Kota Ramadi Diserang Pasukan Irak, ISIS Kocar Kacir

Militer Irak merangsek masuk ke pusat kota yang dikuasai Islamic State (IS) pada hari Selasa (22/12/2015) dalam operasi besar untuk  menguasai kembali  kota Ramadi yang sejak Mei dikendalikan IS, lansir Aljazeera, Selasa. Serangan terhadap ibukota provinsi Anbar dimulai pada Selasa pagi, juru bicara tentara unit pasukan khusus  kepada kantor berita AFP.

“Kami bergerak menuju pusat Ramadi dari beberapa arah dan kami mulai membersihkan daerah pemukiman. Kota ini akan diduduki dalam 72 jam mendatang,” kata Sabah al-Noman. “Kami tidak menghadapi perlawanan yang kuat, hanya penembak jitu dan pelaku bom martir dan ini adalah taktik yang kami harapkan.”

Ramadi adalah sebuah kota penting dalam memerangi Islamic State (IS), dan dikuasainya kota ini oleh IS dipandang sebagai kekalahan besar, reporter Al Jazeera Imran Khan melaporkan. “Ramadi adalah kota terbesar di provinsi terbesar Irak dan jantung dari masyarakat Sunni Irak. Ramadi  juga sebuah basis perdagangan besar bagi IS dengan jalan menuju ke Yordania dan Suriah.”

Jatuhnya Ramadi adalah kekalahan terbesar pemerintah Irak sejak IS menyerang wilayah di utara dan barat negara itu – termasuk kota terbesar kedua di Irak, Mosul – pada musim panas 2014. Pada awal serangan hari Selasa, IS melakukan serangan bom martir terhadap tentara dan milisi Syiah yang berkumpul di desa Bu Dhiyab di utara Ramadi, menewaskan 14 dari mereka, sumber militer mengatakan kepada Al Jazeera.

 

17 tentara dan milisi lainnya terluka dalam ledakan

Dalam insiden terpisah, sedikitnya delapan warga sipil, termasuk beberapa anak, tewas dalam serangkaian serangan udara di daerah perumahan di utara Ramadi, kata sumber-sumber. Ramadi, yang terletak sekitar 120km dari ibukota Baghdad, dikuasai oleh IS bulan Mei, namun pasukan Irak telah berhasil merebut kembali beberapa wilayah. Militer mengatakan sekarang menguasai lebih dari setengah kota, termasuk pusat komando militer utama.

Seorang juru bicara militer AS memprediksi pegambilalihan Ramadi oleh pasukan Irak sebagai peristiwa yang tidak terelakkan, tapi Kolonel Steve Warren juga mengatakan bahwa operasi itu akan menjadi pertarungan yang sulit yang akan banyak memakan waktu. Militer AS mengatakan penasihat Amerika masih di berada di luar kota di sebuah pangkalan udara gurun yang digunakan sebagai tempat pelatihan, menurut Associated Press.

 

Sumber: berbagai sumber