Komandan NATO Berniat Kirim Pesawat Mata-Mata ke Rusia

Komandan Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang juga Kepala Pasukan Amerika Serikat di Eropa, Jenderal Philip Breedlove, menyampaikan bahwa pesawat mata-mata U-2 harus kembali ke Eropa untuk mengawasi kebangkitan Rusia dan ulah agresif negara yang dipimpin Presiden Vladimir Putin itu. Menurutnya, Rusia menimbulkan ancaman jangka panjang bagi Amerika Serikat.

Pesawat jet mata-mata U-2 memiliki sensor yang mampu melihat ranjau darat dari ketinggian 13 mil dan bisa menyadap data komunikasi dalam jumlah besar. Pesawat mata-mata itu dianggap efektif untuk memantau gerakan tiba-tiba pasukan Rusia di kawasan perbatasan Baltik dan Ukraina.

Boeing RC-135V Rivet Joint (Boeing 739-445B) (64-14844 / OF), c/n: 18784/2305, 38th Reconnaissance Squadron (38 RS), 55th Wing (55 WG), United States Air Force (USAF), Offutt AFB, NE, USA.
Boeing RC-135V Rivet Joint (Boeing 739-445B) (64-14844 / OF), c/n: 18784/2305, 38th Reconnaissance Squadron (38 RS), 55th Wing (55 WG), United States Air Force (USAF), Offutt AFB, NE, USA.

Jenderal Breedlove menjelaskan bahwa pesawat U-2 bersama pesawat mata-mata lain yang dikenal sebagai RC-135 diperlukan untuk meningkatkan kemampuan intelijen Komando Eropa-Amerika (Eucom). ”Eucom membutuhkan platform tambahan pengumpulan intelijen, seperti U-2 atau RC-135, untuk membantu kebutuhan koleksi,” kata Jenderal Breedlove.

Namun, jika pesawat jet mata-mata U-2 benar-benar diterbangkan, hal itu bisa berisiko memicu kemarahan Rusia. Seperti yang terjadi pada tahun 1960, satu pesawat jet U-2 ditembak jatuh saat menjalankan misi mata-mata di wilayah udara Rusia. Pilot CIA yang mengoperasikan pesawat itu, Gary Powers, disekap selama dua tahun oleh Moskow. Penangkapan pilot CIA itu merusak pertemuan puncak perdamaian besar serta menyebabkan penarikan undangan untuk Presiden Dwight Eisenhower untuk mengunjungi Moskow.

Sindonews.com

Sharing

Tinggalkan komentar