Home » Militer Indonesia » Operation Torch, “D-Day” Pertama Sekutu yang GAGAL

Operation Torch, “D-Day” Pertama Sekutu yang GAGAL

Operation Torch D-Day

Sebagai antusias militer sudah pasti anda tahu tentang pertempuran hebat 6 Juni 1944 di Normandia Perancis,atau lebih dikenal dengan “D-Day operation OVERLORD”.  Hollywood tidak habis-habisnya mengangkat tema ini sebagai simbol Kedigdayaan Amerika dalam memimpin Sekutu.

Tapi tahukah anda ada sebuah pertempuran Besar yang tidak pernah disebut-sebut oleh Hollywood, bahkan publik & Militer Amerika sendiri cenderung menganggap “Drama Pertempuran” ini sebagai AIB / sejarah kelam yang ingin dilupakan. Pertempuran itu adalah Operation TORCH atau D-Day Pertama yang Gagal!

8 November 1942 Operation Torch di inisialisasi di afrika utara dengan maksud untuk menjepit posisi Afrikan Korps pimpinan Field Marschall Erwin Rommel yang sedang menghadapi gempuran gencar Pasukan inggris Jendral Montgomery yang “Digdaya” (secara Jumlah dan perlengkapan). diatas kertas pasukan ini bisa dengan mudah mengalahkan sisa-sisa kekuatan Pasukan Rommel yang sudah sangat kelelahan melewati pertempuran demi pertempuran tanpa pasokan Supply & Reinforcement yang memadai (Battle of el-alamien, Tobruk, Sidi Barani dll) namun MORAL pasukan Montgomery amattlah rendah.

Pendaratan Amfibi amerika tanpa perlawanan

Militer Amerika yang saat itu masih menduduki peringkat 14 dunia merasa Sangat percaya diri dengan keberhasilan pendaratan amfibi terbesar di Maroko, Aljazair & Tunisia. satu hal kecil namun fatal, karena sebetulnya pasukan yang mereka hadapi pada saat pendaratan bukanlah pasukan inti wehrmact melainkan pasukan vichy prancis yang walau pun dilengkapi125.000 pasukan, 210 Tank, 500 Pesawat Tempur , 10 Kapal Battleship dan 11 Kapal Selam namun memang bertempur setengah hati.

Kemajuan pasukan sekutu pun amat cepat seolah tidak ada yang bisa menghalangi. Hal ini Ramai diberitakan Media-Media Barat sebagai “kemenangan” Militer Amerika. namun tanpa sadar mereka telah masuk jebakan skenario “sang rubah gurun” Rommel yang memang sudah mencium operasi besar ini jauh2 hari. dengan instuisi yang luarbiasa dan kecerdikan militer yang Luarbiasa jenius, Field marschall Erwin Rommel mampu memanfaatkan sumberdaya yang tersisa untuk membalikan keadaan.

Keterbatasan pasukan Rommel tidak memungkinkan untuk meladeni pendaratan amfibi Amerika di Tunisia & Aljazair, namun dengan cerdik ia mengkonsentrasikan serangan pada titik persimpangan strategis.  ia memutuskan untuk memotong pergerakan pasukan sekutu di Kasserine Pass. dengan menyebar meriam 88mm yang terkenal itu dan sisa-sisa Tank yang ada dari 5th Panzer Army.

Pemandangan Kasserine Pass

Memanfaatkan higher ground dan posisi cross fire yang Brilliant, begitu serangan dimulai  Rommel berhasil menciptakan Kebingungan, Miskomunikasi, Perasaan Inferior pada pasukan Amerika yang seolah-olah mereka ditembaki dari berbagai penjuru. tidak sedikit pula korban jatuh di pasukan Amerika akibat “Friendly Fire” atau tembakan sesama jenis :)

WarJager, Inilah Moral Cerita yang bisa kita ambil hikmahnya, Pasukan Militer seringkali dijangkiti oleh “Victory Decease” yaitu merasa digdaya karena telah memperoleh beberapa kemenangan sehingga cenderung meremehkan Lawan. bukan berharap akan datangnya Perang, tapi Bung Karno bilang “Jasmerah.. Jasmerah..!” jangan melupakan sejarah! Jangan karena kita negara terbesar di asia tenggara lalu lantas merasa jaguh & over confidence menganggap enteng kekuatan tetangga. kita memang bangga dengan TNI, tapi bukan alasan jadi overacting. wong TNI-nya sendiri Low Profile kok..  itu hal yang patut disyukuri.

Kehancuran divisi mobile US Army

Kembali ke cerita..

Pasukan Amerika yang berada di bawah dukungan penuh dari matra darat, laut & udara yang sangat kuat namun lemah dalam moral & organisasi tempur, kalah oleh pasukan jerman yang sedikit namun kuat dalam moral, organisasi tempur dan kenyang pengalaman. dalam 10 hari pertempuran yang melelahkan, pasukan Amerika dipaksa mundur 80km, kehilangan 183 tank tercanggih mereka, dan 7.000 orang korban termasuk 3.000 orang yang hilang. inilah kali pertama mereka merasakan kemampuan sesungguhnya dari Afrika korps (yang sudah sangat pincang karena serba kekurangan).

*makanya bohong tuh di film2 Hollywood tentara jerman cacad banget. klo cacad kok bisa menguasai eropa? klo cacad kok mesti dikeroyok?

“It was murder. They rolled right into the muzzles of the concealed eighty-eights and all I could do was stand by and watch tank after tank blown to bits or burst into flames or just stop, wrecked. Those in the rear tried to turn back but the eighty-eights seemed to be everywhere.”

—?Westrate, 1944
Tunisia1942-1943

Di sinilah pasukan jendral US Army Omar Bradley mendapat pelajaran berharga dari sang maestro strategi, sampai2 menjelang kematian beliau tahun 1981 jend. Omar Bradley masih belum bisa melupakan moment tersebut

“it pains me to reflect on that disaster. It was probably the worst performance of U.S. Army troops in their whole proud history.” 

Operation TORCH menjadi bahan Pelajaran yang sangat berharga bagi Eisenhower dalam mempersiapkan D-Day Normandy. juga menjadi dasar strategi jenderal jepang di Iwo Jima. saya yakin pelajaran Mahal ini masuk kurikulum wajib bagi seluruh akademi militer diseluruh dunia.

*asal jangan berharap bakal jadi film, takutnya WarJager kecewa

Beberapa saat setelah itu, General Field marschall Erwin Rommel ditarik untuk mempertahankan Prancis, ia lalu membangun Pertahanan yang terkenal dengan sebutan “Atlantic Wall”. namun sayang, Beliau dicurigai terlibat dalam usaha pembunuhan Hitler di Command Bunker Wolf’s Lair (dikenal dengan operation Valkyrie). Awalnya Kekuasaan Rommel “dikebiri”, lalu dipanggil pulang dan diberi pilihan; “ditembak mati atau minum racun!”

Tawanan Amerika oleh Jerman

Rommel yang Prajurit Professional memilih minum racun demi melindungi keluarganya dan ironisnya ia diberikan Kehormatan Pemakaman Militer Besar sebagai Pahlawan di Jerman (itulah pulitik gan, ane ga suka pupulitikan). Bahkan militer Inggris pun turut mengheningkan cipta menghormati kepergian Rommel (ini juga Pulitik gan, untuk membangkitkan Moral Pasukan yang akan berangkat ke garis depan Normandy).

Saya yakin para petinggi militer dinegeri ini adalah Prajurit Professional! tidak ikut2an pulitik. tidak tercemar kepentingan pulitik ketika memilih Tank Leopard sebagai garda daratan dan saat mendatangkan 6 skuadron SU35s sebagai garda angkasa (ngarep xixixi..)

Trims to berbagai sumber

oleh : Babalizm