Home » Militer Indonesia » Di Dove Sei, Chinook ?

Di Dove Sei, Chinook ?

Silang sengkarut mengenai batalnya pemesanan AW 101 rupanya belum surut juga semenjana dengan berita rencana pemesanan helikopter Chinook yang lagi-lagi diutarakan pejabat dari Boeing.  Tentu melihat rencana besar pelengkapan Kowilgabhan di rembang wilayah negara saat ini, doktrin serta pengejawantahannya memerlukan upaya nyata dalam pemenuhannya. Mencoba mengumpulkan berita-berita lama berguna untuk menunjukkan bagaimana kerangka pikir perumus tata kelola alutsista kita, khususnya pemutakhiran pemilikan helikopter TNI, ada beberapa hal yang saya asumsikan berlaku di sini.

Paparan mengenai Chinook :

Kutipan Dari Majalah Combat Aircraft Februari 2015

“US Army akan menggunakan CH47 F sejumlah  440 unit sampai tahun 2018. Sudah 300 CH47 F unit yang didistribusikan dari 2006 sampai Februari 2015

“Transisi penggunaan dari CH47 D ke CH47 F cukup sulit untuk pilot pemula. Di mana pada CH47 D manual terbang dalam bentuk petunjuk masih banyak digunakan sedangkan pada CH47 F instrumen digital display di kokpit menggantikan banyak tombol dan saklar , sistem digital display kokpit ini disebut Common Avionics Architecture Systems (CAAS). CAAS terdiri dari 5 display yang dapat disusun untuk menunjukkan hal-hal berbeda termasuk display peta pergerakan. Sebelumnya pada CH47 D ini berupa pad di pangkuan yang mengganggu saat pad itu memanas.”

Kokpit Chinook CH47 D

“Sejak dibuat dalam konsep pada tahun 1950 dan diproduksi pada tahun 1962 lebih dari 1200 unit Chinook dibangun  dari Boeing Philadelphia dan lini produksi ini masih sibuk sampai 2020. US Army ialah pengguna utama . Boeing sudah mendistribusikan 300 unit CH47 F dari 464 unit pesanan dari pengadaan 2 kontrak tahun berjangka, termasuk juga diantaranya bagi penjualan FMS.Juga kelanjutan pembangunan lewat lisensi Chinook Jepang oleh Kawasaki Heavy Industri dan  Italia lewat Agusta Westland.”

“Kedua dari Jepang, Inggris ialah pemakai setia Chinook mulai dari versi HC 1 pada tahun 1980 dengan armada yang akhirnya diperkembangkan serta pemutakhiran HC 2 standar yang merupakan identik dengan CH47 D. Chinook Inggris telah menerima beragam pemutakhiran serta peningkatan instrumen krusial sistem operasi.  Pada tahun 2008 RAF mengumumkan rencana pemutakhiran 38 standar HC 2 menjadi HC 4, 8 HC 3 menjadi HC 5 dan 14 CH47 F yang baru alias HC 6 yang keseluruhan dioperasikan 60 unit chinook pada tahun 2015.

Ekspor CH47 juga dibuat beragam negara, Australia,Kanada, Belanda, Turki, dan UEA. India setuju memesan 15 unit dan tambahan pembelian juga dilakukan Arab Saudi. Boeing merencanakan Chinook akan terus beroperasi hingga 2060 setidaknya dan belum merencanakan penggantinya.

Importer terbesar Chinnok ialah Jepang sebanyak 99 unit yang dipesan sejak 1984.  Darinya 94 unit dibuat secara lisensi oleh Kawasaki dari awal 2014.

Australia awalnya menggunakan 12 CH47 C lalu berjenjang meremanufaktur selanjutnya meremajakan standar ke CH47 D. Sekarang AD Australia  menukar  6 CH47 D ke 7 CH47 F.

Kanada setelah menggunakan 6 CH47 D dari surplus US Army di akhir 2008 kemudian membeli 15  CH47 F baru.

Mesir menggunakan CH47 C versi buatan Agusta Westland dan lewat kontrak FMS  pada tahun 1998 menambah 4 CH47 D langsung dari (surplus) US Army. Selanjutnya Boeing mendapat kontrak pemutakhiran 12 CH47 C ke standar CH47 D beserta tambahan baru 6 CH47 D.

Libya juga menggunakan 20 CH47 C sejak 1970 dari pabrikan Italia Elicotteri Meridionali(sekarang Agusta Westland) yang kemudian pada tahun 2003 dijual ke UEA.

UEA pada agustus 2008 membeli 4 CH47 F dan 6 lagi pada tahun 2013 yang rencana sebenarnya ialah 16 unit yang berarti akan ada pesanan  6 unit lagi CH47 F nantinya.

Maroko pada tahun 2009 mengajukan pembelian 3 CH47 D untuk melengkapi 12 CH47 C yang sudah ada. Bahkan pada tahun 2013 pengajuan rencana pembelian 3 CH47 D lagi dilakukan.

Korean selatan mengoperasikan 30 unit CH47 D.

Iran mengoperasikan 70 Chinook (mungkin versi C) sejak dari zaman Syah Iran.

Yunani menggunakan 9 CH47 C buatan Agusta yang kemudian ditingkatkan ke versi D. Selanjutnya pesanan 4 lagi dilakukan ke agusta pada tahun 1999.  Juga pemesanan ex-Us army 10 tipe D yang ditingkatkan lewat pemasangan pencurah Chaff dan pengecoh Flare.

Turki telah memesan 6 H47 F lewat program FMS serta mengakuisisi tipe C milik spanyol sejumlah  17 unit yang segera distandarkan ke tipe D.

Italia sebagai pemegang lisensi Agusta telah memiliki kemampuan pemutakhiran CH47 C ke tipe D dengan mesin baru Honeywell  T55-L-712E, bilah rotor komposit, sistem transmisi yang baru. Militer Italia sendiri memesan ICH47 F dari Agusta setelah mendapat lisensi nya dari Boeing pada Juli 2008.

Belanda  memiliki 7 CH 47 C dari Kanada yang kemudian merubahnya ke standar D. Penerimaan kedua sebanyak 6 unit. Sekarang pesanan sebanyak 11 unit tipe F dilakukan.”

Kutipan Dari Majalah Airforce Monthly Mei 2015

Kokpit Chinook CH47 F

“ Menhan Philip Dunne menyatakan pemerintah Inggris  akan melanjutkan investasi memajukan armada helikopter Inggris sampai 2025 dengan anggaran sampai 11 billion poundsterling.  Dan telah dimulai pemutakhirannya sampai  4 tahun di tahun 2015 sudah diinvestasikan 6 billion poundsterling”

6 dari 14 Chinook CH47 F yang dipesan sejak 2011 sudah dikirimkan. Juga pemutakhiran HC4 (upgrade dari HC 2) HC 5(upgrade dari HC 3) termasuk program peningkatan mesin dan kokpit (lewat proyek Julius) suite defensive aid (proyek Baker) dan system komunikasi (proyek Benic). RAF akan mengoperasikan 60 Chinook yang terdiri 38 HC4, 8 HC5 dan 14 HC6.”

“19 dari 30 dari Merlin HM2 dari program update senilai 780 million poundsterling  diantaranya peningkatan kokpit, konsol awak kru dan avionic. Penggunaan layar sentuh dan peningkatan kemampuan deteksi menjejak target serta pembagian data saat terbang bersama kendaraan lain.”

“Belanda memesan 17 CH47 F senilai 1,05 billion dollar termasuk spare mesin 12 unit . Ini menggantikan 11 CH47 D.”

US Army memesan 32 unit CH47 F  senilai 3,4 billion dollar.”

Chinook pendaratan air

Kutipan Dari Majalah Combat Aircraft Oktober 2015

“US Army telah mengirim 3 CH47 D lewat FMS senilai 78,9 million Dollar”.

Paparan mengenai Apache :

Kutipan Dari Majalah Combat Aircraft November 2014

“AH64 E (Echo) sebenarnya merupakan AH64 D block III yang mulai diperkenalkan sejak juli 2006 yang mulai dikirimkan sejak november 2011 . Pada oktober 2012 AH64 block III didesain ulang sebagai AH64 E. Total 634 AH64 D akan dirubah ke AH64 E selain sejumlah 56 baru yang menambahkan jumlah total 690 AH64 E. Seluruh pengiriman direncanakan selesai tahun fiskal 2027. Selain itu dari foreign military sale terdapat pesanan 30 dari Taiwan, 70 Saudi Arabia, 36 Korea Selatan, 8 Indonesia, diperkirakan 24 untuk Irak dan sejumlah agenda untuk India.”

AW64 D Apache

Kutipan Dari Laman IHS Jane Maret 2015

“Upaya Inggris untuk  mempertahankan kemampuan armada Heli serang Apache mengalami penundaan setelah adanya lobby dari Agusta Westland. Disebabkan ketertinggalan teknologi atas 66 unit Apachenya Dephan Inggris akan segera menggantikannya dengan pembelian AH 64E baru langsung dari Boeing.

Menurut BBC, Boeing menawarkan penjualan AH 64E seharga 20 million Poundsterling per unit (lewat kemudahan paket beserta pengadaan US Army ). Jika Apache tipe E tersebut diproduksi secara lisensi Agusta Westland maka harganya akan berlipat menjadi 44 million Poundsterling per unit.

Saat untuk memutuskan menjadi semakin kritikal bagi Dephan Inggris, diantaranya sudah ketidak adaan Chip processor bagi Apache seri awal itu dan antrian produksi yang baru akan tersedia pada 2017, Dephan Inggris mengkhawatirkan jeda waktu dari keadaan ini menimbulkan kesenjangan operasional saat armada AH 1 dipensiunkan sedang AH 64E baru diperkenalkan. Oleh sebab itu keputusan baru akan diambil pada maret 2016 yang itu berarti penggantian baru mungkin akan terjadi pada tahun 2020.

Dephan Inggris sendiri dalam program kemampuan kelangsungan (CSP) merencanakan bahwa Helikopter serang mendatang  sejumlah 50 unit sebagai opsinya meski enggan untuk memastikan tentang telaahnya. AH 64E sendiri menjadi pilihan yang terfavorit , sedangkan tender Heli lain dikesampingkan.

Upaya lobby Agusta Westland sendiri dipandang sebagai cara untuk menahbiskannya dalam pengembangan program Apache Inggris di masa mendatang, juga patut dicatat, meski keterlibatannya dalam pengadaan AH 1 mempermahal harga per unitnya namun patut diakui bahwa produknya lebih superior daripada apa yang dimiliki AS dan pengguna lain.

Baik sebagai pembuat airframe Apache di pabrikan Yeovil, di selatan Inggris, Agusta juga bertanggung jawab dalam peningkatan mesin asli General Electric T700 ke Rolls Royce RTM 322 yang lebih tangguh, peningkatan kemampuan tangkal balas/counter measure lewat Helicopter Integrated Defensive Aids System (HIDAS), sistem komunikasi khusus Inggris, Penyesuaian persenjataan baru, Integrasi tanki anti peluru, selain juga marinisasi airframe didalamnya termasuk pemasangan peralatan tambahan dan juga fitur operasi perairan lainnya.

Mesin baru tersebut juga menunjang kemampuan pada kondisi panas-dingin di afganistan saat penggelarannya, pula mast-mounted radar masih terpasang di mana pada Apache AS radar tersebut dilepas karena berat dan pembebanan daya mesin. Sedang pada operasi di Libya Apache AH 1 dioperasikan dari dek HMS Ocean dengan sedikit penyesuaian dilakukan sebelumnya.

Hal lain mengapa Agusta Westland terlibat dalam pengadaan awal Apache ialah sertifikasi Airframe dari Inggris. Ini merupakan alasan penting untuk syarat pengadaan berkaca pada kasus masalah Rivet sambunga pada RAF RC 135W yang didatangkan dari AS.

Paparan mengenai Merlin :

Kutipan Dari Laman Army-Technology.com

AW 101 ialah heli angkut kelas Merlin-Cormorant atau juga dikenal EH 101 dibuat oleh Agusta Westland (dahulu EH Industries) merupakan joint venture Agusta Italia dan perusahaan GKN Inggris (Westland) yang sekarang sepenuhnya dimiliki Finmeccanica Italia. Lebih dari 190 unit diproduksi.

Dari keseluruhan 22 AW 101 HC 3 yang telah dikirimkan ke RAF Inggris, awal mulai beroperasi ialah pada tahun 2001. Juga sejumlah 44 unit diserahkan ke Royal Navy Inggris. Agusta Westland dianugerahi kontrak 5 tahun pertama dari 25 tahun Integrated Merlin Operational Support (IMOS) pada tahun 2006 (berakhir pada 2031). Kontrak IMOS berikutnya senilai 570 million Poundsterling (903 million dollar) untuk periode 2011-2016. Italia sendiri memesan 20 AW 101 dengan opsi kelanjutan 4 unit lagi. 9 standar Merlin ASW, 1 unit menggunakan komunikasi L-3 HELRAS Active Dipping Sonar (sonar celup yang terkait ke helikopter),  4 unit dengan opsi tambahan 2 unit standar AEW, 4 unit standar heli utilitas dan,4 unit untuk standar misi pendukungan Amfibi ASH (amphibious support helicopters) telah dikirimkan antara juli 2000 sampai agustus 2009.

Pada Maret 2010 IAF India menanda tangani kontrak senilai 753 million dollar untuk sejumlah 12 unit Merlin.

Kanada memesan 15 AW 101 versi Merlin Cormorant untuk misi SAR yang mulai beroperasi tahun 2002. Denmark memesan 14 unit  untuk standar SAR dan pengiriman pasukan pada 2001 dengan penyerahan mulai tahun 2006.

Portugal memesan 12 unit standar SAR (search and rescue)  dan CSAR (combat SAR) di tahun 2002 dengan mulai penyerahan 2004 serta tuntas seluruhnya pada juli 2006.

AW 101 Merlin/Cormorant

Kawasaki menyerahkan helikopter lisensi Merlin AW 101 Jepang pada Maret 2007. Pada tahun 2003 Jepang memesan 14 AW 101 untuk standar helikopter perlengkapan misi  penyapu ranjau serta standar angkut survei antartika.

Pada tahun Juli 2002 Agusta Westland menandatangani kespakatan dengan Lockheed Martin untuk pemasaran bersama juga produksi versi komersil di Amerika, US 101. Pada Februari 2005 helikopter ini dipilih sebagai US Marine One.

Helikopter Merlin/Cormorant versi AL dapat dipersenjatai 2 misil anti Kapal, atau 4 torpedo beserta depth Charge. Stub Wings juga dapat dirancang untuk menggotong pod roket.

AW 101 juga dilengkapi infrared jammer NEMESIS, direct infrared countermeasure (cegah tangkal), pendeteksi serangan rudal, pelepas chaff dan flare,pendeteksi laser dan sistem peringatan. Untuk angkut, Merlin dapat membawa 30 pasukan duduk (MI 17 35 orang) atau 45 orang berdiri (untuk ukuran tentara Eropa) juga dapat diisi 16 tandu, dan lewat pintu belakang ramp door dapat dimuati kargo 3 ton. Kait angkut dapat membawa beban hela 6 ton. Mesin Merlin dapat menggunakan 3 General Electric CT 7-6 atau 3 Rolls Royce RTM 322 (yang sama dengan AH 1 Apache Inggris). Mesin General Electric digunakan Italia dan AS sedangkan Rolls Royce oleh Inggris, Kanada, Jepang, Denmark dan Portugal. Jangkauan tempuh helikopter dapat diperjauh karena penggunaan Hover in Flight Refuelling (HIFR). Dapat juga melakukan buddy to buddy refueling antar helikopter Merlin.

 

Kutipan Dari Laman AinOnline Januari 2014

“Biaya yang direncanakan Dephan Inggris untuk perbaruan 25 AW 101 Merlin HC3 ke HC4 ialah  330 Million Poundsterling. Menhan Phillip Hammond menyatakan hal tersebut saat mengunjungi pabrik Agusta di Yeovil. Dia juga menyatakan bahwa pabrikan tersebut memperoleh kontrak lanjutan 5 tahun untuk integrasi sistem operasional pada armada Apache AH1 sebesar 430 million Poundsterling.

Kutipan Dari Majalah  Combat Aircraft  Januari 2014

“ Inggris telah memesan 62 AW 159 Wild Cat.RAF telah mengoperasikan 38 Chinook HC 2 dan 8 HC 3 yang akan diupgrade lewat proyek Julius. Jumlahnya kelak akan beroperasi 70 unit Chinook. Isu pembelian Chinook juga berhadapan dengan isu saratnya pesanan di Boeing philadelphia yang memunculkan spekulasi bahwa produksi lisensi dimungkinkan jika jumlah signifikan akan diproduksi di Inggris. Rencana penambahan Chinook telah menyisihkan rencana jangka panjang 3,5 billion pengadaan 120 angkut medium untuk menggantikan 120 heli baru menggantikan Super Puma HC 2 dan Sea King HC 4 pada 2020.  Penambahan armada Merlin berarti RAF Merlin HC 3 akan diserahkan ke Commando Helicopter Force untuk menggantikan Sea King HC 4 berdampingan operasinya dengan Merlin HM 1. Itu juga berarti Inggris akan menyederhanakan tipe helinya menjadi Chinook, Merlin, Wild Cat dan Apache.Jadi RAF hanya akan mengoperasikan Chinook.”

Elbit D-NVG Helm

 “Upgrade keseluruhan Merlin HC 3 termasuk performa, tambahan proteksi. Juga termasuk upgrade helm Elbit Systems Display night Vision Googles (D-NVG). Helm ini memungkinkan pilot tidak perlu melihat kokpit karena NVG tube memproyeksikan tampilan digital pada gelas helm.  Pilot harus sudah terbiasa terbang dengan NVG kemudian mempelajari simbologi D-NVG.”

Elbit D-NVG Helm

Kutipan Dari Laman Military-Factory.com

Angkatan Udara Indonesia telah memesan kuantitatif 12 unit air frame Merlin.

Rangkuman

Setelah mencermati beberapa petunjuk di atas maka ada asumsi yang dapat dibuat mungkin sumir tapi tidak dapat begitu saja dinafikan. Pemesanan sebuah alutsista selain membahas rincian produk, tenor pembayarannya, juga mengikuti agenda lini produksi. Dari hal ini dapat Kita tarik simpulan meski Boeing menyatakan penawaran untuk apache dan chinook bagi Indonesia, nyata bahwa lini produksi mereka membuat kita menunggu dengan waktu yang pasti akan menggeser prioritas MEF jika itu kita lakukan.

Tidak dapat ditutupi bahwa beberapa produk lisensi mampu memberikan pilihan yang berarti kalau tidak bisa dikatakan mengimbangi produk asli, selain menawarkan kesesuaian piranti serta kelengkapan pengguna, pengembangan dalam prosesnya memberikan peluang pihak pemesan mendapat keuntungan komersil lain.

Lesunya pasar tersegmentasi, serta persaingan teknologi yang ketat telah menyebabkan pergeseran teknologi mengikuti hukum pasar, kompromi merupakan jalan terbaik sembari tidak melepaskan kaidah manfaat dan keuntungan.

Oleh karena itu dapat ditarik simpulan, menurut saya, bahwa pesanan baik Apache mau pun Chinook Indonesia tidak akan dikerjakan oleh lini Boeing. Selain tenggat waktu lini produksi yang tidak bersesuai, ada pihak lain, yakni Finmeccanica, atau sebut Agusta Westland yang akan sanngup mengerjakannya. Agusta sudah terbukti mampu membuat AW 64 D atau AH-1 Apache yang mampu dioperasikan dari kapal tempur juga di daerah gurun dengan ambang batas kerja maksimal. Itu juga bersesuaian dengan rencana TNI yang akan menempatkan Apache di Natuna.  Daya tawar penundaan penggantian AW 64 D ke standar AH 64 E merupakan kejelasan bahwa pemerintah Inggris selain melindungi produksi salah satu pabrikan juga karena baiknya performa produk Apache Inggris yang hingga kini masih mampu mengoperasikan 66 unit miliknya. Selain itu opsi integrasi piranti atau persenjataan tetap terbuka selama Agusta turut terlibat di dalamnya.

Agusta juga mampu membuat dari jenjang air frame untuk CH47 D dari sebelumnya tipe C serta mampu berproduksi dalam jumlah maksimal di kurun waktu yang relatif. Agusta juga mampu menjalankan jenjang peningkatan kemampuan chinook dan itu telah dilaksanakan di inggris.

Akhirnya, seperti dilontarkan Military-Factory.com bahwa Indonesia juga memesan Merlin dari Agusta semakin jelas bahwa paket pengadaan keluarga heli Finmeccanica membawa persaingan baru setelah sebelumnya, Finmeccanica yang mengakuisisi Agusta Westland berusaha diakuisisi juga oleh Boeing!! Pengadaan Merlin yang disuarakan Kasau sebenarnya jika dicermati tidak pada semata kasus Presiden Satu Merlin VVIP, melainkan karena penggelaran dengan Merlin memberikan pilihan lain. Kenapa dikatakan pilihan lain? Karena fungsi-fungsi Puma yang sudah operasional 25 tahun lebih itu tidak dapat melakukan beberapa hal. Dahulu rencana pelengkapan super puma dengan torpedo berakhir dengan keraguan penurunan performa. Lain hal TNI AU memerlukan helikopter yang membawa lebih beban, dapat dioperasikan di medan ekstrem dan menjalankan misi pengangkutan unit organik yang essensial. Membawa beban 6 ton, mampu beroperasi di Antartika (di daerah Puncak Jaya Wijaya pasti juga bisa!) serta mampu menjalankan misi ASW,AEW,SAR,CSAR, Mine Swiper tentu berguna bukan saja bagi TNI AU, melainkan TNI AL. Apakah nanti mencakup Basarnas juga,atau agar tidak mencolok sebaiknya digunakan Bakamla saja yang tiba-tiba mendapat konsentrasi anggaran yang “wah”?. Proses yang akan menjawabnya. Hanya saja jelas bahwa pemesan Merlin benar-benar diperlukan TNI AU untuk mengkoordinasi daerah satelit atau sebut saja kepulauan disekitar Lanud dan Satrad. Nilai plusnya juga, jika pesanan Merlin dan Apache tersebut dari Agusta Westland, mesin dua helikopter itu dapat dipertukarkan. Sesuatu yang tidak akan terjadi bila itu lansiran produk Apache terhadap Chinook. Oh ya! Jepang yang hanya memesan 14 saja bisa dapat lisensi lho?..

Salam Tabik. Salam buat Bung Nuncaku semoga jadi bacaan menarik.

 

Oleh : Blaze