Kebijkan Baru : Bea Masuk Komponen Pesawat 0 Persen

Garuda Maintenance Facility

Jakarta – Pemerintah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi jilid VIII, (21/12/2015), yang berisi 3 kebijakan. Pertama, insentif bea masuk 0% untuk 21 pos tarif suku cadang dan komponen perbaikan/pemeliharaan pesawat terbang. Kedua, insentif fiskal ataupun nonfiskal untuk percepatan pembangunan kilang minyak. Ketiga, mempercepat pembuatan satu peta untuk pelaksanaan one map policy.

“Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengembangkan industri angkutan udara dengan pembelian dan penyewaan pesawat yang tumbuh kuat. Namun, kami melihat perawatan di dalam negeri sebagian besar dibawa ke luar negeri. Setelah dipelajari, sebab utamanya menyangkut spare part. Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan mempermudah kedatangan suku cadang pesawat,” kata Menko Perekonomian Darmin Nasution saat mengumumkan paket ekonomi jilid VIII di Istana Negara, Senin (21/12/2015). Darmin didampingi Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Pokok kebijakan ini merevisi lampiran Permenkeu No 132/PMK.010/2015 tentang Perubahan Ketiga atas Permenkeu No 213/PMK.011/2015 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor. Untuk besaran bea masuk 21 pos tarif terkait daftar barang dan bahan guna perbaikan dan/atau pemeliharaan pesawat udara diubah menjadi 0%.

Ketua Bidang Penerbangan Berjadwal Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Bayu Sutanto mengatakan, sebenarnya sejak 2011 pihaknya sudah mengusulkan agar bea masuk (BM) menjadi 0% untuk 27 pos tarif utama suku cadang dan komponen pesawat. Empat di antaranya sudah memperoleh bea masuk 0% sejak 2013, namun hingga sekarang belum berlaku efektif lantaran belum diterbitkan surat keputusan menteri keuangan.

“Kalau sekarang ada 21 pos tarif yang bea masuknya menjadi 0%, maka tinggal dua komponen utama lagi yang perlu dibebaskan. Jadi, berikutnya kami meminta bea masuk 0% untuk suku cadang yang belum masuk BTKI (buku tarif kepabeanan Indonesia),” ujar dia.

Sekretaris Jenderal INACA Tengku Burhanuddin mengatakan mengapresiasi kebijakan pemerintah memberlakukan bea masuk 0% untuk 21 pos tarif suku cadang dan komponen pesawat terbang. Kebijakan tersebut dapat meningkatkan daya saing maskapai penerbangan nasional.

“Kebijakan pemerintah itu semakin terasa signifikan bagi operator penerbangan nasional, lantaran pada awal tahun depan, maskapai niaga dalam negeri sudah dihadapkan pada pasar persaingan bebas regional, yaitu Asean Open Sky. Untuk maskapai dalam negeri, kebijakan ini merupakan equal treatment dengan negara Asean lain dalam menghadapi Asean Open Sky,” ucap Tengku di Jakarta, (21/12).

Selain menguntungkan bagi maskapai nasional, bea masuk 0% untuk suku cadang dan komponen pesawat itu bisa meningkatkan produktivitas produsen pesawat di dalam negeri, PT Dirgantara Indonesia (DI). DI ini merupakan badan usaha milik negara (BUMN).

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati menilai, pemberlakuan bea masuk 0% atas sejumlah komponen pesawat terbang merupakan langkah pemerintah yang bagus untuk membantu industri penerbangan nasional agar lebih efisien dan berdaya saing. Selama ini, harga komponen yang tinggi menjadi beban operasional yang memberatkan para operator.

“Dengan diberlakukannya bea masuk 0% untuk sejumlah komponen pesawat, beban yang harus dipikul industri penerbangan menjadi berkurang. Industri penerbangan akan fokus bagaimana menciptakan daya saing dengan memberikan pelayanan yang lebih aman, nyaman, dan efisien bagi para penumpang,” kata Enny Sri Hartati di Jakarta, Senin (21/12).

Investor Daily / Beritasatu.com