China Pamerkan Teknik Kontra Spionase

Pemerintah Provinsi Guangdong Cina Selatan telah memamerkan serangkaian kasus spionase yang melibatkan dinas rahasia luar negeri.

Pameran yang diselenggarakan Rabu lalu menunjukkan seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi cyber, internet telah menjadi alat utama bagi mata-mata dari luar negeri untuk mengumpulkan data intelijen dan menghasut pembelotan, lapor kantor berita China, Sina Senin.

Dengan memposting iklan rekrutmen online dan menawarkan imbalan tinggi, agen ini telah menghasut beberapa orang China untuk mengkhianati negara mereka, ungkap berita harian Sina.

Foto hanya ilustrasi
Foto hanya ilustrasi

Menurut laporan sebelumnya, otoritas keamanan Provinsi Jiangsu, Tiongkok timur menggagalkan tiga kasus spionase pada Mei 2015, di mana dua tersangka ditahan, keduanya hanya berijazah SMP dan direkrut saat mencari pekerjaan online.

PLA Daily, melaporkan pada bulan April bahwa selain dari mantan prajurit dan orang-orang dengan minat dalam masalah-masalah militer, mahasiswa luar negeri, anggota staff universitas dan mahasiswa serta pegawai pemerintah dan peneliti, mereka adalah orang yang paling mungkin direkrut oleh lembaga dari luar negeri. Para ahli mengatakan para netizens mungkin tidak menyadari mereka telah membocorkan rahasia negara ketika mereka dibayar “hanya untuk mengambil beberapa foto.”

Untuk mencegah warga China melakukan kegiatan spionase, otoritas keamanan Jilin dan provinsi Hainan meluncurkan hotline kontra spionase pada tahun 2015, di mana warga dan organisasi dapat melaporkan dugaan spionase.

Hotline menargetkan organisasi-organisasi asing dan individu yang melakukan kegiatan spionase atau menghasut dan mensponsori orang lain untuk melakukannya. Mereka akan dihukum, baik itu organisasi domestik atau perorangan yang memata-matai negara atas nama organisasi asing.

DefenseWorld

Sharing

Tinggalkan komentar