang lebih banyak. Indonesia saat ini memiliki sekitar 800 tentara di Natuna. Tahun depan, jumlahnya akan meningkat menjadi sekitar 2.000 personil.

“Hal ini cukup wajar bahwa setiap negara akan berpikir seperti itu, karena menjaga keamanan adalah tugas negara. Setidaknya kita bisa mengontrol setiap intrusi ke wilayah kami, serta monitoring dan menjaga wilayah dari illegal fishing, “kata menteri pertahanan.

“Two-plus-two” meeting antara Indonesia dan Jepang, merupakan yang pertama kali dilakukan Jepang dengan negara anggota ASEAN. Sebelumnya, Jepang telah melakukan memiliki “two-plus-two” meeting dengan negara: Amerika Serikat, Inggris dan Australia.

Menurut Menteri luar negeri dari kedua negara, item agenda utama dari pertemuan itu adalah membahas tindakan atas situasi yang meresahkan di Laut Cina Selatan, di mana ketegangan telah meningkat. Jepang ingin mendorong Indonesia menggunakan pengaruh regionalnya untuk membantu menjaga Laut China Selatan dan memeriksa otot militer China di wilayah jalur pelayaran penting, sumber daya kelautan yang berlimpah dan diyakini kaya minyak dan gas.

Selama kunjungannya ke Jepang, Ryamizard mengunjungi prefektur basis produsen pesawat Jepang Shinmaywa Industries Ltd, yang memproduksi pesawat amfibi US-2 yang digunakan dalam operasi penyelamatan maritim.

Awal tahun ini, menteri menyatakan minatnya Indonesia untuk pengadaan pesawat ini, tapi dia mengatakan tidak jangka waktu yang telah ditetapkan, untuk itu.

The Japan Times