AgoraVox : Ancaman Nyata Sesungguhnya AS, Bukan Rusia

Washington telah menginvestasikan uang jauh lebih banyak di sektor pertahanan daripada Rusia. Namun demikian, para pejabat NATO masih terus berusaha memproyeksikan Moskow sebagai ancaman potensial terhadap AS dan Eropa. Demikian ditulis portal berita Prancis AgoraVox, yang dikutip media Rusia Sputnik.

“Segala tuduhan yang menyebut Rusia sebagai ancaman bagi negara-negara lain sesungguhnya sangat membingungkan,” tulis AgoraVox. “Statistik menunjukkan, jika ancaman itu memang ada, ancaman itu seharusnya berasal dari AS.”

Pada tahun 2014, Rusia menghabiskan 4,5 persen PDB untuk sektor pertahanan. Sementara, data yang dirilis Bank Dunia, belanja militer AS turun sebesar 3,5 persen dari PDB. Data ini mungkin dianggap sesuatu yang mengkhawatirkan bagi sebagian pihak, tapi faktanya, angka yang sebenarnya menunjukkan perbedaan sangat signifikan. Pada tahun 2014, PDB Amerika 17,42 triliun dolar AS, sedangkanya PDB Rusia hanya 1,861 triliun dolar AS. Jumlah yang sangat jauh jika dibandingkan.

Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), pada tahun 2014, pengeluaran militer global mencapai 1,776 triliun dolar AS. Negara-negara di posisi teratas dalam pengeluaran militer terbesar antara lain AS (610 miliar dolar AS), diikuti Uni Eropa, dan Tiongkok. Adapun Rusia total pengeluaran militer hanya 84,5 miliar dolar AS, bahkan sama sekali tidak masuk daftar tiga besar peringkat tersebut.

“Selain itu, banyak perusahaan di AS, terutama perusahaan teknologi tinggi, yang diam-diam bekerja untuk industri pertahanan,” tulis AgoraVox. “Militer AS dan sektor industri membentuk dasar perekonomian Amerika.”

AgoraVox menyatakan retorika anti-Rusia berfungsi mengalihkan perhatian dunia dari “pelenturan otot-otot” NATO di Eropa (perluasan NATO ke Eropa Timur), dengan terus menurus menuding Rusia bertindak “agresif” demi membenarkan ekspansi militer aliansi ke dalam lingkup kepentingan tradisional Rusia.

“Eropa — yang dikendalikan oleh AS — difokuskan pada perang, bukan perdamaian,” tulis AgoraVox.

Indonesia.rbth.com