Rupiah Berjaya Rp 12.984 / Dolar AS

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penguatan, bahkan data Bloomberg 7/3/2016, kurs sempat menyentuh level 12.984 /dolar AS.

Sayangnya, penguatan rupiah dinilai lebih banyak dimotori faktor eksternal.

“Secara umum penguatan rupiah lebih disebabkan faktor eksternal, khususnya perkembangan ekonomi terbesar dunia, Amerika dan terbesar kedua, China,” ujar ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dzulfian Syafrian, Senin (7/3/2016).

Akhir pekan lalu pemerintah China mengeluarkan pernyataan akan melakukan reformasi ekonomi, khususnya pada sejumlah BUMN dan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan. Pemerintah China juga mewacanakan adanya kepemilikan gabungan (mixed ownership) atau privatisasi atas sejumlah BUMN.

Hal ini menjadi kabar sangat menggembirakan bagi para investor, mengingat China memiliki sekitar 150.000 BUMN dengan total aset sekitar 15 triliun dolar AS dan menggunakan lebih dari 30 juta pekerja.

Pemerintah China juga menampik kabar bahwa perekonomiannya akan mengalami hard landing, akibat perubahan struktur perekonomian yang awalnya berbasis ekspor dan investasi menjadi berbasis konsumsi domestik.

Pemerintah China juga memasang target pertumbuhan ekonomi 2016 di kisaran 6,5 persen hingga 7 persen, dan tidak akan pernah lebih rendah dari 6,5 persen dalam lima tahun ke depan.

Angka ini memberikan kepercayaan diri pasar mengingat tren pertumbuhan ekonomi China yang terus menurun, bahkan tahun lalu menyentuh titik terendah dalam 25 tahun terakhir, yaitu hanya sebesar 6,9 persen.

Kabar gembira dari China itu diharapkan berdampak pada naiknya harga-harga komoditas. Jika harga komoditas kembali bangkit, ekspor Indonesia lambat laun akan pulih, mengingat sebagian besar ekspor Indonesia bergantung pada komoditas dengan China adalah salah satu pasar utama.

Adapun kondisi negeri Amerika Serikat yang memengaruhi kurs adalah pemulihan ekonomi AS di mana dolar menguat cukup signifikan terhadap hampir semua mata uang. Pekan lalu pemerintah AS merilis penambahan tenaga kerja baru sekitar 242.000 selama bulan Februari 2016.

Angka pengangguran dilaporkan berkisar 4,9 persen, terendah sejak krisis finansial global 2008.

“Karena mempertimbangkan keseimbangan global yang memberikan ruang kepada negara-negara emerging market, dan juga pemulihan ekonomi AS, membuat the Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada bulan ini,” jelas Dzulfian.

Perpaduan antara optimisme perekonomian China dan angin segar dari AS inilah yang menjadikan rupiah menguat, bahkan sampai Rp 12.984 per dollar AS pada hari Senin, 7/3/2016.

Hanya saja, penguatan ini bisa bersifat sementara, tergantung perkembangan perekonomian China, AS, dan dunia ke depannya. Fenomena ini menunjukkan, rupiah sangat rentan terhadap goncangan eksternal.

Kompas.com

Sharing

Tinggalkan komentar