Ribuan Anggota ISIS Segera Dievakuasi dari Damaskus Selatan

Beirut – Lebih dari 2.000 anggota ISIS dan militan lain dari wilayah Damaskus selatan segera di evakuasi, atas kesepakatan yang ditengahi PBB.

Kelompok pengawas HAM Independent untuk Suriah yang berbasis di Inggris, mengatakan evakuasi yang sebelumnya akan dilaksanakan Sabtu, 26/11/2015, telah ditunda karena tidak ada wilayah yang aman untuk dilintasi para pemberontak ini.

Stasiun televisi Manar milik kelompok Hezbollah dari Lebanon melaporkan wilayah aman untuk dilintasi para anggota militan itu dikuasai oleh kelompok Jaysh al Islam. Namun, ketuanya yang bernama Zahran Alloush tewas akibat serangan udara pada Jumat (25/2/2015).

Stasiun televisi ini juga melaporkan bus-bus yang akan membawa para pemberontak ke Raqqa, ibukota de fakto ISIS, sebenarnya telah dikerahkan. Namun, bus-bus telah yang sedianya akan mengangkut kelompok militan dan setidaknya 1.500 anggota keluarga mereka, telah diperintahkan untuk berbalik arah.

Kesepakatan ini merupakan kesepakatan pertama yang disetujui pihak berwenang Suriah dan ISIS.

Kesepakatan ini merupakan satu pertanda penting bahwa pemerintah Presiden Bashar al-Assad semakin kuat, dan menambah kemungkinan mereka mengambil alih kendali di wilayah strategis yang terletak sekitar empat kilometer dari ibukota Damaskus.

ISIS mengendalikan sejumlah permukiman di sebelah selatan Damaskus, termasuk kamp pengungsi Palestina Yarmouk. Kebencian masyarakat setempat terhadap kelompok jihadis yang telah menguasai sejumlah besar wilayah di Suriah dan Irak, terus bertambah.

“Kami sudah tidak suka dengan kehadiran mereka dan juga pertempuran yang terjadi, dan pengepungan yang menyebabkan banyak kesulitan,” kata Yousef, seorang penduduk pemukiman Hajar al Aswad.

Pengepungan selama bertahun-tahun di wilayah Damaskus yang dikuasi oleh sejumlah kelompok pemberontak, dan Jays al Islam adalah kelompok pemberontak terbesar, telah menghalangi arus pangan dan bantuan kemanusiaan. Akibatnya, banyak warga mati kelaparan dan kelompok hak asasi Amnesty International menyebut hal ini sebagai satu kejahatan perang.

PBB dan sejumlah pemerintah negara lain telah meningkatkan upaya menengahi gencatan senjata lokal dan jalur keluar yang pada akhirnya bertujuan mengakhiri perang saudara di Suriah.

Perang saudara di negara itu telah menewaskan 250 ribu orang dalam hampir lima tahun terakhir.

Pada 18 Desember, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat menyetujui satu resolusi yang mendukung satu peta jalan internasional menuju proses perdamaian Suriah.

Ini merupakan satu konsensus di antara negara-negara besar yang jarang sekali terjadi.

Berlawanan dengan kelompok pemberontak non-jihadis, ISIS menentang keras kesepakatan apapun dengan pemerintah Presiden Assad.

AP