Perkembangan dan Kendala Program Prioritas Industri Pertahanan

61
21

rudal

Jakarta – Tujuh kelompok alat perlengkapan untuk pertahanan dan keamanan (alapalhankam) menjadi prioritas dalam pengembangan industri pertahanan dalam negeri. Dan kini, Indonesia telah memiliki beragam produk, dari roket hingga kapal selam.

Tujuh kelompok alapalhankam ini menjadi fokus pengembangan industri pertahanan dalam negeri karena dinilai punya peran signifikan sebagai proyek jangka panjang. Indonesia pun membeli dari luar negeri dengan sistem offset.

Offset merupakan sistem pembelian barang (pesawat terbang dan sebagainya) yang mewajibkan pabrik penghasil sebagai penjual untuk memberikan lisensi pembuatan sebagian komponennya pada industri di negara pembeli. Sistem ini dimanfaatkan untuk mengembangkan industri pertahanan dalam negeri.

“Kalau kapal selam sudah berjalan, medium tank tahun depan sudah selesai prototype-nya,” ujar Ketua Bidang Alih Teknologi dan Offset Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Laksamana Muda Purn Rachmad Lubis di Kementerian Pertahanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, (10/11/2016).

Tujuh program prioritas itu terdiri dari : roket, radar, rudal, propelan, kapal selam, medium tank, dan pesawat tempur. Beberapa industri pertahanan dalam negeri telah mampu memproduksinya, meski masih diperlukan pengembangan dan penyempurnaan.

Rachmad mencontohkan roket yang diproduksi Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang). Roket itu sudah bisa diterbangkan, meski masih mengalami beberapa masalah teknis.

Berjuang Membuat Rudal

Pemerintah masih berusaha memperbaiki industri pertahanan dengan sistem offset. Tiongkok, kata Rachmad Lubis, telah menjanjikan memberikan ilmu pembuatan rudal secara cuma-cuma, asal Indonesia membeli 150 rudal buatan mereka.

Namun, keterbatasan anggaran menjadi penghalang mengambil kesempatan yang ditawarkan Tiongkok. Indonesia, hanya mampu membeli 5 rudal dalam satu rencana strategis (renstra).

“Berarti butuh 30 renstra, kalau kita beli teknologinya itu USD 250 juta, duit dari mana?” kata dia.

Tapi, pemerintah tidak patah arang. Pemerintah mengakali dengan belajar sedikit-sedikit dari proyek pembelian dan pembangunan rudal.

“Di project ini kita titipkan avioninknya, di project itu kita belajar peledaknya, turbonya seperti apa, begitu,” tutupnya.

Sumber : Metrotvnews.com

61 KOMENTAR

  1. Sudah menjadi kewajiban bagi negara sebesar indonesia untuk mandiri dibidang pertahanan agar lebih bebas dalam menjalankan politik dalam dan luar negri tanpa harus pobia embargo oleh negra-negara songong yang lebih mementingkan HAM dari pada negara itu sendiri

  2. Alutsista berubah jadi alpalhankam,, saking bencinya sama rejim sebelumnya,, sampe” istilah pun diganti oleh rejim sekarang,, kenapa penyakit penguasa Indonesia masih mewabah ya,, setiap penguasa baru malu meneruskan program penguasa lama,,

  3. Kl ingin murah, mk bongkar & preteli rudal yg kita punya.

    Lalu suruh tukang cor utk meniru slongsongnya.
    Ahli elektro utk meniru pemandunya, dll.

    Masing2 hrs dikerjakan oleh ahlinya langsung.
    Dulu mesin rusnas jg awalnya yg bikin bloknya tukang cor Tegal
    .

    Jgn diserahkan ke lembaga, kebanyakan birokrasi & teori.

    Pdhal yg penting kan rudal bs meluncur & mengenai sasaran sprt yg kita inginkan.

    Kl cm pelajari teorinya, mk smp kapanpun ga bs bikin rudal.

    Bentuklah tim kecil.

    • betul juga tu bung, setuju buat tim kecil biasanya malah taktis mereka kerjanya dan berhasil guna dari pada masuk ke lembaga….aduuh jadi repot…terlalu banyak orang pinter jadi malah gak kerja kerja gak ada hasil, tim kecil tapi ahli dibidangnya tapi didanain dan didukung sama pemerintah yakin dah dalam waktu tidak lama kita bisa buat, contoh cina asal main jiplak saja tapi ada hasil…prinsip mereka …emang gua pikirin penting gua bisa dan punya

  4. Anak saya yg masih tk saya latih berhitung.

    Cintia ada berapa jmlh pesawat sukoi
    5 pah
    Loh kok lima cintia belianya kmrin kan tidak segitu
    Iya ada 5 pah kan kata papa yg lain rusak berat karena habis buru pesawat baling baling

    Kah kah kah… Cintia benul ayah yg lupa

  5. mkx kalau nggak ada duit pemerintah mendukung perusahaan Swasta alutsista lokal, lihat sj korsel membeli sebagian besar alutsista dari KIA, Samsung, LG, Daewo dll, maaf berbanding dengan kta byk yg mengandalkan BUMN (PAL, Pindad & DI dll) yg kemampuan danax terbatas

      • gak apa bung saat ini masa emas kalau gak mau disebut masa kritis negara kita harus perbaiki dulu infrastruktur supaya pergerakan ekonomi bisa lebih cepat dan berdaya saing dan daya jual tinggi, harapan kita ekonomi kita jadi baik dan makmur, saat ini biaya logistik negara luas ini termahal di planet ini karena sangat kurangnya infrastruktur jalan utamanya…

  6. Sebenarnya tidak mahal untuk teknologi seperti itu..soalnya kita posisi melompat..hanya saja teknologi yg lainnya mendukung belom?..bahan bakar roket/rudal..komponen rudal/roket..sudah menguasai belom..memang kalo serta Merta memang berat…karena posisi kita mengejar ketinggalan..3R ..roket..radar rudal…

    • Kalo radar Dr Ukraine mantaaf banget bung…teknologinya bagus sana..dan tidak ecek2..iya mungkin rudal2nya harus dioprek dikit dari ilmuwan sana..karena setahu saya mereka bisa bikin S300 sendiri..iya bung @weelleh terima kasih pencerahannya kalo masalah2 detail kayak gini..ane masih oon…soalnya

  7. Ilmu itu mahal,sdg ilmuwan yg membuat jg ga mau hasil karyanya dijiplak atau dibeli dg harga yg murah buat diproduksi di tempat lain.
    Rusia guru dari cina dan india,hingga 2 negara tsb bisa mandiri alutsista,bahkan salah satunya sering kita sebut produk KW2,kalao kita belajar ke salah satu muridnya bisa jadi produk yg kita hasilkan jadinya KW3,kenapa ga lgs ke gurunya sekalian. Rusia pelit teknologi??? Kenapa india,cina,bahkan vietnam mulai jg bisa? Apakah india sekutu rusia? Jadi siapa yg pelit? Anoa,badak,atau senapan serbu SS,dibeli beberapa biji kira2 kita sendiri mau ta kasih TOT??? Kalo mau ya keterlaluan,baik yg beli maupun yg jual.
    Kalo kita bisa dapat 2 teknologi baik dari timur dan barat (asal gak memandang sebelah mata pihak satunya hanya krn kebiasaan) bisa jadi kalo kita mengkombinasikan hasilnya jauh lebih bagus.

  8. kalo budget nya bisa beli rudal 5 biji per tahun, lebih baik satu tahun libur beli rudal … bila satu rudal @ 1 jt dollar … maka ada dana 5 jt yg lebih baik dipakai modal develop utk rocket/rudal buatan anak bangsa.
    dg duit 5 jt, kita musti yakin menghasilkan product yg hebat.
    percaya lah … ada modal ada hasil buatan sendiri.

  9. Menurut saya sangat murah hanya harus beli 150 unit rudal C705 ,bandingkan dengan Vietnam harus beli 1000 rudal untuk dapat TOT dari Rusia sehingga Vietnam adalah satu satunya negara ASEAN yang punya kemampuan bikin rudal anti kapal setara YAKHONT .Makanya kemampuan bikin rudal harus di utamakan ,kalau perlu alihkan seluruh dana untuk mengembangkan tehologi rendah seperti kendaraan darat ,seperti kendaraan angkut personel dan lainnya . Fokus ke rudal karena tanpa rudal kapal perang/pespur/ks tidak akan berguna. Tiru IRAN,KORUT mereka ditakuti karena rudalnya bukan karena pespur atau kapal perangnya.

    • Waah kalo perbandingannya memang benar seperti murah banget lho bung…soalnya dikita sekarang kalo bisa membuat rudal 150-220 km sudah termasuk istimewa sekali..kalo setara yakhnot mungkin sementara kita bisa beli…tp perawatannya pasti kita menguasai..jika kita bisa membuat rudal jarak 150-220 km…menurut saya ini bung..atau ada faktor Laen ya..yg untuk melambatkan kita menguasai teknologi rudal tersebut..ini rudal sangat strategis..kita negara kepulauan..jika pantai2 dan kapal2 kecil kita dipersenjatai ini..kayak ladang ranjau jika musuh melihat kita..mau dihajar pakai Dongfeng juga..hanya daerah tertentu yg kena..daerah2 Laen masih bisa aktif katakanlah kena juga tidak gampang karena kita mempunyai mempunyai rudal anti udara yg banyak..JIKA BISA BUAT SENDIRI…

  10. 1. Ini jenis rudal apa yang dimaksud cuma bisa beli 5 ? Apa cuma rudal C705 saja ?
    Katanya C705 harganya 20 milyar rupiah per unit. Kalau cuma beli 5 unit berarti 20 milyar x 5 = 100 milyar rupiah. Mosok sih beli rudal cuma 100 milyar rupiah aja mampunya ?

    2. Maksudnya cuma 5 itu apa ? 5 unitkah ? 5 jeniskah ? 5 ratuskah ? 5 batalyonkah ? 5 containerkah ? 5 kapalkah ? 5 pabrikkah ? 5 divisikah ?

    3. Lha itu kata BAPPENAS ada pinjaman luar negeri untuk beli rudal jarak sedang USD 220 juta untuk TNI AU dan USD 200 juta untuk rudal TNI AD ? Ada pinjaman luar negeri artinya ada uang muka dan ada jaminan. Contoh : mau beli motor kredit, pasti ada uang mukanya dan ada barang yg dijaminkan ke lembaga penjamin kredit yaitu bpkb motor itu ditahan pihak penjamin kredit sampai motor itu lunas.

    Omongan ambigu kayak gitu kok ditelan mentah-mentah…kloloden nanti sampeyan.

  11. kalo budget nya bisa beli rudal 5 biji per tahun, lebih baik satu tahun libur beli rudal … bila satu rudal @ 1 jt dollar … maka ada dana 5 jt yg lebih baik dipakai modal develop utk rocket/rudal buatan anak bangsa.
    dg duit 5 jt, kita musti yakin menghasilkan product yg hebat.
    percaya lah … ada modal ada hasil buatan sendiri.