Potensi Perang Satelit di Ruang Angkasa Terbuka Lebar

Potensi perang satelit di ruang angkasa akan mendekati kenyataan. Bahkan tidak menutup kemungkinan, versi konflik Hollywood yang ada di film Star Wars bukan hanya fiksi semata. Hal tersebut diungkapkan Analis militer Peter Singer dari New America Foundation kepada BBC.com (19/12). Di masa lalu, menurutnya, keseimbangan kemampuan senjata nuklir antara AS dan Uni Soviet membantu mencegah perang di ruang angkasa, khususnya dalam ‘memperebutkan’ satelit. Saat ini, kondisi dunia jauh lebih kompleks dari tahun 1950-an dan 60-an. Sekarang ada lebih dari 60 negara telah aktif dalam berbagai kegiatan di ruang angkasa, dan ada banyak kepentingan komersial besar yang terlibat di sana. Maka, perang yang melibatkan serangan pada satelit sekarang menjadi lebih mungkin terjadi.

Satelit merupakan infrastruktur dasar dalam komunikasi yang juga digunakan untuk mengarahkan dan menavigasi senjata, terutama senjata nuklir. Tidak hanya itu, satelit juga memainkan fungsi lebih penting untuk kita menjalani kehidupan, khususnya di dunia komunikasi dan informasi. Satelit membantu kita memberitahu waktu, menarik uang dari bank, menggunakan smartphone, melihat berita dan berkomunikasi serta penggunaan teknologi informasi lainnya.

Menurut Singer, perang ruang angkasa tidak akan terjadi seperti di dalam film Star Wars, yang melibatkan kerajaan intergalaksi atau dengan pesawat ruang angkasa yang beterbangan dari satu galaksi ke galaksi lain. Jika perang ruang angkasa ini terjadi, maka bagian yang akan menjadi sasaran adalah hal-hal yang sangat dasar bagi militer dan manusia di bumi lainnya, yaitu satelit.

Di militer, satelit digunakan untuk menargetkan senjata, atau menemukan hal-hal yang perlu ditargetkan. Satelit membentuk “sistem saraf” militer. Menurut Singer, satelit digunakan untuk 80% dari komunikasi militer, dan ini termasuk komunikasi pusat untuk pencegahan nuklir.

Satelit yang dirancang untuk mengamankan komunikasi ini, dan untuk mendeteksi kemungkinan serangan nuklir, berada di ketinggian orbit geostasioner di atas bumi yang sampai saat ini menjadi semacam tempat yang paling aman dari serangan apapun. Hasil percobaan Cina dengan rudal pada tahun 2013 memperlihatkan bahwa tempat tersebut mencapai sekitar 36,000 km di atas permukaan bumi.

Dalam pernyataan publik yang jarang terjadi awal tahun ini, Gen John Hyten dari US Space Command menyatakan peringatannya tentang implikasi dari eksperimen Cina tahun 2013. “Saya pikir mereka akan dapat mengancam setiap rezim orbital yang kita operasikan,” katanya kepada berita CBS. “Kita harus mencari cara untuk mempertahankan satelit. Dan kita akan melakukannya.”

“Sekarang ada musuh potensial, seperti Cina, yang bisa menyerang satelit atau menonaktifkannya sebagai bagian dari konflik konvensional, (karena) mereka tahu betul bahwa keamanan ruang angkasa adalah inti dari kemampuan militer AS.”

Serangan cyber pada satelit militer juga merupakan bentuk lain dari konflik dan perang ini. Analis militer Peter Singer mengatakan perang global di masa depan bisa meletus di ruang angkasa serta di bumi. “Ini bukan hanya perang antar negara-negara besar saja yang bisa bermain di dalamnya,” katanya. Ketika satelit menjadi semakin penting, pertama untuk mata-mata dan kemudian untuk penargetan serta navigasi senjata, ruang angkasa telah ditarik lebih ke dalam pemikiran militer, dan kemudian persaingan global.

Seperti disarankan oleh Singer, akan selalu ada ketegangan dan konflik dalam cara dunia mendekati ruang angkasa. “Ruang angkasa telah menjadi ranah yang setidaknya sejauh ini belum tersentuh oleh konflik. Tapi itu bukan jaminan untuk tidak terjadi di masa depan,” ujar Singer.

 

Sumber: BBC.com